Human

Pencurian Jasad Nabi

Oleh Gufron Aziz Fuadi

WAKTU saya SD guru agama kami, Pak Ahmad Mujiono,  bercerita tentang sultan Nuruddin Zanki. Sultan yang menguasai wilayah Suriah utara, Allepo, Mosul Irak, dan sebagian Mesir. Wilayah yang sekarang dikenal sebagai tempat tinggal bangsa Kurdi.

Setelah PD I, oleh pemenang perang, bangsa Kurdi tidak disatukan dalam suatu negara, tetapi dipecah dalam beberapa negara. Ada yang di Turkiye, Suriah, Irak dan Iran.

Memang Sultan Nuruddin Zanki dan keponakannya Shalahuddin al Ayyubi berkebangsaan Kurdi.

Tiga tahun sebelum merebut kembali al Aqsha Palestina, beliau wafat dan digantikan oleh Shalahuddin sebagai sultan.

Sabagai sultan, kekuatan militer Nuruddin Zanki tidak dilengkapi dengan persenjataan fisik yang hebat dan istimewa, tetapi ia memiliki senjata yang jauh lebih menggetarkan musuh-musuhnya, yaitu kekuatan doa dan pertolongan dari Yang Maha Penolong.

Seorang non-Muslim di al-Quds bahkan mengakui hal ini. “Sesungguhnya Abul Qasim (Nuruddin) memiliki sirr ‘rahasia’ dengan Allah,” katanya. “Tidaklah ia mengalahkan kami dengan bala tentaranya yang banyak, akan tetapi ia menang atas kami dengan doa dan shalat malamnya. Ia shalat di malam hari, mengangkat tangannya kepada Allah untuk berdoa dan meminta kepada-Nya. Dan Allah mengabulkan permintaannya serta tidak menjadikan doanya sia-sia, sehingga akhirnya dia menang atas kami.”

Salah satu peristiwa penting dimasa kepemimpinannya adalah upaya pencurian jasad nabi oleh orang Eropa.

Dalam buku Beberapa Bagian dari Sejarah Madinah karya Ali Hafidh dikisahkan, suatu malam Sultan Nuruddin mimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. Dalam mimpi itu Rasul memanggil-manggil Nuruddin dan menyuruhnya agar segera pergi ke Madinah, karena ada dua orang kulit putih yang hendak menyakiti beliau. 

Bermimpi seperti itu, Sultan Nuruddin pun tersentak dan terbangun dari tidurnya. Betapa jelas kata-kata yang diucapkan Rasulullah Saw tadi. Ia pun segera mengambil air wudhu lalu shalat beberap rakaat. Lalu ia tidur kembali. 

Dalam tidur keduanya, Sultan Nuruddin mendapatkan mimpi yang sama bahkan terasa lebih jelas. Mimpi itu terus berulang hingga tiga kali. Keesokan harinya, Sultan Nuruddin menyampaikan mimpinya tersebut pada Jamaluddin Al-Muwashshali, seorang menteri yang berwawasan luas, alim dan rendah hati. Jamaluddin pun menyarankan agar Sultan segera pergi ke Madinah dan tidak menceritakan mimpinya pada siapa pun. 

Maka, bersama seribu pasukan berkuda berangkatlah ke Madinah. Sampai di Madinah beliau shalat di Raudhah kemudian beranjak kedepan makam nabi sambil merenungkan mimpinya.

Akhirnya beliau meminta agar penduduk sekitar masjid nabawi dan para peziarah dikumpulkan, karena sultan Nuruddin akan membagikan hadiah. Tapi sampai semua orang menerima hadiah, sultan tidak melihat dua orang yang mirip dalam mimpinya.

Kemudian beliau bertanya, apakah masih ada orang yang belum hadir?

Setelah di cek berulang-ulang akhirnya ada yang menjawab, masih ada dua orang shalih peziarah dari Andalusia yang sedang beribadah di Raudhah.

Setelah didatangkan kedua orang tersebut sultan cukup terkejut, karena kedua orang tersebut sangat mirip dengan yang mengancam nabi

dalam mimpinya. Kemudian kedua orang tersebut diinterogasi dan ternyata kedapatan tidak berkhitan. Ketika digeledah rumah tempat tinggalnya didekat masjid nabi, ternyata terdapat sebuah terowongan yang belum selesai dan mengarah ke arah makam nabi.

Akhirnya, kedua orang tersebut dihukum mati, selanjutnya di sekitar makam nabi digali sekitar tiga meter dan dicor dengan besi untuk menghindari hal serupa terjadi lagi.

Sebelumnya upaya pencurian jasad nabi juga pernah dilakukan dua kali oleh raja dinasti Fatimiyah Mesir yang beraliran Syiah. Tetapi selalu Allah gagalkan.

Seperti ditulis oleh Muhammad Ilyas Abdul Ghani dalam buku Sejarah Masjid Nabawi as Syarif, seorang Raja Daulah Fatimiyah bernama Al-Hakim Biamrillah memerintahkan para penjahat agar mencuri jasad Nabi Muhammad SAW. Raja beragama Islam yang menyimpang dari ajaran-ajaran Allah tersebut mendapatkan usul agar mencuri jasad Nabi Muhammad SAW dari salah seorang Zindiq.

Upaya pencurian jasad tersebut guna menarik perhatian masyarakat dan dunia kepadanya serta negerinya. Namun, upayanya pun gagal, karena Allah Swt telah mengirimkan angin besar ke Madinah yang membuat bumi bergoncang pada malam rencana tersebut dijalankan.

Gagal pada usah pertama dilanjutkan dengan usaha kedua. Tetapi saat para penjahat utusannya menggali terowongan, pada malam hari terdengar suara misterius di langit Madinah yang berseru, Terdengar suara menyeru di tengah-tengah masyarakat Madinah ‘Nabi kalian akan digali (kuburnya)’. Masyarakat pun kemudian melakukan penyelidikan dan mendapati utusan Al-Hakim Biamrillah tengah menggali terowongan di dekat Masjid Nabawi. Mereka kemudian dihukum dan dibunuh.”

Upaya melecehkan nabi, baik mencela kesuciannya maupun yang lainnya akan terus dilakukan oleh orang orang bodoh yang membencinya. Dan itu menjadi tanda bahwa Islam sedang bangkit!

Allahumma shali ‘ala Muhammad.

Wallahua’lam bi shawab. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top