Human

Guru Mengarang

SETIAP kali ditanya, “Siapa guru mengarangmu?”, saya selalu saja gagal menyebut satu atau lebih nama. Sosok-sosok mereka lebih menyerupai kata-kata bersayap, dongeng-dongeng, kisah-kisah, gagasan-gagasan, dan pemikiran-pemikiran besar yang telah mewarnai wajah perabadaban dunia ini. Dalam banyak hal saya tak kan bisa melampaui, bahkan sekadar menyamai kekayaaan batin yang mereka punya yang terlahir dalam bentuk karya yang gemilang yang kemudian dituturkan secara lisan kepada saya dan ada juga yang dalam bentuk tertulis. Tak ada yang menyebutkan nama-nama di balik “penciptaan” ratusan dongeng (folklor) Nusantara, sehingga saya tak tahu nama mereka. Tapi, senyatanya saya hidup dan besar dalam tradisi dongeng-dongeng mereka.

Ketika mulai sekolah dan mulai bisa membaca dan berhitung, saya pun mulai mengenal beberapa penulis. Ow, tentu saja guru mengarang saya adalah guru yang mengenalkan saya huruf dan angka, yang lalu mengajarkan saya membaca, menulis, dan berhitung. Mereka inilah guru mengarang saya di awal-awal. Bukan yang pertama karena sebelum mereka ada ribuan “pencipta tak bernama” dongeng yang telah bertindak menjadi guru mengarang saya. Ya, bolehlah orang yang mengajarkan saya membaca, menulis, dan berhitung disebut guru mengarang juga. Dengan itu, saya sudah bisa merangkai kata menjadi kalimat, menyusun paragraf, dan membentuk satu karangan.

***

Suasana perdesaaan atau kota kota kecil di wilayah Bukit Barisan Selatan di Provinsi Lampung yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu di sebelah utaranya; Gunung Pesagi yang menyimpan legenda asal-usul orang Lampung dan bukit-bukit yang mengelilingi daerah ini menjadi ingatan tak lekang dari saya. Lurah, sungai, Danau Ranau, dan Samudera Indonesia membuat darah saya senantiasa bergemuruh penuh gairah. Orang-orang, kebiasaan, adat-istriadat, pelajaran agama, dan sosial-budaya yang menyertai kelahiran dan pertumbuhan saya menjadi acuan hidup yang sangat jelas dalam perjalanan mencapai tujuan hidup yang hakiki.

Alam, budaya, agama dan apa-apa yang berkenaan dengannya yang tidak mungkin meniadakan adanya campur tangan Sang Pencipta di dalamnya; rupanya telah pula menjadi guru mengarang yang luar biasa bagi saya.

***

Saya mulai “menjelelajah” mencari guru mengarang. Dari sekolahnya, ayah saya yang guru membawakan buku, majalah, dan koran-koran ke rumah. Rumah pun menjelma menjadi taman bacaan mini. Berikutnya menelusuri perpustakaan sekolah, rumah-rumah teman yang mengoleksi bacaan, kios-kios, dan taman bacaan rakyat yang menyewakan buku bacaan.

Kota kecil kelahiran saya 1970-an dan 1980-an tidak terlalu menonjol dibanding kota-kota penting lain di Tanah Air, meski belakangan terdengar pernah melahirkan ulama besar, penulis, dan intelektual.

Saya merasa beruntung. Sebab, meskipun lahir dan tumbuh bersama alam pedesaan, saya mendapat lingkungan yang kondusif untuk memuaskan kenikmatan membaca; apa saja tidak terbatas pada buku pelajaran. Saya termasuk gila baca. Saya suka berebut bacaan dengan seorang teman kecil.  Melihat buku saja, apalagi fiksi, kami langsung berebut. Kalau tidak bisa dipinjam, terpaksa nunggu orang selip atau malah dicuri.

Karena hampir setiap hari berburu bacaan, ketika masih SD, saya  sudah membaca Oliver Twist novel karya Charles Dickens, yang belakangan saya tahu salah satu pemicu lahirnya Revolusi Inggris, Sebatang Kara karya Hector Malot, karya-karya Karl May, dan lain-lain. Tak terkecuali  – dengan sembunyi-sembunyi – bacaan “liar” kata orang atau yang biasa disebut roman picisan. Bahkan dengan sembunyi-sembunyi, membaca juga stensilan.

Dengan membaca, kekesalan, rasa marah, rasa sedih, dan berbagai emosi saya bisa terlampiaskan. Penulis fiksi memang lebih pintar memberikan terapi kepada pembaca dalam menstabilkan jiwa pembacanya, bahkan menumbuhkan sikap terbuka, arif bijaksana, dan demokratis; ketimbang berbagai jenis buku tips, kiat, pedoman, petunjuk, dan  lain-lain yang isinya sangat menggurui. Fiksi atau karya sastra pada umumnya tidak menggurui. Ini guru mengarang juga. guru yang tidak menggurui.

Setamat SMP di Liwa, saya meelanjutkan SMA di Bandar Lampung. SMA yang mempunyai perpustakaan dan dekat Perpustakaan Wilayah (Perpustakaan Provinsi) semakin membuat saya gila baca. Saya terus berkelana dalam dunia keindahan seni berbahasa para sastrawan, baik dalam maupun luar negeri. Termasuk para guru mengarang yang saya temui di berbagai koran dan majalah yang saya langgani. Dari sana saya menjumpai banyak sekali guru mengarang.

***

Seorang bertanya lagi pada saya, pernah ikut pelatihan mengarang atau kelas menulis? Punya guru menulis? Saya bilang, tidak pernah dan tidak punya! Guru-guru mengarang saya yang saya ceritakan tidak pernah bertemu langsung dengan saya dan mengajarkan saya mengarang. Pernah, saya mengutarakan kekaguman dan keinginin hendak berjumpa dengan guru mengarang saya. Tapi, Sapardi Djoko Damono benar belaka ketika berkata, “Tak penting benar kita bersua muka. Kita bertemu lewat karya saja.”

Guru mengarang ternyata lebih mudah dijumpai lewat karya-karya mereka. Sebab, karya-karya (sastra) mereka adalah abstraksi dari kehidupan yang sebenarnya. Tabik. []

————–
* Ditulis untuk buku “Guruku Inspirasiku” yang dieditori Julian Utami (proses terbit)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top