5 Jam di Hajimena

Oleh Dahta Gautama

DUA tahun lalu, Misnan Pondan kirim pesan melalui aplikasi Telegram. Ia bilang, saya harus pulang ke Hajimena. “Penting!” tulisnya.

Pesan yang ia sampaikan sudah sering lewat dan saya lalaikan. Kalaupun saya pulang ke Lampung, saya tak ke Hajimena. Tapi, ke rumah kami di kawasan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung. Lebih banyak berada di dalam rumah, dan hanya 2–3 hari. Kebetulan anak bujang bungsu, saat itu masih kuliah di Bandar Lampung.

Kalaupun ke Hajimena, tidak sebenar-benarnya ke Hajimena. Saya hanya datang untuk ziarah ke makam ibu, di Dusun Sumbersari, komplek pemakaman umum.

Menuju Sumbersari, saya ambil jalur potong. Lewat Terminal Rajabasa. Terus ke Jalan Kapten Abdul Haq, naik Fly over ke Jalan Haji Komarudin, masuk ke Perumahan Bataranila yang masih masuk wilayah administrasi Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Tak jauh dari Bataranila, letak makam ibu.

Ayah, kakak tertua, dan adikku Dahnil, dimakamkan di jantung kampung, pemakaman keluarga pas di pintu masuk Perumahan Real Esatate Lumenta. Mampir sebentar karena arah pulang ke Bandar Lampung, lewat sana juga. Saya ambil poros utama, jalur lintas tengah Sumatera.

Dengan demikian, tidak benar-benar menyentuh Hajimena, kampung halaman tempat saya dilahirkan, yang sudah lebih dari 20 tahun ini, menjelma kota yang padat, ekslusif dan asing.

Namun pekan kemarin, entahlah. Saya kangen Hajimena. Kebetulan dalam satu tahun kemarin padat, hampir tak ada jeda di kantor. Perkara dan kasus yang kami pegang mulai stabil.

Tahun kedua pascapandemi, kembali senyap.

Pemilik Kantor Hukum di Jakarta ini, dapat uang seperti main judi. Sarjana hukum yang buka firma makin banyak. Belum pesaing lain yang levelnya sama. Jadi sebenarnya, kalau mau pulang ke Hajimena, ya, bisa kapan saja. Saya perantau di ibu kota, yang tak pernah jadi orang penting.

***

Pukul 02.45, tiba di Bandar Lampung. Tapi saya tak memilih langsung pulang ke rumah di Tanjungkarang Barat.

Saya minta kepada Maman, teman yang nyetir, arahkan jalan ke utara. “Saya ingin ke Hajimena,” kata saya kepada Maman.

Senyap, ban menggelinding tanpa suara, tak ada musik yang distel, wajah Maman tegang kaku, ini pertama dia saya ajak ke Lampung. Dia lahir di Bekasi dan kabar tentang Lampung di Jabodetabek, begitu horor: begal!

Kami melintas menuju Jalan Zainal Abidin PA, dari arah Panjang. Keluar tol Panjang, Maman senyap. Padahal style-nya hobi ngobrol. Masuk Telukbetung, naik ke arah bekas Hotel Indra Puri, tembus ke Jalan Kartini. “Kayak Jakarta juga ya Bang. Gede Kota Lampung,” ujar Maman.

“Ini bukan Kota Lampung, tapi Kota Bandar Lampung,” jawab saya.

Maman ngangguk-angguk.

Roda nanjak di Fly Over Mal Bumi Kedaton, daerah Labuhanratu. “Ini kampung kak Mila. Jadi jangan kira kak Mila orang kampung ya,” kata saya bikin lelucon.

Ups, Kak Mila itu istri, bukan hanya Maman, orangtuanya juga kenal dengan Mila. Saya sering ajak ke rumah emaknya Maman yang ahli urut.

Under pass alias jalan bawah tanah Gedong Meneng, tepat di depan Mal Ramayana kami susuri. Maman tambah takjub.

200 meter lepas underpass, saya minta Maman belok kanan, ya, kami masuk Terminal Rajabasa. Terminal paling terkenal ganas di Indonesia pada masa tahun 1980–2000 pertengahan ini, masih tampak angker. Walau disiram cahaya bohlam, kawasan dengan luas puluhan hektare ini, tak sanggup menutupi bau kelamnya.

Maman saya minta menghentikan roda di terminal atas. Khusus bus antarkota-antarprovinsi.  Dekat pos polisi.

Ada rasa aneh yang menggelayut di dalam dada. Puluhan tahun lampau, ketika SD, di sinilah saya habiskan waktu siang sepulang sekolah hingga Magrib, jual es balon dan air mineral.

Ketika air mineral dalam kemasan botol belum populer. Laku 5 botol saja sudah juara. Penumpang bus, umumnya bawa air di botol bekas sirup dari rumah.

Tidak sendiri. Dari Hajimena, saya bersama Komaludin, Ropendi, dan kakak kedua, Darlis Julian. Kami 4 sekawan. Ke mana-mana harus berempat.

Termasuk, ketika memutuskan dagang es balon dan air mineral botol di terminal kasar, yang sebenarnya tak pantas kami masuki. Karena banyak hal jorok, mesum, dan brutal yang terpaksa kami tatap langsung.

***

Bakda Subuhan di Masjid At-Tajriyah di Terminal Rajabasa. Saya minta Maman, memutar roda kendaraannya.

“Ke mana lagi bang kita?” tanya Maman.

“Hajimena,” jawabku.

Lima menit kemudian, kami pas di gerbang perbatasan Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan. Ya, wilayah perbatasan itu: Hajimena.

Jam 5 pagi lewat 10 menit. Sebelum Balai Desa Hajimena, saya minta Maman parkir rodanya.

“Berhenti di sini, Bang? Ini pinggir jalan besar, Bang. Bahaya. Rame truk tuh,” Maman khawatir.

“Abang ingin mengenang. Rumah di seberang jalan itu, rumah milik gadis yang pernah bikin abang terpesona,” jawab saya sambil ketawa.

Maman geleng-geleng. Saya suruh dia tidur. Saya bilang, jam 6.30 mantan pacar ke kantor. Saya ingin lihat saja. Bagaimana dia sekarang.

Tapi, Maman bilang, gak bakal bisa tidur. Dia sudah minum 4 botol cairan stamina asal Thailand sebelum berangkat. Jadi gak ada ngantuk sama sekali.

Saya putuskan lanjut jalan. Gadis tertinggal pada masa lalu. Walau ikut terus ke mana pun saya pergi. Kalau saja dulu saya lebih berani?

Kalau saja dulu saya bukan pemuda miskin…

Aah, sudahlah.

Hidup memang begitu. Hidup tak ada aturan. Tapi aturan main tetap harus ditaati. Orang miskin ya mesti tahu diri. Tapi tak ada yang harus disesalkan.

Pas di depan balai desa, saya minta Maman berhenti lagi.

“Ini rumah kami dulu, Man.”

Rumah dua lantai yang kini milik orang. Saya hanya hingga kelas 5 SD menetap di sini. Ayah bangkrut, terpaksa kami harus pindah ke kebun.

Meski setengah jamberhenti tepat di depan rumah di tempat saya dilahirkan, saya tak memikirkan apa-apa. Saya hanya heran saja, hampir 50 tahun lalu, saya pernah menetap di dalam rumah itu. Makan tidur di sana. Tidak ada ekstase. Dan, ketika waktu membawa saya, berada nun jauh dari kampung halaman. Dari rumah ini! Saya anggap itu sebagai dinamika gerak.

Namun, sekilas saya melihat wajah ayah. Ia berdiri di depan rumah itu. Pakai sarung dan kaos sanghai. Lambat, lambat… menghilang.

Duuh.. ayaah.. anakmu kangen.

***

Kami jalan lagi. Saya katakan kepada Maman, kampung saya, Desa Hajimena. Barangkali, desa paling luas se-Indonesia. Penduduknya kini sangat penuh.

Pada Pemilihan Kepala Desa tahun 2022 lalu, mata pilihnya saja diatas 12 ribu orang. Itu yang tercatat sebagai pemilik KTP Hajimena. Padahal, lebih dari separuhnya, adalah warga migrasi dari berbagai daerah dan kota yang tak ber-KTP warga kampung ini.

Sangat mungkin jumlah penduduknya mencapai 24 ribu jiwa. Karena 70 persen Desa Hajimena dipadati oleh perumahan-perumahan milik Develover. Dari perumahan murah subsidi hingga real estate.

“Pantasnya, Desa Hajimena dibagi jadi 4–5 Desa. Saking luas dan penghuninya yang meluber,” kata saya.

Ah, tapi mana si Maman paham? Dia dari lulus SMA sudah nyopir. Gak mau repot-repot mikir.

Ya, tak dia tanggapilah, apa yang saya jelaskan kepadanya.

Sudah Pukul 8.50 WIB. Kami berhenti lagi di depan Rumah Makan Silawati. Rumah makan ini, sudah berdiri sejak saya SMP.

Kendaraan yang tak pakai tol, wira-wiri. Kebanyakan didominasi bus, truk, dan tronton. Ini lintas utama Sumatera.

Sebelum terbentuk lintas timur dan lintas barat. Apalagi ketika tol belum dibangun, kini yang disebut sebagai Jalan Lintas Tengah Sumatera ini adalah satu-satunya jalan penghubung dari Aceh ke Jawa.

Anehnya, meski konsentrasi lalu lintas sudah dipecah jadi 4 lintas. Lintas tengah ini, masih sibuk dan padat seperti masa dulu.

Meski bising. Saya masih sanggup merenung. Hampir tepat di depan Rumah Makan Silawati, berdiri megah Lotte Mart. pusat perbelanjaan grosir asal Korea Selatan.

Sejajar Lotte Mart, berdiri pom bensin, Dealer Mobil DFSK, Daihatsu, Toyota, Honda dan beberapa bangunan swalayan bahan bangunan.

Sejajar dengan Rumah Makan Silawati yang kini sudah layu itu, berdiri Dealer Mobil Suzuki, Hino, Mitsubisi, pabrik besi dan bubut, dan Supermarket bahan bangunan besar. Bahkan tetangga desa, masuk wilayah Desa Pemanggilan ada Dealer Mobil Mercedes.

***

Pikiran mengerucut ke masa 30 tahun lampau. Apakah ini kampung halaman saya? Di mana kali kecil itu? Udang batu? Di mana orang-orang yang pernah saya kenal sangat erat?

Saban pulang ke Hajimena, saya tak ketemu siapa-siapa? Error! Bahkan, saya sulit menemukan diri sendiri di sini.

Tiba-tiba kepala saya pusing, lambung rasa berantakan, ada benda yang mau pecah. Dan benar saja, saya muntah. Jika saya stroke di sini, pasti tak ada orang peduli. Tak satu pun orang Hajimena yang mengenali saya.

Maman membawa masuk saya ke dalam tubuh roda. Mendudukkan saya di kursi tengah.

“Kenapa bang? Abang sakit?” tanya Maman.

“Enggak, gak apa-apa. Saya gak pernah sakit. Saya hanya pusing. Kita cari teh manis hangat di warung.”

Jam 10.20 WIB. Kami sudah di Rumah Makan Padang, disekitar jalan protokol. Masih di Hajimena. Maman kelihatan cemas. Dia khawatir saya ada apa-apa. Dia pesankan saya makan pakai rendang dan lauk-lauk lain. Dipesankan pula jus alpukat. 

Melihat cemasnya. Saya senyum-senyum sekaligus haru. Dia pegawai yang cakap dan bermartabat. Bayangkan, berkali-kali pulang kampung, saya tak pernah ketemu siapa-siapa yang bikin hati rendzevous.

Hari ini, ya, pulang kampung, kemudian masuk angin, ketemu sahabat ya Maman, orang yang ikut saya dari Jakarta.

“Jadi Bang, ke rumah Bang Misnan Pondan? Yang kata Abang teman masa kecil Abang yang masih hidup,” tanya Maman.

“Tak usah! Dia juga sudah pergi dari Hajimena. Menuju rumahnya ekstrem, karena rada di dalam-dalam, masih jalan tanah dan batu,” kata saya ke Maman.

“Kita ke rumah abang di Tanjungkarang Barat. Nanti kamu tidur dulu ya, kan sudah kenyang? Sore ini, antar abang ziarah.”

***

Malam pukul 21.40 WIB. Kami kembali ke Jakarta. Kembali atau pulang? Entahlah..

Di jalan, wajah teman-teman masa kecil hingga remaja yang telah wafat membayang. Mereka pergi usia dara. Samsudin, Handoko, Ropendi, Upik, Herwanto dan Arius.

Saya membayangkan style guyon mereka. Punya fashion masing-masing. Saya membayangkan, selalu berada pada usia bujang di kampung yang penuh semak belukar, kebun kacang, hutan tangkil, rawa-rawa, dan gadis tetangga yang matanya bagus itu.  []

Bintaro, 18 Oktober 2023

————-
Dahta Gautama, lahir di Hajimena, Lampung Selatan, 24 Oktober 1974. Mempelajari sastra sejak 1990. Mulai memublikasikan puisi-puisinya pada 1993. Puisi-puisi dan sedikit cerpen dipublikasikan di koral lokal dan nasional, di antaranya Kompas, Republika, Media Indonesia, Jawa Pos, Merdeka, Lampung Post, Trans Sumatera, Lampung Ekspres, Haluan, Singgalang (Padang), dll.

Puisi-puisinya termuat dalam 37 antologi puisi bersama. Antara lain, 100 Puisi Terbaik Indonesia 2008 (Gramedia), Gerimis dalam Lain Versi (Logung Pustaka), Perjamuan Senja (DKJ), Medan Puisi (DKM), Negeri Abal-Abal (KKK), Gelombang Puisi Maritim (DKB), Hilang Silsilah (DKL), dll.

Buku puisinya Ular Kuning (Pijar Media, |2011) dan Manusia Lain (Bumi Arti Intaran|2013) mendapat apresiasi yang luas dari para penulis resensi. Manuskrip puisinya, Menjadi Camar (2003), Metamorfosis Mimpi (2004), Silsilah Keluarga Kutukan (2008), dan Rumah Anjing (2010).

Berprofesi sebagai advokat di Firma Hukum DG & Partners, Direktur LBH Dinamika Bangsa, Ketua NGO Badan Logistik Informasi (BLI) periode 2008–2015, pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Dinamika News (2006 – 2013), Anggota AJI Lampung (2005 – 2009), pernah jadi Ketua Komunitas Sastra Mata Angin (1995 – 2004) dan Ketua Komunitas Studi Lingkar Filsafat Profetik (1996 – 2002). Kini, ia Candidat Doktor Ilmu Hukum Universitas Borobudur.

* Ditulis untuk buku Terkenang Kampung Halaman, Ingatan-Ingatan pada Tanah Kelahiran, yang bakal diterbitkan Sijado Institute, Desember 2023.