Human

Bahasa dan Sastra Lampung Hari Ini: Membaca Ulang ‘Hujan Sastra’

Daun-daun tumbuh di ranting pohon. | Clker-Free-Vector-Images/Pixabay

SAAT menulis esai “Hujan Sastra (Sastrawan) Lampung Memang Tak Merata” (Cybersastra.net, 9 Januari 2002), apalagi beberapa bulan setelah ini buku puisi dwibahasa Lampung-Indonesia saya yang pertama, Momentum, terbit; saya sedang berada pada keyakinan penuh bahwa sastra berbahasa Lampung akan tumbuh. Saya melihat tanda-tanda kebangkitan: kesadaran budaya mulai bergerak, dunia pendidikan memberi perhatian, dan sejumlah orang—termasuk saya—berupaya menulis dalam bahasa Lampung, meskipun jalannya tidak mudah. Saat itu saya percaya, hujan sastra hanya soal waktu.

Kini, ketika saya membaca ulang tulisan itu dalam suasana peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional yang diprakarsai UNESCO, perasaan saya bercampur. Ada kebanggaan karena pernah begitu optimistis, tetapi juga rasa malu karena sebagian harapan belum terwujud sebagaimana saya bayangkan. Tulisan ini adalah upaya membaca ulang gagasan lama saya—bukan untuk menyesali semangat masa lalu, melainkan untuk memperbaruinya sesuai kenyataan bahasa dan sastra Lampung hari ini.

***

Dalam esai lama itu saya mempertanyakan mengapa jelma Lampung seakan enggan mengembangkan bahasa dan sastranya sendiri. Padahal tradisi lisan kita sangat kaya: pattun, segata, wawacan, warahan, dan berbagai bentuk ekspresi adat yang menunjukkan kehalusan bahasa. Bagi saya kala itu, persoalannya bukan ketiadaan sastra, melainkan belum terjadinya peralihan dari tradisi lisan menuju sastra tulis modern.

Saya yakin sastra Lampung bisa berkembang seperti sastra daerah lain. Saya melihat adanya rencana pemerintah untuk mengembangkan kebudayaan daerah, juga langkah akademik yang mulai membuka ruang kajian bahasa dan sastra Lampung, termasuk di Universitas Lampung. Saya sendiri sedang merintis penulisan puisi dan esai berbahasa Lampung, meski berkali-kali ditolak penerbit dengan alasan pasar kecil dan tidak menguntungkan.

Meski begitu, saya tetap percaya bahwa sastra Lampung akan menemukan jalannya.

***

Hari ini saya harus mengakui bahwa perjalanan sastra Lampung tidak secepat bayangan saya dahulu. Hujan memang turun, tetapi tidak deras. Ia lebih menyerupai gerimis panjang.

Bahasa Lampung masih diajarkan di sekolah, aksara Lampung tetap hadir dalam simbol kebudayaan, dan berbagai kegiatan seni berbahasa Lampung masih digelar. Itu semua tanda bahwa bahasa ini belum hilang. Namun, saya juga melihat kenyataan lain yang tidak bisa diabaikan.

Bahasa Lampung belum menjadi bahasa ekspresi kreatif yang dominan bagi generasi muda. Banyak anak muda lebih nyaman menulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa digital global. Sastra berbahasa Lampung tetap hidup, tetapi cenderung berada di pinggiran, bergerak di komunitas kecil dan ruang terbatas.

Persoalan yang dulu saya keluhkan juga tidak sepenuhnya berubah. Dunia penerbitan masih ragu terhadap karya berbahasa Lampung. Logika pasar terus menjadi alasan utama. Akibatnya, karya-karya yang lahir tidak selalu sampai kepada pembaca luas, bahkan kadang berhenti di lingkaran kecil penulisnya saja.

Saya akhirnya memahami bahwa “tak merata” bukan sekadar situasi sementara, melainkan pola perjalanan yang panjang.

Peringatan Hari Bahasa Ibu setiap 21 Februari mengingatkan bahwa bahasa ibu adalah bagian penting dari identitas dan pendidikan. Namun bagi saya, tantangan terbesar bukan sekadar melestarikan bahasa, melainkan membuatnya benar-benar hidup.

Sering kali kita memperlakukan bahasa Lampung sebagai simbol budaya: dipakai dalam seremoni, dipajang dalam aksara, atau dirayakan pada momen tertentu. Itu tentu penting, tetapi belum cukup. Bahasa hanya akan bertahan jika digunakan dalam kehidupan sehari-hari—untuk bercanda, berdebat, menulis puisi, menciptakan humor, bahkan mengkritik realitas sosial.

Bahasa yang hanya hidup di panggung acara akan perlahan menjadi artefak. Ia dihormati, tetapi tidak digunakan sebagai alat berpikir dan berkreasi.

***

Jika dulu saya cenderung menyalahkan masyarakat atau pemerintah, hari ini saya melihat persoalan yang lebih mendasar: bahasa Lampung kekurangan ruang hidup yang luas.

Sastra berbahasa Lampung berada dalam posisi yang serba tanggung. Di tingkat nasional, ia sering dianggap terlalu lokal. Di tingkat lokal, karya modern kadang dianggap terlalu jauh dari tradisi. Akibatnya, banyak karya lahir tanpa dukungan ekosistem yang memadai.

Kita belum memiliki tradisi kritik sastra yang kuat, pembaca yang konsisten, atau jaringan penerbitan yang stabil. Padahal sastra tidak cukup hanya ditulis; ia harus dibaca, dibicarakan, diperdebatkan.

Pengalaman pribadi saya menghadapi penolakan penerbit dulu membuat saya paham bahwa persoalan sastra bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga soal keberanian kolektif memberikan ruang.

***

Pernah saya merasa malu membaca tulisan lama itu karena terlalu optimistis. Tapi sekarang saya mencoba melihatnya dengan lebih bijak. Optimisme itu mungkin berlebihan, tetapi tanpa optimisme saya mungkin tidak akan menulis sama sekali. Barangkali banyak gerak kecil yang ada hari ini juga lahir dari semangat generasi yang dulu percaya bahwa sastra Lampung bisa berkembang.

Kerja kebudayaan tidak pernah cepat. Kadang satu generasi hanya menanam benih, sementara hasilnya baru terlihat jauh di kemudian hari.

Kalau hari ini saya diminta mengganti metafora lama, saya tidak lagi berbicara tentang hujan. Yang kita butuhkan bukan hujan sesaat, melainkan iklim sastra.

Iklim itu berarti adanya pembaca, media, ruang diskusi, penerbitan alternatif, dan keberanian memakai bahasa Lampung dalam konteks modern. Bahasa harus hadir di ruang digital, media sosial, pertunjukan kontemporer, dan percakapan sehari-hari. Tanpa iklim, setiap hujan hanya akan segera mengering.

Membaca ulang “Hujan Sastra” hari ini bukan berarti menyesali optimisme masa lalu. Justru sebaliknya, saya melihatnya sebagai pengingat bahwa kerja bahasa dan sastra selalu panjang, kadang melelahkan, tetapi tetap perlu dijalani.

***

Saya tidak lagi menunggu ledakan besar. Saya percaya pada kerja kecil yang terus dilakukan: satu puisi, satu buku, satu diskusi, satu percakapan yang membuat orang berani menggunakan bahasa Lampung tanpa rasa minder.

Bahasa ibu bukan sekadar warisan; ia adalah pilihan harian. Selama masih ada orang yang bersedia menulis, membaca, dan mengucapkannya, sastra Lampung tetap hidup—meski mungkin tidak riuh, meski mungkin hanya seperti gerimis yang pelan, tetapi terus jatuh, menjaga tanah tetap basah untuk generasi berikutnya.

Selamat Hari Bahasa Ibu Internasional. Tabik. []

>> BACA LAGI:
Hujan Sastra (Sastrawan) Lampung Memang Tak Merata

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top