Human

Kepasrahan Total

Oleh Gufron Aziz Fuadi

KURANG afdhal rasanya bila pulang dari haji atau umrah tidak membawa air zamzam, meskipun membawa seabrek oleh-oleh. 

Ini karena Mekah selalu identik dengan air zamzam. Air yang pertama kali muncul saat Nabi Ismail masih bayi. Air yang menjadi daya tarik manusia berdatangan ke lembah Mekah sejak semula, setelah sebelumnya hanya lembah tandus tak berpenghuni.

Mungkin tidak banyak yang tahu bila sumur zamzam ini pernah hilang seribu tahun lebih saat penguasa Mekah kala itu Madhadh bin Amru al Jurhumi

menutup sumur itu agar tidak bisa digunakan oleh musuhnya saat dikalahkan dalam suatu peperangan.

Lebih seribu tahun kemudian sumur zamzam ditemukan kembali oleh penanggung jawab pemberi minum jamaah haji, Abdul Muthalib, kakek nabi Muhammad.

Abdul Muthalib menggali sumur setelah sebelumnya bermimpi sebanyak tiga kali agar menggali sumur disebelah utara Ka’bah, tempat yang biasa digunakan menyembelih hewan kurban. Meskipun sempat ragu dan mendapat celaan tokoh tokoh Quraisy lainnya dia dan Harits putranya tetap menggali sampai akhirnya dia menemukan dua patung rusa yang terbuat dari emas, tujuh baju zirah dan tujuh pedang. Barang-barang itu adalah milik Madhadh bin Amru al Jurhumi yang lebih seribu tahun lalu ditimbun untuk menutupi sumur zamzam.

Sejak menemukan kembali sumur zamzam, Abdul Muthalib menjadi tokoh sentral kota Mekah.

Dan, istimewanya air zamzam ini terus mengalir sampai sekarang meskipun digunakan oleh jutaan manusia setiap tahunnya.

Padahal secara “teori ilmu persumuran”, sumur ini tergolong sumur gali manual yang hanya berkedalaman empat belas meter, selayaknya tidak mencukupi kebutuhan jutaan jamaah haji dan umrah.

Tetangga saya punya sumur gali lebih dalam dari itu, bahkan tidak bisa mencukupi kebutuhan sekeluarga sehingga akhirnya membuat sumur bor.

Bila kita tarik ke belakang, munculnya air zamzam tidak terlepas dari kepasrahan total nabi Ibrahim dan Siti Hajar ibu nabi Ismail.

Saat Ismail masih bayi, Allah memerintahkan nabi Ibrahim untuk pergi dari Kan’an (Palestina sekarang) ke lembah Mekah yang tak berpenghuni dengan membawa istri dan anaknya, Ismail yang baru lahir.

Sesampainya di Mekah, nabi Ibrahim membuat tempat tinggal dan menyiapkan kebutuhan hidup secukupnya hingga kemudian datang perintah Allah kepada nabi Ibrahim untuk segera meninggalkan Mekah kembali ke Kan’an dengan meninggalkan Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi.

Ini tentu bukan ujian ringan bagi nabi Ibrahim. Meninggalkan anak dan istrinya di tempat yang tandus, sunyi dan sepi dengan bahan makanan dan minuman hanya cukup untuk beberapa hari saja.

Tetapi Ibrahim adalah nabi yang cinta dan ketundukkannya total kepada Allah. Meskipun sangat berat, tetapi beliau pasti akan tetap melaksanakannya.

Saat Nabi Ibrahim beranjak meninggalkan istri dan anaknya menuju Kan’an, Siti Hajar segera mengejar dan mengatakan, wahai Ibrahim suamiku mengapa kamu tinggalkan kami disini?

Tapi, Ibrahim terus melangkah tanpa menjawab.

Begitu pun setelah diulangi beberapa kali oleh Siti Hajar. Hingga akhirnya Hajar berseru, wahai Ibrahim nabiyullah apakah ini perintah Allah?

Maka nabi Ibrahim pun menjawab, ya ini perintah Allah.

“Kalau ini perintah Allah, maka pasti Allah tidak akan menyia nyiakan saya”, gumam Siti Hajar dengan keyakinan dan kepasrahan yang mantapks…

Sebuah riwayat menceritakan bahwa Nabi Ibrahim tidak menoleh sekali pun kepada Siti Hajar, meski ia menangis dan terus memanggil namanya. Semakin jauh Nabi Ibrahim meninggalkannya, Siti Hajar lalu mengejar suaminya dan mengatakan: “Ke mana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini? Apakah Allah SWT memerintahkan kamu wahai suamiku?” “Benar” jawab Ibrahim. “Kalau begitu, Allah pasti tidak akan membiarkan kami,” kata Siti Hajar.

Hari pun berganti. Persediaan air pun telah habis. Siti Hajar pun berkeliling berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwa tetapi tidak menemukan air meskipun telah bolak balik tujuh kali. Tetapi keyakinan dan kepasrahannya pada pertolongan Allah tidak sirna.

Hingga akhirnya terlihat kaki kecil Ismail memukul mukul tanah dan dari tanah itu muncul air yang terus mengalir sampai sekarang. Air Zamzam yang menyegarkan dan penuh keajaiban…

Pertolongan Allah turun, setelah Siti Hajar berupaya secara maksimal dan tidak putus harapan akan pertolongan Nya. Kadang kita belum optimal berusaha tapi sudah menyangka tidak ada pertolongan Allah.

Kini, sudah lebih 4000 tahun sumber air ini tidak kering, padahal di padang tandus yang jarang sekali hujan. Maka tidak heran bila ada riwayat mengatakan bahwa: “… Sesungguhnya zamzam adalah salah satu mata air dari surga.” (HR Ibnu Abi Syaibah).

Semoga Allah memberi kesempatan (kembali) kepada kita untuk datang ke rumah-Nya dan menikmati segarnya air zamzam di pelataran rumah-Nya.

Wallahua’lam bi shawab. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top