Sajak

Sajak-sajak Ari Suciyanto Siregar

SUARA UNTUK NIA

dari hati
lihatlah aku,
dalam diam
aku merindukanmu di sepertiga malam 

aku yang menyimpanmu
pada hujan yang terbawa angin
oleh sepi yang ditaklukan dingin

ada sebungkus doa tentang hujan malam ini
saat Tuhan yakinkan aku
pada setiap langkah meskipun luka

jika bukan dirimu
tidak mungkin aku sepertiini
sekuat tenaga merebut hakku tentang cinta
jadikan bunga untuk tangkainya

percayalah, waktuku adalah pikiramu
terbang tinggi dengan sayap
semanpu mungkin ku kepakkan
menembus makna cinta, sampai akarnya

#PENYAIR:

Penyair bukan pelukis kata-kata
Dirinya adalah nafas segala makna

menyipan irama, sejajar dengan mata
banjir renungan, dinikmati bersama
pada telingan yang tak tersubat
dibibir yang tak terjahit

Penyair bukan penerjemah gelisah
Bukan juga sepi rasa yang merangkai cinta

ada api pada setiap suara
penuh ledakan penuh makna
tak perduli tergilas keinginan
Rohnya abadi, disetiap kata

Penyair bukan pemeggang zaman
bukan pengendali perubahan
dirinya merangkul setiap generasi
dalam ingatan, penuh pemikiran

Penyair bukan penjaga keindahan
Meski sanggup melihat cinta dalam kebutaannya
Tetap santun pada takdirnya

Penyair manusia tak sempurna
Bukan penyembuh jiwa-jiwa terluka
Tak pandai bersembunyi dalam duka

Penyair adalah manusia yang luar biasa!
Dalam kata dan suara-suara bermakna

PERJUMPAAN PERTAMA

menatap jelas
dalamnya isyarat
dari senyuman
ini perjumpaan
kamu cantikhari itu!

hati meraung
tanpa sekat kepada malam
melayang-layang
tanpa sayap dalam senyap

kamu itu rindu
seperti angin yang mendayu

KEHILANGAN

Sedih perih
kota sepi
air mata
basah bumi
pecah rasa
segala asa

dia tak akan pernah kembali

IBU

PUISI

Puisi bukan sekadar kata-kata Indah
bukan salinan imajenasi
bukan sekadar hati dalam cara berpikir
bukan semua yang terbaca pada perumpamaan

Puisi bukan sekedar jelmaan kata
bukan salinan amarah dalam senyuman manis
bukan tentang, lihatlah!
bukan tentang, dengarlah!
bukan juga tentang suara yang terlukis

Puisi bukan siapa yang menangis
siapa yang memeluk
siapa yang mengetuk
siapa yang diketuk

Puisi bukan sekedar cerita
bukan sekedar kejujuran
bukan sekadar makna
bukan sekadar rasa

Puisi adalah kamu dalam hidupmu sendiri
pada kondisi sadar disetiap renungan

#RINDU

biru
kabut putih awan
tapak mengayun sunyi
daun-daun berhamburan
jiwa angin terisi sepi

halus
sentuhan suara tak terarah
angin mendayu rasa

ilalang menari
resahan hati

senja tenggelam
bersimpul doa
tak berhianat

lumpuh aku
bersama bayanganmu

KEPUTUSAN

Ada nyanyian tanpa musik
pada musim penghujan, pecahlah hati
udara mendingin di wajahmu, sore itu

hampir saja aku tenggelam
bersama ketidaktahuan
yang terasa lirih dan juga pedih!

terlalu bodoh pada perumpamaan
tentang cinta dan bukti kehadiran

meski pada tempat yang sama
ternyata arah kereta selalu berbeda

ini bukan aku,

Percumalah cinta,
tanpa keputusan

Percumalah hati,
tanpa kepastian


Ari Suciyanto Siregar, lahir di Jakarta, 26 Februari 1979. Pendidikan terakhir Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma (tidak selesai). Aktif menulis sejak SMA. Saat ini bekerja di PT Cikarang Listrindo..

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top