Oleh Udo Z Karzi
CERPEN āPengarang Tuaā karya Maspril Aries, yang pernah dimuat di Minggu Merdeka, 16 Februari 1986, menghadirkan potret getir seorang penulis yang terdesak oleh waktu, perubahan zaman, dan mungkin juga oleh dirinya sendiri. Dalam cerita itu, kita seperti diajak menatap wajah kesepian seorang pengarang yang dahulu hidup dari kata-kata, tetapi kini justru ditinggalkan oleh dunia yang semakin tak sabar terhadap kedalaman. Cerita ini bukan sekadar kisah personal, melainkan alegori tentang nasib kepengaranganādulu, kini, dan mungkin nanti.
Menariknya, cerpen ini bukan sekadar karya biasa dalam perjalanan kepengarangan Maspril Aries. āPengarang Tuaā merupakan karya fiksi keduanya yang berhasil menembus media nasional, dimuat di Harian Merdekaāsalah satu koran besar yang pada masanya menjadi pesaing Harian KompasĀ empat dekade silam. Cerpen pertamanya di koran yang sama berjudul āCita-Citaā yang terbit pada 17 November 1985.
Saat itu, Maspril Aries masih mahasiswa semester pertama FISIP Universitas Lampung (Unila), dengan keberanian yang nyaris nekat: mengirimkan naskah ke media nasional tanpa jaminan apa pun. Pemuatannya bukan hanya menjadi penanda awal, tetapi juga semacam legitimasi bahwa dunia kepengarangan selalu terbuka bagi mereka yang berani mencoba. Lebih penting lagi, sejak momen itu hingga hari ini, ia tetap setia menulis kreatifāsebuah konsistensi yang justru semakin langka di tengah perubahan zaman yang serba cepat.
Tokoh pengarang tua dalam cerpen tersebut berdiri di antara dua dunia: dunia lama yang menjunjung kesabaran, perenungan, dan penghormatan terhadap proses kreatif; serta dunia baru yang bergerak cepat, pragmatis, dan cenderung melupakan nilai estetika. Ia bukan hanya tua secara biologis, tetapi juga secara kulturalātertinggal oleh zaman yang berubah lebih cepat daripada kemampuannya beradaptasi. Di titik inilah cerpen ini terasa profetik. Apa yang pada 1986 tampak sebagai kegelisahan individual, kini menjelma menjadi kegelisahan kolektif para penulis di era digital.

Jika kita menarik garis waktu dari 1986 ke 2026, maka kita melihat pergeseran yang bukan sekadar teknologis, tetapi juga epistemologis. Pada era 1980-an, kepengarangan masih bergantung pada media cetak: koran, majalah, dan penerbitan buku. Prosesnya panjang, selektif, dan sering kali melelahkan. Namun, justru di situlah lahir disiplin estetik. Seorang penulis harus bergulat dengan redaktur, dengan waktu tunggu, dan dengan kemungkinan penolakan. Kesusastraan dibentuk oleh ketekunan, bukan oleh kecepatan.
Kini, lima dasawarsa kemudian, lanskap itu berubah drastis. Kehadiran media sosial dan platform digital telah mendemokratisasi kepenulisan: siapa pun bisa menulis, menerbitkan, dan mendapatkan pembaca dalam hitungan detik. Namun demokratisasi ini membawa paradoks. Di satu sisi, ia membuka ruang bagi suara-suara baru; di sisi lain, ia menciptakan banjir tulisan yang sering kali dangkal, repetitif, dan kehilangan daya gugah. Dalam situasi seperti ini, sosok āpengarang tuaā dalam cerpen Maspril Aries menjadi semakin relevanābukan sebagai figur yang usang, tetapi sebagai penjaga nilai-nilai yang kini terancam hilang.
Budaya instan adalah arus besar yang diam-diam menggerogoti sastra kita hari ini. Karya dituntut untuk segera viral, segera disukai, segera dibagikan. Ukuran keberhasilan bukan lagi kedalaman makna, melainkan jumlah ālikesā dan āviewsā. Akibatnya, banyak karya lahir bukan dari kegelisahan yang matang, tetapi dari keinginan untuk segera diakui. Dalam konteks ini, pengarang tidak lagi menjadi perenung, melainkan produsen konten. Ia kehilangan jarak kritis terhadap karyanya sendiri.
Cerpen āPengarang Tuaā seakan mengingatkan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan laku eksistensial. Seorang pengarang menulis untuk memahami dunia dan dirinya sendiri, bukan sekadar untuk mengisi ruang publik dengan kata-kata. Dalam cerita itu, kesepian sang pengarang tua justru menjadi ruang kontemplasiāsesuatu yang kini semakin langka. Ia mungkin tidak lagi produktif dalam arti kuantitas, tetapi ia tetap setia pada kualitas. Dan kesetiaan inilah yang membuatnya tetap relevan, bahkan ketika dunia tampak telah melupakannya.
Perbedaan paling mencolok antara kepenulisan 1986 dan 2026 terletak pada relasi antara waktu dan teks. Dulu, waktu adalah sekutu: ia memberi ruang bagi pengendapan gagasan. Kini, waktu menjadi tekanan: segala sesuatu harus cepat, bahkan tergesa. Dalam kondisi seperti ini, kedalaman sering kali menjadi korban. Padahal, sastra justru hidup dari kedalamanādari kemampuan menggali lapisan-lapisan makna yang tidak segera tampak di permukaan.
Untuk itu, mengembalikan marwah sastra bukan berarti menolak teknologi atau tenggelam dalam nostalgia masa lalu. Yang diperlukan adalah sikap kritis terhadap budaya instan. Penulis hari ini perlu belajar dari āpengarang tuaā: tentang kesabaran, tentang ketekunan, dan tentang keberanian untuk tidak selalu mengikuti arus. Sastra harus kembali menjadi ruang refleksi, bukan sekadar ruang ekspresi. Ia harus mampu menawarkan pengalaman estetik yang memperkaya batin, bukan hanya memuaskan selera sesaat.
Puisi, cerpen, novelāsemua bentuk sastraāmemiliki tanggung jawab untuk menjaga kedalaman itu. Estetika bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Tanpa estetika, sastra kehilangan daya hidupnya; tanpa kedalaman, ia kehilangan maknanya. Dalam dunia yang semakin bising oleh banjir tulisan, sastra justru harus menjadi ruang sunyiātempat manusia bisa kembali mendengar dirinya sendiri.
Pada titik inilah, kita patut berhenti sejenakābukan untuk bernostalgia, melainkan untuk memberi hormat. Selamat kepada Maspril Aries atas lima windu kesetiaan berkarya dalam sastra: sebuah ketekunan yang tidak sekadar menandai perjalanan waktu, tetapi juga membuktikan bahwa kesetiaan pada kata dan makna masih mungkin dijaga di tengah dunia yang serba tergesa.
Boleh dibilang, āPengarang Tuaā bukan hanya cerita tentang seorang individu, tetapi juga cermin bagi kita semua. Ia mengajukan pertanyaan yang sederhana namun mendasar: untuk apa kita menulis? Jika jawabannya hanya untuk kecepatan dan popularitas, maka kita mungkin telah kehilangan sesuatu yang esensial. Tetapi jika kita masih percaya bahwa sastra adalah jalan untuk memahami kehidupan, maka sosok pengarang tua itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hidup dalam setiap upaya kita untuk menulis dengan jujur, dengan sabar, dan dengan penuh kesadaran.
Di tengah derasnya arus budaya instan, mungkin kita memang perlu menjadi sedikit ātuaāābukan dalam arti ketinggalan zaman, tetapi dalam arti matang. Sebab hanya dengan kematangan itulah sastra bisa kembali menemukan marwahnya. []
__________
Udo Z Karzi, tukang tulis, tinggal di Bandar Lampung.
>> Sebelumnya, esai ini dimuat di Kingdomsriwijaya.id, 26 April 2026, klik: Menjadi Tua di Zaman yang Tergesa.