Panggung

Menulis Jatuh-Bangun

Oleh Lailatun Hermaini K

JIKA ditanya, apakah saya hobi menulis? Terus terang saya bingung menjawabnya. Sebab, hobi menurut KBBI adalah kegemaran; kesenangan yang dilakukan di waktu senggang. Sedangkan saya tidak terlalu gemar menulis (yang runtut dan serius, atau terpola dalam kaidah penulisan), selain waktu senggang saya juga sedikit.. (ciieeee..sok sibuk lah yaaaa… ). Kalaupun ada waktu senggang, biasanya saya melamun, memikirkan sesuatu, sebuah ide, pendapat, atau cerita, tapi yaaa.. sebatas lamunan…  Beberapa ada yang saya jadikan status medsos (seperti sekarang ini), lebih banyak yang menguap terbawa angin entah kemana.

Saya juga belum pernah mengikuti diklat-diklat atau tutorial kepenulisan, karena saya tidak menjadikan kegiatan menulis sebagai tujuan. Bagi saya menulis ya menulis saja, itu juga sebabnya saya jarang sekali mengirimkan tulisan saya ke media karena saya cukup tahu diri bahwa tulisan saya tidak memenuhi kaidah berbagai jenis penulisan.

Namun, jika ditanya pernahkah tulisan saya dimuat media? Saya jawab, “Pernah.” Bahkan, sejak tahun 1987, saat itu saya masih SMP, sebuah puisi saya dimuat di harian Lampung Post. Puisi saya itu saya temukan saat seorang teman mengembalikan sebuah barang pinjaman (saya lupa apa) berbungkus koran. Saat membuka koran itulah saya melihat puisi saya ada di sana. Di masa itu, jangankan untuk membeli koran, untuk memenuhi kebutuhan sekolah kami kakak-beradik pun orangtua saya kewalahan. Tapi pemuatan itulah yang memotivasi saya untuk mengirimkan tulisan-tulisan berikutnya, tanpa tahu dimuat atau tidak…

Tahun 1988-1990 saya mengirimkan tulisan ke majalah anak-anak bersegmen nasional, terutama Ananda dan Bobo. Di situ saya tahu bahwa setiap tulisan yang dimuat ada honornya. Sebagai pelajar dengan tingkat sosial ekonomi pas-pasan, honor ini sangat lumayan. Honor satu tulisan mini (cerita kecil) bisa untuk membayar SPP tiga bulan waktu itu. Dan, masih ada sisanya untuk jajan bakso. Kalau cerpen honornya lima kali lipat. Teman yang sering saya traktir setiap kali saya dapat honor menulis adalah Kartika Megasari (yang hingga saat ini belum saya temukan juga di dunia medsos ). Sebab, dia rajin menemani saya ke kantor pos untuk mencairkan wesel, juga sering saya titipi naskah yang akan saya kirim melalui pos (rumahnya dekat kantor pos Pahoman).

Ada juga majalah anak-anak bertema religi, terbit secara nasional, tetapi lebih banyak beredar di pondok-pondok pesantren. Penerbit hanya mengirimkan majalah sebagai bukti pemuatan, tanpa honor. Tapi, dari media ini saya banyak mendapat sahabat pena dari berbagai wilayah Indonesia yang sebagian besar santriwan dan santriwati.

Maka, tahun-tahun itu adalah tahun-tahun kelam talenta kepenulisan saya. Saya hanya menulis puisi di lembar-lembar catatan kuliah, terselip di antara teori-teori sosial politik yang disampaikan dosen. Cerpen saya hanya separuh jadi, lalu terbengkalai dalam lembar-lembar folio kumal di kantong celana jeans. Hingga lulus kuliah.

Tahun 2000-an di sela-sela waktu senggang sebagai seorang ibu dari dua orang anak, saya kembali menulis. Tidak tanggung-tanggung target saya adalah sebuah novel. Setiap ada waktu kosong saya menuangkan imajinasi saya dalam tulisan, meski tidak setiap hari. Sekitar enam bulan lamanya, di halaman ke 67 saya mulai terengah-engah. Ide masih ada tapi kali ini virus “malas” melanda, ditambah lagi perasaan tidak mendapat dukungan positif dan dianggap membuang-buang waktu di depan komputer.. sedihnya saya ketika itu..

Qadarullah, komputer harus diinstal ulang. Semua file tulisan saya pun terhapus. Flash yang dipakai untuk menyimpan salinan pun hilang. Benar-benar 67 halaman itu sia-sia. Meski jika harus menulis ulang saya bisa, tapi tentu emosi yang terlibat dalam tulisan tidak lagi sama dan saya yakin akan ada pengaruhnya terhadap pilihan kata dan kalimat yang digunakan.

Tahun 2006 saya mulai menulis di blog. Orang bilang penulis blog adalah penulis gagal. EGP (Emang Gue Pikirin). Namun beberapa tahun kemudian blog yang lebih mirip medsos ini tutup dan menjadi situs berbayar, mungkin pemilik situs melirik situs-situs lain yang berkembang pesat saat dijadikan situs bisnis.

Untungnya beberapa tulisan saya masih bisa diselamatkan, karena pernah dicetak untuk kepentingan pemberkasan portofolio sertifikasi guru, saat itu saya menyertakan tulisan-tulisan saya sebagai hasil karya seni, terutama seni sastra. Lumayan untuk menambah poin penilaian.

Saya juga mulai menulis untuk majalah Femina dan Kartini, tahu karya saya dimuat atau tidak jika ada bagian keuangan yang menelpon menanyakan nomor rekening untuk transfer honor tulisan. 

Tahun-tahun berikutnya, saya menulis acak. Kadang artikel, opini, cerpen, apa pun. Tulisan saya lebih banyak diwarnai tentang profesi sebagai praktisi pendidikan. Ada yang dimuat di media lokal. Ada juga yang tidak pernah terkirim kemana pun. Cukup di blog pribadi atau di laman media sosial. Ada yang hanya tersimpan dalam file, lalu hilang saat laptop atau komputernya diinstal ulang. Ada juga yang hanya berputar-putar di dalam pikiran.

Kemarin sore saya mengirimkan sebuah file cerpen kepada seorang sahabat. Sebenarnya tulisan itu saya buat di tahun 2007, tetapi file hilang tak tentu rimbanya, hingga saya tulis ulang dua hari kemarin.

Komentar sahabat saya itu: “Luar biasa, Lela.. Aku seperti membaca karya penulis terkenal. Aku baru tahu kamu bisa nulis sebagus itu.”

Bahkan, dia yang dulu saban hari duduk kuliah, belajar, dan ujian bareng saya pun, tidak tahu kalau saya bisa menulis…   []

———-
Lailatun Hermaini K, praktisi pendidikan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top