Human

Keutamaan Berkurban

Oleh Gufron Aziz Fuadi

TIDAK lama lagi kita akan melaksanakan Hari Raya Idul Adha. Hari raya yang ditandai dengan penyembelihan atau pemotongan hewan kurban.

Menyembelih kurban adalah suatu sunnah Rasul yang sarat dengan hikmah dan keutamaan. Hal ini didasarkan atas informasi dari beberapa haditst Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, antara lain: 

Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan kurban. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117)

Dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya hari yang teragung di sisi Allah Swt adalah hari Nahr (Hari Raya Kurban), kemudian hari setelah hari Nahr.” (Sunan Abi Daud 1502)

Bila malam teragung adalah malam qadar atau lalilatul qadri. Maka hari teragung adalah hari raya qurban yang jatuh pada tanggal 10 dzul hijjah, sebagaimana sabda Nabi saw di atas dan hadits lain  berikut:

Rasulullah saw bersabda:

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai  Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat pun bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“ (HR. Bukhari)

Ibnu Rajab al Hambali mengatakan: “Apabila sesuatu itu lebih dicintai oleh Allah, maka sesuatu tersebut lebih afdhal di sisi-Nya.”

Hari/tanggal 10 Dzulhijjah menjadi hari yang terbaik karena pada hari itu dilaksanakan pemotongan herwan kurban kepada Allah.

Begitu mulianya ibadah kurban, tetapi dengan kasih sayang Nya, Allah tidak mewajibkan ibadah kurban kepada kita. Para ulama menyebutnya sebagai sunah muakkad, sunah yang sangat dikuatkan.

Rasulullah Saw bersabda:

“Tiga perkata yang bagiku hukumnya fardhu tapi bagi kalian hukumnya tathawwu’ (sunnah), yaitu shalat witir, menyembelih udhiyah dan sholat dhuha.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Seandainya ibadah kurban diwajibkan, maka kemungkinannya akan banyak di antara kita yang melanggarnya dengan berbagai alasan yang tampaknya logis.

Hal ini karena ibadah kurban itu cukup berat apalagi mengingat sifat manusia yang cenderung kikir.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya (perbendaharaan) itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan manusia itu memang sangatlah kikir. (Q.S  Al- Isra’: 100)

Oleh karena itu  Allah mengingatkan dalam surat Al Kautsar: 1-2, bahwa berkurban adalah sebagai ungkapan rasa syukur terhadap banyaknya karunia Allah dan upaya untuk Mendekatkan diri kepada Nya.

“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”  

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba hamba Nya yang pandai bersyukur, suka memberi dan selalu berusaha mendekat kepada Nya…

Wallahua’lam bi shawab. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top