SUARA UNTUK NIA
dari hati
lihatlah aku,
dalam diam
aku merindukanmu di sepertiga malam
aku yang menyimpanmu
pada hujan yang terbawa angin
oleh sepi yang ditaklukan dingin
ada sebungkus doa tentang hujan malam ini
saat Tuhan yakinkan aku
pada setiap langkah meskipun luka
jika bukan dirimu
tidak mungkin aku sepertiini
sekuat tenaga merebut hakku tentang cinta
jadikan bunga untuk tangkainya
percayalah, waktuku adalah pikiramu
terbang tinggi dengan sayap
semanpu mungkin ku kepakkan
menembus makna cinta, sampai akarnya
#PENYAIR:
Penyair bukan pelukis kata-kata
Dirinya adalah nafas segala makna
menyipan irama, sejajar dengan mata
banjir renungan, dinikmati bersama
pada telingan yang tak tersubat
dibibir yang tak terjahit
Penyair bukan penerjemah gelisah
Bukan juga sepi rasa yang merangkai cinta
ada api pada setiap suara
penuh ledakan penuh makna
tak perduli tergilas keinginan
Rohnya abadi, disetiap kata
Penyair bukan pemeggang zaman
bukan pengendali perubahan
dirinya merangkul setiap generasi
dalam ingatan, penuh pemikiran
Penyair bukan penjaga keindahan
Meski sanggup melihat cinta dalam kebutaannya
Tetap santun pada takdirnya
Penyair manusia tak sempurna
Bukan penyembuh jiwa-jiwa terluka
Tak pandai bersembunyi dalam duka
Penyair adalah manusia yang luar biasa!
Dalam kata dan suara-suara bermakna
PERJUMPAAN PERTAMA
menatap jelas
dalamnya isyarat
dari senyuman
ini perjumpaan
kamu cantikhari itu!
hati meraung
tanpa sekat kepada malam
melayang-layang
tanpa sayap dalam senyap
kamu itu rindu
seperti angin yang mendayu
KEHILANGAN
Sedih perih
kota sepi
air mata
basah bumi
pecah rasa
segala asa
dia tak akan pernah kembali
…
IBU
PUISI
Puisi bukan sekadar kata-kata Indah
bukan salinan imajenasi
bukan sekadar hati dalam cara berpikir
bukan semua yang terbaca pada perumpamaan
Puisi bukan sekedar jelmaan kata
bukan salinan amarah dalam senyuman manis
bukan tentang, lihatlah!
bukan tentang, dengarlah!
bukan juga tentang suara yang terlukis
Puisi bukan siapa yang menangis
siapa yang memeluk
siapa yang mengetuk
siapa yang diketuk
Puisi bukan sekedar cerita
bukan sekedar kejujuran
bukan sekadar makna
bukan sekadar rasa
Puisi adalah kamu dalam
hidupmu sendiri
pada kondisi sadar disetiap renungan
#RINDU
biru
kabut putih awan
tapak mengayun sunyi
daun-daun berhamburan
jiwa angin terisi sepi
halus
sentuhan suara tak terarah
angin mendayu rasa
ilalang menari
resahan hati
senja tenggelam
bersimpul doa
tak berhianat
lumpuh aku
bersama bayanganmu
KEPUTUSAN
Ada nyanyian tanpa musik
pada musim penghujan, pecahlah hati
udara mendingin di wajahmu, sore itu
hampir saja aku tenggelam
bersama ketidaktahuan
yang terasa lirih dan juga pedih!
terlalu bodoh pada perumpamaan
tentang cinta dan bukti kehadiran
meski pada tempat yang sama
ternyata arah kereta selalu berbeda
ini bukan aku,
Percumalah cinta,
tanpa keputusan
Percumalah hati,
tanpa kepastian
Ari Suciyanto Siregar, lahir di Jakarta, 26 Februari 1979. Pendidikan terakhir Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma (tidak selesai). Aktif menulis sejak SMA. Saat ini bekerja di PT Cikarang Listrindo..