Pendidikan Bukan Startup: Membaca Ulang Pembelaan Nadiem Makarim

PEMBELAAN Nadiem Makarim di ruang sidang terdengar rapi, terstruktur, dan—kalau boleh jujur—cukup meyakinkan seperti pitch deck di hadapan investor. Tanpa mengurangi rasa hormat atas capaian dan niat baiknya, kita tetap perlu mengatakan sesuatu yang agak tidak nyaman: pendidikan bukan startup. Ia tidak bisa diperlakukan seperti aplikasi yang bisa diuji coba, gagal, lalu diperbarui di versi berikutnya.

Pengalaman Nadiem membesarkan Gojek memang luar biasa. Ia berhasil mendisrupsi sistem transportasi, mengubah kebiasaan masyarakat, dan menghadirkan efisiensi lewat teknologi. Tapi pendidikan bukan soal efisiensi semata. Ia adalah proses panjang yang menyangkut manusia, nilai, kebudayaan, dan arah peradaban. Jika startup bisa ā€œpivotā€ ketika model bisnisnya gagal, pendidikan tidak punya kemewahan itu. Satu kebijakan yang keliru bisa berdampak pada satu generasi.

Di titik ini, kritik Anhar Gonggong terasa relevan. Bagaimana mungkin seseorang bisa merumuskan kebijakan pendidikan terbaik jika ia tidak pernah mengajar, tidak mengalami langsung dinamika ruang kelas, dan tidak cukup akrab dengan realitas pendidikan di daerah? Ini bukan soal meragukan kapasitas intelektual, melainkan soal pengalaman empirik. Pendidikan bukan sekadar teori; ia adalah praktik yang hidup.

Masalahnya menjadi lebih konkret ketika kebijakan berbasis digital didorong secara masif, seolah-olah seluruh Indonesia telah siap secara infrastruktur. Ketika kemudian terungkap bahwa banyak daerah belum memiliki akses internet memadai, bahkan listrik pun masih terbatas, kita dihadapkan pada ironi: kebijakan lahir lebih cepat daripada pemahaman terhadap kondisi lapangan. Dalam dunia startup, ini mungkin disebut ā€œfail fastā€. Dalam pendidikan, ini lebih mirip ā€œfail silentlyā€ā€”gagal tanpa suara, tetapi dampaknya merembes perlahan.

Di tingkat akar rumput, kegamangan itu terasa nyata. Seorang guru lulusan FKIP yang setia mendidik—bukan sekadar mengajar—melontarkan sindiran pahit: ā€œBubarkan saja FKIP.ā€ Ia menyaksikan bagaimana profesi guru semakin cair, bahkan cenderung kabur batasnya. Lulusan non-kependidikan bisa menjadi guru lintas bidang hanya dengan mengikuti program tertentu. Fleksibilitas ini, alih-alih memperkuat sistem, justru menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah pendidikan kita masih berbasis keilmuan, atau sekadar administratif?

Di sinilah perbedaan paling mendasar antara pendidikan dan startup: yang satu membangun manusia, yang lain membangun pasar. Startup bisa tumbuh dengan logika eksperimen dan skalabilitas. Pendidikan menuntut kedalaman, ketekunan, dan kesinambungan. Ia tidak bisa dikelola dengan asumsi bahwa semua masalah bisa diselesaikan lewat inovasi teknologi.

Pernyataan Mahfud MD tentang perbedaan dunia bisnis dan birokrasi menjadi semacam pengingat yang penting. Keberhasilan di sektor swasta tidak otomatis menjamin keberhasilan dalam mengelola urusan publik, apalagi pendidikan. Birokrasi memang lambat dan sering menjengkelkan, tetapi ia ada untuk menjaga stabilitas—sesuatu yang justru krusial dalam dunia pendidikan.

Karena itu, menyebut situasi ini sebagai ā€œbadaiā€ mungkin agak berlebihan. Ini bukan badai yang datang tiba-tiba. Ini lebih seperti riak-riak kecil yang terus-menerus terjadi karena pendekatan yang kurang tepat. Tidak dramatis, tapi akumulatif. Tidak langsung terlihat, tapi perlahan menggerus.

Yang lebih problematis, niat baik sering dijadikan dasar pembenaran. Padahal, dalam pendidikan, niat baik tanpa pemahaman bisa berujung pada kebijakan yang justru merusak. Kita tidak sedang meragukan integritas, tetapi mempertanyakan arah. Untuk apa manusia Indonesia dididik? Apakah sekadar untuk memenuhi kebutuhan industri? Atau untuk menjadi manusia yang utuh—yang mampu berpikir kritis, berempati, dan berbudaya?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan pendekatan ala startup yang serbacepat dan pragmatis. Ia membutuhkan refleksi mendalam, keterlibatan berbagai pihak, dan keberanian untuk mendengar realitas di lapangan. Pendidikan tidak membutuhkan ā€œdisrupsiā€ dalam arti gegabah; ia membutuhkan transformasi yang berakar.

Dari sini, membaca ulang pembelaan Nadiem bukan soal mencari siapa yang salah. Ini tentang menyadari bahwa pendekatan yang tepat sama pentingnya dengan niat yang baik. Pendidikan bukan ruang untuk eksperimen tanpa konsekuensi. Ia adalah fondasi bangsa.

Dan mungkin, pelajaran paling penting dari semua ini sederhana saja: membangun aplikasi bisa dimulai dari nol. Tapi, membangun pendidikan tidak bisa dimulai dari ketidaktahuan. []