Human

Budaya sebagai Modal Sosial: Menjunjung Langit di Tanah Sendiri

Bersepeda di masa kanak-kanak. | Vicki Hamilton/Pixabay

Oleh Ali Rukman

LEBIH dari dua puluh tahun saya melakoni profesi sebagai fasilitator masyarakat. Waktu telah berganti, rezim pembangunan berubah wajah, teknologi melesat ke era digital, pola komunikasi makin instan—namun ada hal-hal yang membekas dan tak mungkin lekang hanya karena zaman berganti. Di antara yang membekas itu adalah satu kesadaran: kemajuan tidak pernah benar-benar lahir dari sesuatu yang asing bagi tanahnya sendiri.

Saya belajar bahwa setiap daerah telah dianugerahi kekuatan. Bukan sekadar sumber daya alam, bukan pula sekadar anggaran dan proyek. Ada sesuatu yang lebih dalam—yang tak kasat mata tetapi nyata pengaruhnya. Ia bernama modal sosial. Ia tumbuh dari budaya, dari cara orang-orang saling menyapa, saling percaya, saling menolong, dan saling menjaga martabat.

Pegangan saya sederhana: untuk memajukan suatu daerah, gunakanlah modal sosial yang hidup di daerah itu sendiri. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kemajuan yang tercerabut dari akar budayanya hanya akan menjadi bangunan megah yang rapuh. Ia mungkin berdiri, tetapi tidak akan mengakar.

Dalam perjalanan mendampingi masyarakat, saya menyaksikan bagaimana nilai-nilai lokal sesungguhnya telah menyediakan perangkat sosial yang kuat. Di sebagian komunitas dikenal praktik seperti angkon muari—penguatan persaudaraan yang dikukuhkan secara adat. Ada pula mindai—pengangkatan saudara yang dikukuhkan secara kekeluargaan oleh kedua belah pihak. Substansinya bukan pada istilahnya, melainkan pada nilai yang dikandungnya: membangun ikatan, memperluas rasa memiliki, dan mempertebal tanggung jawab sosial.

Ketika budaya dimaknai dan dijalankan secara positif, ia berbuah manis. Ia melahirkan gotong-royong tanpa pamrih, musyawarah tanpa saling menjatuhkan, serta solidaritas tanpa membeda-bedakan. Namun sebaliknya, ketika budaya dimaknai secara sempit dan dijalankan dengan cara yang negatif, ia bisa melahirkan pertentangan, perlawanan, konflik, bahkan resistensi dan penolakan. Bukan budayanya yang salah, tetapi cara kita memaknainya.

Saya semakin yakin, budaya bukan sekadar warisan simbolik yang dipajang saat seremoni. Ia adalah energi sosial. Ia bisa menjadi perekat atau pemecah. Ia bisa menjadi jembatan atau tembok. Semua bergantung pada kesadaran kolektif kita.

Selama dua dekade lebih mendampingi masyarakat, saya melihat keberhasilan pemberdayaan tidak pernah lahir dari pendekatan yang seragam dan dipaksakan. Keberhasilan tumbuh ketika masyarakat merasa dihargai, ketika nilai-nilai mereka diakui, ketika struktur sosial mereka dijadikan pintu masuk, bukan diabaikan. Pemberdayaan yang melupakan budaya ibarat menanam benih di tanah yang tak dikenal—ia mungkin tumbuh, tetapi sulit berbuah.

Budaya sebagai modal sosial berarti menempatkan kearifan lokal sebagai fondasi, bukan sebagai pelengkap. Artinya, pembangunan tidak sekadar berbicara tentang infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur kepercayaan. Tidak hanya tentang peningkatan ekonomi, tetapi juga penguatan relasi sosial. Tidak hanya tentang target dan indikator, tetapi juga tentang rasa dan makna.

Kita hidup di era digital, di mana informasi melimpah dan tren datang silih berganti. Namun sehebat apa pun teknologi, ia tidak bisa menggantikan nilai saling percaya. Ia tidak bisa membeli ketulusan. Ia tidak bisa menciptakan rasa persaudaraan yang lahir dari kesadaran bersama. Modal sosial tetap menjadi fondasi yang tak tergantikan.

Maka, menjunjung langit di tanah sendiri bukanlah sikap tertutup terhadap perubahan. Ia justru bentuk kebijaksanaan. Kita menerima pembaruan, tetapi tidak menanggalkan jati diri. Kita bergerak maju, tetapi tidak tercerabut dari akar. Kita belajar dari luar, tetapi tidak lupa pada nilai yang tumbuh di dalam.

Saya percaya, memajukan daerah bukan sekadar soal strategi teknokratis. Ia soal keberanian moral untuk berpihak pada kekuatan yang sudah ada. Ia soal kesetiaan pada akar budaya yang telah membentuk karakter masyarakat. Ia soal kesediaan untuk merawat, bukan sekadar mengganti.

Pada akhirnya, budaya sebagai modal sosial bukan hanya wacana. Ia adalah tanggung jawab. Ia adalah amanah. Jika kita memaknainya dengan jernih dan menjalankannya dengan niat yang lurus, ia akan menjadi jalan kemajuan yang damai dan bermartabat.

Dan semoga kita tidak sekadar membangun daerah, tetapi juga membangun jiwa-jiwa yang kokoh—yang tahu di mana ia berpijak, dan kepada siapa langit itu dijunjung. []

__________
Ali Rukman, praktisi pemberdayaan masyarakat, tinggal di Bandar Lampung. Penulis buku Saya Belajar dari Sini: Pengalaman Mendampingi Masyarakat Lampung Barat (2015).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top