Menjadi Manusia dengan Sastra
Oleh Udo Z Karzi
Belajar adalah membaca, utamanya novel dan komik.
~ Udo Z Karzi
SAYA tidak bercanda dengan moto itu. Sejatinya, dari sanalah manusia mulai memahami dunia. Kalimat sederhana ini tampaknya ringan, bahkan mungkin terdengar seperti nostalgia masa kecil. Namun di baliknya tersimpan gagasan yang lebih dalam: membaca sastra adalah salah satu cara paling manusiawi untuk belajar menjadi manusia.
Sastra sejak awal memang tidak pernah jauh dari kehidupan manusia. Banyak pemikir sastra menegaskan hal ini. Mursal Esten menyebut sastra sebagai pengungkapan fakta artistik dan imajinatif yang merupakan manifestasi kehidupan manusia dan masyarakat. M Atar Semi menegaskan bahwa objek sastra adalah manusia dan kehidupannya. Sementara itu, Sapardi Djoko Damono menyatakan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial.
Dengan demikian, sastra bukan sekadar cerita yang dibuat-buat. Ia adalah abstraksi dari kehidupan. Realitas manusia—perasaan, konflik, harapan, penderitaan, cinta, kekuasaan, ketidakadilan—diolah kembali melalui bahasa dan imajinasi. Sastra tidak sekadar mencatat kehidupan seperti laporan jurnalistik atau data statistik. Ia menafsirkan kehidupan.
Sejak zaman Yunani kuno, gagasan ini sudah dibicarakan. Plato menyebut sastra sebagai mimesis, peniruan terhadap kenyataan. Namun peniruan itu tidak berarti sekadar menyalin realitas secara mentah. Dalam karya sastra, kenyataan dipadatkan, dipilih, dan diolah sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih dalam tentang manusia.
Aristoteles bahkan melihat sastra sebagai salah satu kegiatan intelektual manusia yang sejajar dengan agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Artinya, sastra adalah salah satu cara manusia berpikir tentang dunia. Ia bukan kegiatan tambahan yang sekadar menghibur, melainkan cara manusia memahami dirinya sendiri.
Di sinilah pentingnya sastra: ia membantu manusia memahami manusia.
Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan bagaimana dunia bekerja. Ekonomi dapat menerangkan bagaimana sistem produksi dan distribusi berjalan. Politik dapat menjelaskan bagaimana kekuasaan diatur. Namun sastra mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana rasanya menjadi manusia di tengah semua itu?
Sastra mengajarkan empati. Ketika membaca sebuah novel, kita memasuki kehidupan orang lain—bahkan orang yang sama sekali berbeda dari diri kita. Kita ikut merasakan kegembiraan, kecemasan, kemarahan, atau kesedihan tokoh-tokohnya. Melalui pengalaman imajinatif itu, kita belajar memahami orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri secara langsung.
Tanpa empati, manusia mudah berubah menjadi sekadar mesin sosial.
Karena itu tidak mengherankan jika sastra sering berperan dalam membangkitkan kesadaran sosial. Sejarah menunjukkan bahwa karya sastra kerap menjadi cermin bagi masyarakat. Revolusi Industri di Inggris pada abad ke-18 dan ke-19, misalnya, tidak hanya tercatat dalam buku sejarah ekonomi. Ia juga tergambar dalam karya sastra.
Charles Dickens melalui novel Oliver Twist (1838) memperlihatkan kerasnya kehidupan anak-anak miskin di tengah masyarakat industri. Novel itu membuat pembaca melihat sisi kemanusiaan dari perubahan ekonomi yang besar. Sastra, dalam hal ini, tidak sekadar bercerita; ia menggugah kesadaran moral.
Hal yang sama juga dapat kita lihat dalam sejarah Indonesia. Sumpah Pemuda tahun 1928 sering dibaca sebagai dokumen sejarah, tetapi jika kita perhatikan strukturnya, teks itu sebenarnya sangat puitik. Kalimatnya singkat, ritmis, dan memiliki daya sugesti yang kuat:
“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu…”
Teks ini tidak panjang, tetapi kekuatannya mampu menyatukan imajinasi kebangsaan generasi muda pada masa itu. Ia bekerja seperti puisi.
Demikian pula teks Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Secara formal ia adalah dokumen politik, tetapi dari segi bahasa ia memiliki karakter yang puitik: padat, tegas, dan penuh makna. Dalam arti tertentu, bangsa ini lahir melalui bahasa yang puitik.
Di balik berbagai momen sejarah itu juga terdapat tokoh-tokoh yang dekat dengan dunia sastra. Mohammad Yamin menulis puisi-puisi tentang tanah air yang menyalakan semangat kebangsaan. Soekarno dikenal memiliki kemampuan retorika yang sangat puitik dalam pidato-pidatonya. Kata-katanya tidak sekadar menyampaikan pesan politik, tetapi juga membangun imajinasi kolektif.
Dalam perjalanan sastra Indonesia modern, banyak penulis yang mengangkat persoalan zamannya: Sutan Takdir Alisyahbana dengan gagasan modernitasnya, Chairil Anwar dengan individualisme yang memberontak, Pramoedya Ananta Toer dengan kritik sosial dan sejarah, hingga Wiji Thukul yang menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Sastra selalu bersinggungan dengan kehidupan masyarakat. Karena itu terasa agak aneh jika seorang penulis justru menjauhkan diri dari persoalan bangsanya sendiri.
Selain menjadi cermin masa kini, sastra juga sering menjadi cara untuk membayangkan masa depan. Novel Ghost Fleet: A Novel of the Next World War karya P.W. Singer dan August Cole, misalnya, membayangkan skenario perang dunia di masa depan antara Amerika Serikat melawan aliansi China dan Rusia.
Dalam salah satu bagian novel tersebut, Indonesia digambarkan sebagai “bekas Republik Indonesia”. Gambaran itu tentu bersifat imajinatif, tetapi justru di situlah fungsi sastra. Ia membuka kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita. Sastra mengingatkan bahwa masa depan tidak pernah sepenuhnya aman.
Dengan membaca sastra, manusia belajar melihat dunia dengan lebih luas—bukan hanya sebagaimana adanya sekarang, tetapi juga sebagaimana mungkin terjadi.
Sayangnya, di tengah kehidupan modern, sastra sering dianggap kurang penting. Banyak orang membaca laporan ekonomi, berita politik, atau analisis teknologi, tetapi jarang yang menganggap membaca novel sebagai sesuatu yang penting.
Padahal justru dalam sastra terdapat latihan kemanusiaan yang mendalam.
Masalah lain muncul ketika kita berbicara tentang generasi muda. Generasi milenial dan generasi setelahnya hidup dalam dunia yang sangat cepat. Informasi datang melalui layar gawai, video pendek, dan media sosial. Dalam arus informasi yang serba instan itu, membaca karya sastra sering dianggap kegiatan yang lambat.
Padahal justru dalam kelambatan itulah sastra bekerja.
Membaca novel atau puisi memerlukan perhatian, kesabaran, dan kepekaan. Ia mengajak pembaca berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan masuk ke dalam pengalaman manusia yang lebih dalam.
Karena itu, salah satu pekerjaan budaya yang penting hari ini adalah mendekatkan sastra kepada generasi muda. Sastra perlu hadir dalam berbagai ruang: sekolah, komunitas, perpustakaan, bahkan media digital. Sastra tidak harus selalu tampil dalam bentuk yang kaku; ia bisa hadir melalui komik, novel grafis, film, atau bentuk-bentuk kreatif lainnya.
Yang penting bukan bentuknya, melainkan pengalaman kemanusiaan yang ditawarkannya.
Pada akhirnya, sastra selalu berbicara tentang manusia. Bahkan ketika tokohnya binatang, seperti dalam dongeng Kancil atau novel Animal Farm karya George Orwell, yang sebenarnya dibicarakan tetaplah manusia—tentang kekuasaan, kelicikan, keserakahan, atau keadilan.
Sastra tidak menggurui. Ia tidak memberi perintah moral secara langsung. Ia hanya menghadirkan cerita, konflik, dan pengalaman. Namun justru melalui pengalaman itulah manusia belajar memahami hidup.
Di situlah kekuatan sastra.
Ia membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain, lebih sadar terhadap ketidakadilan, dan lebih reflektif terhadap diri sendiri. Sastra tidak menjadikan manusia sempurna, tetapi ia membantu manusia menjadi lebih manusiawi.
Maka membaca sastra bukan sekadar kegiatan intelektual. Ia adalah proses pembentukan kemanusiaan.
Melalui sastra, manusia belajar melihat dunia dengan imajinasi, merasakan kehidupan dengan empati, dan memahami dirinya dengan lebih jujur.
Singkatnya, sastra membantu kita menjadi manusia. []
_______________
*Esai dikembangkan dari makalah Udo Z Karzi untuk Diskusi Menjadi Manusia dengan Sastra Mizan Goes to Campus (MGTC) Meneroka Negeri, Mengarungi Samudera Hikmah di Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung yang bekerja sama dengan Penerbit Mizan, Kamis, 29 Maret 2018.
** Udo Z Karzi, tukang tulis saja, tinggal di Bandar Lampung.