Sosok

Apriliati: Perempuan tidak Bisa Melupakan Kodratnya

BERKAT perjuangan RA Kartini (1879-1904), saat ini perempuan Indonesia mampu mandiri dan tidak melulu bergantung pada lelaki atau suami. Pada era ini, masyarakat tidak kaget lagi melihat perempuan memilih bidang pekerjaan yang umum dilakukan oleh kaum laki-laki. Tak hanya di pedesaan atau di dusun-dusun. Tapi, di kota-kota besar pun. Bahkan, perempuan kerap menjadi tokoh Sentral di dalam parlemen.

Untuk memperingati hari kelahiran Kartini, LaBRAK.CO mencoba membahas aktivitas perempuan modern Indonesia saat ini. Muhammad Alfariezie mewawancarai Anggota DPRD Lampung dari Fraksi PDI Perjuangan Apriliati. Berikut petikannya.

Bagaimana pandangan Anda Terhadap aktivitas kaum perempuan di era modern?

Saya melihat aktivitas perempuan di era modern cukup positif. Selain dengan semangat kartini perihal emansipasi perempuan, tentu sekarang kita mengetahui, ada kementerian pemberdayaan perempuan.

Selain itu, pemerintah pusat mau pun daerah konsen terhadap pemberdayaan perempuan. Lalu, sekarang ada kuota 30% untuk perempuan di lembaga-lembaga mau pun organisasi. Kemudian ada juga keterwakilan kaum perempuan di eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Anggaran responsif gender pun sudah disediakan oleh pemerintah. Hal itu membuat perempuan-perempuan di era modern berpeluang dan berkesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional sesuai bidang dan tingkatnya masing-masing.

Apa yang menjadi tantangan perempuan modern?

Persoalan perempuan modern atau perempuan pada masa kini tidak terlalu rumit. Perempuan modern yang turut mengurus rumah tangga dan berkarir sudah pandai mengatur waktu. Mereka sudah membuat manejemen di dalam rumah tangga atau pun di dalam dirinya.

Kuantitas pertemuan antara ibu dan keluarga tidak terlalu menjadi soal. Apalagi pada era saat ini. Terpenting adalah kualitas pertemuan. Apalagi manusia modern saat ini sangat terbantu oleh kecanggihan teknologi. Saat ini ada video call. Karena itu, perempuan tidak lagi terikat dengan persoalan-persoalan keluarga. Selagi mereka mampu membagi waktu dan mengatur kualitas pertememuan dengan keluarga, saya kira tidak ada persoalan bagi kaum perempuan modern untuk tetap berkarir.

Lalu, apa yang menjadi tantangan perempuan modern untuk meraih cita-citanya?

Tantangan perempuan modern untuk meraih cita-citanya adalah dari dalam diri sendiri, dalam keluarga maupun dari masyarakat. Dari dalam diri adalah memotivasi. Perempuan harus tahu tujuan bekerja, beraktivitas dan berkarir itu untuk apa.

Kemudian tantangan perempuan modern dari dalam keluarga. Keluarga harus merestui aktivitas. Selain itu, perempuan harus membuka komunikasi kepada keluarga. Perempuan harus menjelaskan tujuannya beraktivitas.

Lalu tantangan perempuan modern di dalam lingkungan. Manusia, tidak terkecuali perempuan tidak bisa beraktivitas sendiri. Perempuan modern pun mesti mendapat bantuan dari orang lain. Karena itu harus mengerti orang lain juga. Tidak bisa ego dalam hal ini.

Dari segi bidang pekerjaan, apa kaum perempuan mesti dibedakan dengan laki-laki?

Sekarang kondisinya sudah berbeda. Saya melihat perempuan-perempuan di kota-kota besar sudah banyak yang melakukan pekerjaan sebagaimana kaum laki-laki. Saya pernah melihat perempuan menjadi driver taksi.

Di Lampung sendiri, saya juga melihat ada beberapa perempuan yang bekerja sebagai driver Gojek atau Grab. Hal ini adalah bukti perempuan di era ini mampu bekerja di bidang pekerjaan non formal bersama kaum laki-laki.

Pada bidang pekerjaan yang formal pun sama. Tidak ada pembeda untuk perilaku dan perlakuan bagi pegawai laki-laki atau perempuan.

Menurut saya, perempuan modern saat ini harus lebih mengasah kemampuan diri untuk bersaing. Namun, kadang perempuan akan menemukan batas dalam persaingan. Batas itu adalah waktu. Kadang, perempuan ada peran ganda, baik sebagai ibu mau pun istri dari suami dan sebagai masyarakat yang aktif. Dalam hal ini, perempuan harus benar-benar membagi waktu dan menjalankan komitmen dalam keluarga.

Misal, jika ada perempuan yang bekerja sebagai buruh bangunan, apa itu melanggar Hak Asasi Perempuan?

Yang mengetahui kondisi perempuan adalah dirinya sendiri. Kenapa perempuan bisa bekerja sebagai buruh bangunan—walau pun saya belum pernah melihat. Tapi, andai pun ada maka saya mengganggap itu wajar. Apalagi jika untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena ada hal-hal tertentu. Tapi, saya meyakini, perempuan mampu memilah mana kerjaan yang baik untuknya dan yang sanggup ia kerjakan juga yang sesuai minat serta keterampilannya. Karena apa, karena pekerjaan perempuan sifatnya lebih domestik sedangkan pekerjaan laki-laki lebih banyak membutuhkan otot atau tenaga yang ekstra. Sedangkan yang kita ketahui bersama, perempuan adalah makhluk yang perlu dilindungi. Tapi, sebagai manusia tentu saja harus menyesuaikan kondisi. Kalau peluang untuk mendapatkan kerjaan yang sifatnya domestik belum ada sedangkan kebutuhan hidup mesti dipenuhi maka  apa boleh buat. Mungkin salah satu pilihannya memilih bekerja yang sifatnya untuk kaun laki-laki.

Saat ini, mencari perempuan modern yang intelektual tidak sulit. Namun, apakah perempuan yang intelek itu masih memerlukan keterampilan seperti memasak atau menjahit?

Menurut saya perempuan harus tetap memiliki keterampilan seperti memasak. Apalagi untuk mempelajari menu-menu masakan tidak begitu sulit. Kita bisa menggunakan google atau membaca di buku-buku dokter menu. Perempuan tidak bisa melupakan kodratnya sebagai manusia yang bisa memasak, bekerja hingga mengurus keluarga.

Suami memerlukan kontribusi perempuan di dalam berumah tangga. Anak pun seperti itu. Dia akan sangat merindukan dan menginginkan masakan yang dibuat langsung oleh ibu.

Namun, keluarga pun juga tidak boleh terlalu menggantungkan nasib kepada ibu. Keluarga juga mesti memberi pengertian kepada ibu. Jadi,  saling memberi pengertian saja di dalam keluarga. Selain itu, mesti benar-benar memegang komitmen demi tujuan bersama.

Apakah Anda setuju jika ada kata wajar bila perempuan modern saat ini tidak bisa memasak dan malas untuk belajar?

Jelas tidak setuju. Keterampilan memasak bagi kaum perempuan sudah sejak zaman dulu kala. Sejak zaman nenek moyang kita. Artinya memasak itu adalah pekerjaan perempuan atau ibu.

Dulu, di kampung-kampung, perempuan yang boleh menikah adalah yang sudah bisa memasak. Artinya nenek moyang kita memberi gambaran, perempuan dewasa dilihat dari keterampilannya memasak.

Kita tidak tahu bagaimana perputaran roda kehidupan. Tapi, kalau kita bisa memasak maka hal-hal buruk di kemudian hari tidak begitu mempersulit kehidupan rumah tangga.

Saya pikir tidak sulit untuk belajar memasak. Sekarang sudah ada google. Mau menu apapun ada di dalam sana. Perempuan hanya memerlukan kemauan untuk belajar memasak.

Saya mengajak ibu-ibu modern agar bisa memasak. Karena anak dan suami memerlukan perhatian kita. Salah satu perhatian itu adalah dari masakan seorang ibu. Kalau mereka tidak diperhatikan hingga merasa tidak dicuekin maka jangan salahkan kalau nanti anak dan suami sering makan di luar.

Memasak untuk keluarga kan tidak perlu setiap hari. Bisa pada hari-hari  tertentu. Misal, pada hari ulang tahun anak atau ulang tahun suami. Bisa juga pada hari ulang tahun pernikahan. Bisa juga pada saat liburan bersama keluarga.

Menurut Anda, keterampilan apa yang diperlukan dan yang dapat menghasilkan keuntungan bagi kaum perempuan di era ini?

UMKM adalah salah satu penunjang keterampilan bagi kaum ibu-ibu atau perempuan. Terlebih saat ini, kita masih di dalam situasi serba tidak memungkinkan karena Covid-19.

Perempuan yang memiliki keterampilan menyulam bisa bergabung di dalam UMKM kerajinan Tapis. Apalagi saat ini ada akses untuk ke koperasi guna mendapatkan modal usaha.

Saya juga sudah melihat bagaimana aktivitas kaum ibu-ibu pada era pandemi ini. Banyak dari mereka yang sudah melakukan terobosan-terobosan. Salah satu terobosan itu adalah memanfaatkan kecanggihan teknologi. Mereka sudah banyak berkreasi. Bahkan menjual hasil keterampilannya melalui online. Ada juga beberapa kaum ibu yang menjual kebutuhan pokok melalui online. Sistem antarnya pun tidak lagi mereka kerjakan sendiri. Tapi, menggunakan aplikasi dan bantuan driver atau taksi online.

Ibu-ibu PKK di RT saya pun sudah melakukan. Mereka antusias menawarkan barang dagangan seperti keripik pisang melalui group WA. Saya rasa itu adalah salah satu contoh kemandirian perempuan modern. Cara-cara itu cukup efektif dan tidak mengurangi waktu para ibu dengan keluarganya.

Berarti pada era modern ini sudah tidak ada lagi halangan bagi perempuan untuk mandiri?

Tidak ada lagi halangan bagi perempuan untuk mandiri dan berkontribusi bagi keluarga dan bangsanya. Perempuan memiliki hak yang sama dari segi hukum. Begitu pun dari segi politik. Partai politik tidak sah bila nihil keterwakilan perempuan di dalam kepengurusannya. Minimal 30%.

Kemudian kita lihat pada tingkat pemilihan umum. Ketentuan pada tiap dapil mengharuskan ada perwakilan perempuan.

Sekarang permasalahannya ada pada diri perempuan itu sendiri. Mau atau tidak mereka mengasah potensi diri dan meningkatkan pemberdayaan perempuan. Kalau perempuan mandiri dan berhasil maka kita  (DPRD Lampung) pun sangat bersemangat untuk menyuarakan kepentingan dan hak-hak kaum perempuan.

Sekarang kita masuk ke kasus KDRT. Saat ini masih marak kasus KDRT bagi kaum perempuan. Apa pandangan Anda agar kaum perempuan tidak lagi menjadi korban KDRT?

Kita sudah selalu bekerja sama dengan dinas perempuan dan kementerian dan organisasi atau lembaga terkait kasus KDRT bagi kaum perempuan. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya KDRT terhadap perempuan. Di antaranya, kekurang pahaman hukum oleh salah satu pihak. Misal dari pelaku.

Yang kedua bisa juga faktor persoalan ekonomi, kesenjangan pendidikan dan kesenjangan kehidupan. Lalu, ada juga pengaruh teknologi. Ada beberapa tontonan atau bacaan yang tidak tersaring. Ini yang mengakibatkan tontonan atau bahan bacaan menjadi baik semua. Padahal, belum tentu apa yang kita tonton atau baca adalah baik dan sesuai dengan keadaan kita.

Di sisi lain, KDRT dilakukan oleh orang-orang terdekat. Termasuk suami.

Undang-undang kita sudah mengatur terkait KDRT terhadap kaum perempuan. Ada undang-undang tentang kekerasan rumah tangga. Tak hanya aturan. Sanksi pun sudah ditetapkan.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana tindakan hukumnya. Penegak hukum mesti bertindak tegas kepada pelaku KDRT. Kita mengharapkan ada efek jera bagi pelakunya. Jangan kemudian kasus kekerasan rumah tangga mentah begitu saja hanya karena hal-hal yang tidak perlu. Seperti tidak sempat visum atau tidak ada alat bukti atau tidak ada saksi yang menyaksikan. Oleh sebab itu, perlu komitmen.

Kebetulan beberapa bulan yang lalu kita sudah mengesahkan peraturan daerah nomor 2 Tahun 2021 tentang penanganan terhadap perlindungan anak dan perempuan di Provinsi Lampung. diharapkan dari situ, ada kerjasama dengan semua pihak dan masyarakat hingga tingkat RT. Jadi, dari tingkat RT sudah ada respon dan tindakan untuk melindungi anak dan perempuan. Respon dan tindakan itu tidak perlu muluk-muluk. Masyarakat atau Ketua RT cukup  segera memberi informasi kepada aparat penegak hukum jika mengetahui di lingkungannya ada tindak kekerasan terhadap anak atau perempuan.

Dari segi pemerintah, bagaimana penilaian Anda terhadap pendampingan kepada kaum perempuan?

Saya rasa pemerintah sudah mengatur perihal pendampingan itu. Pendampingan itu berbunyi, setiap warga negara wajib menerima pendampingan hukum. Kemudian, korban kekerasan pun sudah diatur dalam undang-udang KDRT. Lalu, hak-haknya juga. Misalnya dari penanganan tingkat pertama dilakukan oleh UPTD Penanganan terhadap perempuan dan anak sebagai korban kekerasan. Sekarang ada juga leding sektor dari dinas perlindungan perempuan dan anak. Kemudian dalam waktu dekat akan ada pelayan terpadu satu pintu untuk perempuan korban kekerasan.

Stimulan apa yang paling dibutuhkan kaum perempuan agar mampu mandiri di era modern ini?

Kesempatan. Berilah perempuan kesempatan. Pada prinsipnya, perempuan mampu melakukan yang terbaik. Jangan perempuan dijegal. Namun, jika sudah mendapat kesempatan, perempuan jangan melupakan kodratnya untuk mengurus keluarga. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top