Panggung

Dahyang Druna: Ketika Ngesti Pandowo Menghidupkan Tragedi Sang Guru Agung di Panggung Apresiasi WBTb

Sang guru Agung menapaki jalan kehidupan dilematis yang berakhir tragis (kiri). Druna dikenal sebagai sosok guru yang licik dan penuh tipu muslihat (kanan). | Christian Saputro

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

DI bawah cahaya kuning keemasan Gedung Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu malam itu, 6 Desember 2025, ratusan pasang mata menunggu dalam hening yang padat. Ada aroma rias, suara kain yang bersentuhan, denting gamelan yang masih mencari nadanya. Di ruang yang sejak 1930-an menjadi saksi denyut seni kota ini, Wayang Orang Ngesti Pandowo bersiap menyingkap kembali sebuah lakon tua yang hidup dari generasi ke generasi: “Dahyang Druna.”

Bukan sekadar pementasan. Malam itu terasa seperti ritual—perjumpaan antara masa silam, tubuh-tubuh seniman hari ini, dan penonton yang datang membawa rasa ingin tahu, nostalgia, atau sekadar kebutuhan untuk disentuh oleh sebuah cerita.

Lampu Naik, Cerita Dibuka

Di panggung, Sutradara Budi Lee menenun alur dengan pendekatan dramatik yang terukur. Gerak tubuh para pemain—diarahkan oleh Penata Tari Paminto Krisna—bergerak antara disiplin klasik dan semburat interpretasi baru. Sementara Githung Swara menurunkan musik yang terasa seperti gelombang perasaan itu sendiri: kadang menghentak, kadang selembut desir angin, kadang menggantung seperti napas yang ditahan terlalu lama.

Para pejabat hadir malam itu, termasuk Kadisbudpar Semarang, Indriyasari, dan Kabid Kebudayaan Sarosa. Tetapi begitu lampu redup, semua status sosial luluh. Yang tersisa adalah ruang bersama, tempat legenda Mahabharata ditafsir ulang melalui tubuh-tubuh yang mewarisi 88 tahun tradisi Ngesti Pandowo—kelompok seni yang lahir pada 1937 dan kini menyandang predikat Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Druna: Guru, Ayah, dan Manusia yang Tersesat oleh Janji

Lakon Dahyang Druna dibuka dengan keheningan panjang. Di balik panggung, kita diajak mundur menuju masa ketika Druna bukan siapa-siapa, hanya seorang brahmana miskin yang berkelana demi keluarga. Raut wajah pemain yang memerankan Druna tampak menyimpan beban masa lalu; setiap langkahnya seperti ditarik oleh janji-janji yang tak kunjung ditepati dunia.

Dari titik itulah tragedi mengalir.

Druna bertemu Krpi dan Krpa, keluarga brahmana yang memberi keyakinan bahwa ilmu adalah martabat manusia. Namun kenyataan hidup berbicara lain. Kemiskinan menekan. Tuntutan keluarga menagih kepastian. Dan di sanalah kesempatan itu datang: Prabu Duryudana, pewaris Hastina, menawarkan kemewahan dan masa depan gemilang bagi putranya, Aswatama. Janji itu seperti cahaya bagi seorang pengembara yang hampir padam.

Namun, sejarah tahu: tidak semua cahaya membawa keselamatan.

Di panggung, Ngesti Pandowo menampilkan dilema Druna dengan ketenangan yang menusuk. Ia mengajar Pandawa dan Kurawa dengan kasih seorang pendeta, namun akhirnya terjebak dalam politik keluarga Hastina. Ketika perang Bharatayudha meletus, Druna bukan lagi guru netral. Ia senapati. Ia penjaga kehormatan. Ia ayah yang berusaha memastikan anaknya tidak terperosok dalam hidup yang pernah ia alami.

Dan, di sinilah lakon mencapai inti emosinya.

Ketika Aswatama Dikatakan Mati

Pada malam itu, scene ini bukan sekadar adegan. Ia menjadi jantung pertunjukan.

Druna berdiri tegak, tetapi tubuhnya tampak retak. Narasi menyampaikan kabar palsu bahwa Aswatama gugur—sebuah taktik Pandawa untuk melemahkan mental sang guru besar. Dalam sepersekian detik, Druna tidak lagi menjadi senapati Hastina. Ia hanya ayah yang kehilangan masa depan.

Musik mengalir pelan, seperti desir angin yang lewat di ladang-ladang kosong. Panggung menjadi ruang sunyi. Druna meletakkan senjata. Tangannya gemetar. Ia duduk bersila, memejamkan mata, seolah ingin kembali pada hari-hari ketika dharma adalah satu-satunya pegangan hidup. Cahaya panggung menyapu wajahnya seperti rembulan yang menyaksikan manusia kalah oleh nasibnya sendiri.

Dan ketika Drestadyumna—murid yang dulu ia ajari dengan sepenuh hati—menghunus pedang, penonton menahan napas. Dalam mitologi, momen ini selalu tragis. Di tangan Ngesti Pandowo, ia menjadi elegi yang mengguncang.

Druna meninggal bukan sebagai ksatria Hastina, bukan sebagai guru Pandawa. Ia meninggal sebagai manusia yang terseret oleh cinta, politik, dan harga diri—segala hal yang membuat manusia tak pernah sepenuhnya bijak.

Ngesti Pandowo: Menjaga Nyala, Mengolah Ulang Kisah Tua

Kisah ini tidak bisa berhenti pada lakon saja. Karena apa yang terjadi di TBRS malam itu adalah bukti perjalanan panjang sebuah kelompok seni yang pernah jatuh bangun, berpindah gedung, kehilangan generasi, kehilangan anggota, tetapi tak pernah kehilangan kepercayaan.

Ngesti Pandowo tidak menampilkan wayang orang sebagai museum hidup. Mereka menampilkan tradisi sebagai organisme—mengalami, menyesuaikan diri, bernafas melalui tubuh aktor masa kini. Dalam lakon Duhyang Druna, itu terlihat dari perpaduan gerak klasik dengan dramaturgi modern, permainan cahaya yang lebih sinematik, hingga dialog yang menjaga roh pakem tanpa kehilangan relevansi.

Kadisbudpar Semarang Indriyasari menyebut Ngesti Pandowo sebagai “penjaga denyut seni pertunjukan Semarang.” Pernyataan itu bukan basa-basi. Di tengah gempuran konten cepat dan hiburan instan, Ngesti Pandowo tetap menghadirkan teater tubuh yang membutuhkan disiplin dan kesabaran—dua hal yang semakin langka.

Kesunyian yang Tertinggal di Ruang Panggung

Ketika lampu akhirnya padam dan tepuk tangan panjang memenuhi gedung, ada semacam keheningan batin yang tertinggal. Penonton keluar dengan perasaan yang tidak mudah dijelaskan: semacam empati pada guru yang tak dihargai, semacam duka pada ayah yang tak berdaya, semacam perenungan pada diri sendiri.

Karena Druna, pada akhirnya, ada di dalam setiap manusia—di ambisi, di luka, di janji yang ditekan oleh hidup, di cinta kepada keluarga, di pertarungan antara yang benar dan yang perlu dilakukan.

Dan Ngesti Pandowo malam itu tidak hanya memanggungkan lakon lama. Mereka membangkitkan tragedi itu ke dalam tubuh kita—agar mitologi tidak hanya diingat, tetapi juga dirasakan. []

————————–
Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis, penyuka seni budaya, tinggal di Semarang.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top