Cerita Bersambung

Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis (01)

PITHA yang baik,

Aku tidak pernah punya keberanian mengatakan atau menuliskan perasaan-perasaanku ini padamu dulu, sejak kita masih kanan-kanak sampai sekarang, hingga aku  nekat saja mulai menggoreskannya perlahan-lahan. Entahlah, surat apa ini namanya. Aku dan dirimu bukan lagi bocah atau remaja yang penuh gairah ingin merasakan dunia hanya milik berdua. Kita kini sudah punya kehidupan masing-masing dengan anak-anak dan mungkin cucu-cucu.

Sangat terlambat! Tiada berguna. Tapi, aku tetap merasa perlu menuangkannya dalam lembar-lembar surat ini. Tidak lagi untuk merayumu, mencari perhatianmu, dan merebut hatimu,  tetapi sekadar membukakan rahasia hatiku yang terpendam hingga rambutku kini lebih banyak dikeliri warna putih.

Ya, Pitha, tidak lebih dari keinginan untuk bercerita. Kisahnya akan saya susun secara kronologis saja agar lebih mudah bagi kita mengembalikan ingatan tentang pertemuan-pertemuan, momen-momen indah, dan berbagai kejadian yang membekas dalam kenangan kita eehh… mungkin hanya diriku yang mengabadikannya dalam album memoriku yang tak lekang karena waktu.

Aha, walau kita sekota, sudah lama kita tak bersua. Bahkan, alamatmu pun aku tak tahu. Jadi, ke mana pula surat ini hendak kukirimkan. Yang penting ditulis saja dululah.

***

Pitha yang manis,

Aku tak tahu, aku terpana, ketika melihatmu untuk pertama kali. Seorang gadis cilik tiba-tiba masuk ruang kelas kami bersama Pak Hendri, wali kelas kami, dan diperkenalkan kepada kami, sama denganmu, juga anak-anak. Cuma bedanya, kami bocah-bocah kampung yang kumal dan dekil. Engkau kayaknya lebih bersih, baju terserika rapi, rambut panjangmu diikat rapi, dan senyummu sangat enak dinikmati. Ya, jelas saja, engkau pindahan dari SD kota mengikuti orang tuamu yang bertugas di desaku.

“Mulai hari ini Pithagiras menjadi teman kalian di kelas ini,” kata Pak Wali Kelas setelah memperkenalkan dirimu.

Awal masuk, Pitha duduk sebangku dengan Hesti di bangku nomor dua sebelah kanan. Eh, beberapa hari kemudian, Pak Hendri kemudian berkata, “Kelas kita perlu penyegaran. Kita atur lagi tempat duduk. Semua berdiri di depan dulu. Semeja sepasang ya. Laki-laki dan perempuan.”

Demikianlah, setiap siswa sudah mendapatkan tempat duduk dengan pasangannya masing-masing, siswa-siswi, kecuali ada dua yang tidak mendapat pasangan sama-sama laki-laki. Dan, aku… astaga, engkau dipasangkan denganku, Pitha. Meja kita persir berhadapan dengan meja Pak Hendri. Malu aku! Mukaku merah disoraki teman-teman. Tapi, dalam hati, aku senang. Ya, senang saja duduk dekatmu. Cinta, hahai… aku belum mengerti perasaan semacam itu.

>> BERSAMBUNG

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top