Human

Bijak Memilih Sekolah di Era Pandemi

Oleh Jauza Imani

SEORANG teman mulai kebingungan. Apa pasal? Sebabnya ia tak tahu harus menyekolahkan anak bungsunya ke sekolah apa dan di mana. “Bingung saya memilihnya. Sekolah di mana pun tetap saja tak bisa datang ke sekolah. Pasti belajarnya daring. Tambah pusing saya, jika terus-menerus mendampingi anak belajar di rumah!” Begitu katanya sambil uring-uringan. Ha-ha, saya tersenyum menghibur, sambil mentraktirnya makan bakso di ujung gang dekat rumah.

Ya, tak terasa kita sudah memasuki minggu terakhir bulan Maret 2021. Tahun ajaran baru 2021/2022 di Kalender Akademik Pendidikan tinggal sebentar lagi, sekitar bulan Juni/Juli. Beberapa sekolah sudah mulai membuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau Penerimaan Siswa Baru (PSB). Informasi sangat mudah diperoleh melalui situs resmi masing-masing sekolah atau masing-masing wilayah kota/kabupaten secara online.

Setiap sekolah bersaing memberikan promosi dan informasi lengkap mengenai profil sekolahnya. Keunggulan satu sekolah dengan sekolah lainnya sudah bisa dibandingkan oleh para orang tua yang akan menyekolahkan anaknya di sekolah tertentu, termasuk biaya pendaftaran dan uang sekolah keseluruhan.

Metode penerimaan siswa bisa dilakukan secara offline maupun online. PSB online pada umumnya diberlakukan untuk jenjang  SMP, SMA, dan SMK. Penerimaan Siswa Baru untuk jenjang TK, SD, dan SMP dapat dilaksanakan melalui jalur zonasi, jalur afirmasi, jalur perpindahan tugas orang tua dan/atau wali, serta jalur prestasi.

Lantas, mengapa bingung?

Orang tua sudah tentu akan memberikan bekal pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya, baik melalui sekolah formal maupun nonformal. Salah satunya dengan mencarikan sekolah yang dianggap berkualitas. Tentu saja akan ada persaingan di dalamnya. Mulai dari proses seleksi penerimaan, kurikulum sekolah, dan pembiayaan.  

Lalu, bagaimana memilih sekolah di era pandemi Covid-19 ini? Apakah anak-anak tidak berhak menerima pendidikan secara layak di era pandemi lantaran hanya belajar secara daring? Apakah keluhan teman saya di atas adalah sesuatu yang serius?

UU No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 9 ayat (1), menyebutkan, bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Oleh sebab itu, dalam kondisi apa pun sudah seharusnya pendidikan bagi anak tetap menjadi prioritas untuk mencetak generasi yang cerdas.

Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, tentu orang tua pun harus bijak dalam memilih sekolah, setidaknya sekolah yang kooperatif dan komunikatif. Terbuka bagi siswa dan orang tua murid, serta bersedia memberikan informasi dalam berbagai hal mengenai keberlangsungan proses belajar dan mengajar. Hal ini sangat penting karena guru sebagai pendidik di sekolah dan orang tua sebagai pendidik di rumah, serta siswa itu sendiri merupakan satu tim yang harus bersinergi untuk mencapai tujuan dari proses belajar mengajar.

Ada baiknya orang tua murid mencari tahu secara jelas sistem pembelajaran daring atau dikenal juga dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), pemberian tugas sekolah, ekstrakurikuler, komunikasi antara siswa dan guru, dari sekolah yang dituju sehingga ada semacam kesepakatan meski tak tertulis agar nantinya dapat menjalani proses PJJ dengan semangat dan gembira.

Homeschooling juga dapat menjadi salah satu alternatif belajar selain di sekolah. Model pembelajaran di rumah dengan orang tua sebagai penanggung jawab utama, bisa berperan sebagai guru atau juga mendatangkan guru pendamping atau tutor ke rumah.

Pendidikan Karakter

Saya memaklumi apa yang diucapkan teman saya, dan tentunya berharap itu hanya sebatas canda. Sekadar ungkapan kekecewaan terhadap pandemi yang belum juga berakhir dan belum terbiasa dengan perilaku new normal, termasuk belajar secara daring. Namun, bukan berarti orang tua kehilangan semangat untuk merencanakan dan memilih pendidikan terbaik bagi putra-putrinya.

Menurut Pambudi Sunarsihanto, MSc. MBA., dalam webinar Smart Parenting Smart Family, tugas orang tua adalah membantu anak-anak untuk mewujudkan mimpi mereka sendiri. Kesuksesan terukur jika ada keseimbangkan pada empat jenis kecerdasan yang mestinya dimiliki oleh setiap orang, yaitu Kecerdasan Intelektual (intellectual quotient), kecerdasan mengendalikan emosi (emotional quotient), daya juang/kegigihan (adverticy quotient), dan kecerdasan mengendalikan stress (stress management qotient).

Sependapat dengan Pambudi, bahwa pendidikan karakter jauh lebih penting daripada pendidikan berbasis kompetensi. Sudah semestinya ada keseimbangan pula antara pendidikan kompetensi dari sekolah dengan pendidikan karakter di rumah.

Alangkah sedihnya jika kita melihat seseorang yang pintar secara akademik, tetapi tidak bisa diterima dengan baik di lingkungan pergaulannya karena ia tidak mampu menghargai diri sendiri dan orang lain, serta kesulitan dalam bersosialisasi dengan benar.

Nah, kembali lagi kepada peran orang tua untuk membentuk karakter anak selain menemukan passion serta potensi pada diri anak, seperti yang tercantum pada Pasal 26 ayat (1) poin (d), UU Perlindungan Anak, tentang kewajiban dan tanggung jawab orang tua untuk memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti kepada anak.

Terima Kasih Guru

Tidak mudah memang menjalankan tugas sebagai orang tua, terlebih berkaitan dengan pendidikan anak, sebagai titipan Tuhan. Orang tua harus mampu memberikan teladan dan motivasi yang kuat juga solusi dari permasalahan yang timbul, dampak dari pandemi ini.

Perencanaan pendidikan bagi anak harus tetap matang, sekaligus pendampingannya yang membutuhkan ekstra kesabaran. Bagi orang tua yang selama ini memercayakan anaknya di sekolah dengan mengandalkan didikan dari para guru, kini, di saat pandemi mulai bisa merasakan juga betapa berat tugas seorang guru.

Ah, saya mulai paham, mengapa teman saya yang suka makan itu, menggerutu dan merasa pusing saat harus terus-menerus mendampingi putra-putrinya yang masih kecil berjumlah tiga orang itu menjalani sekolah secara daring. Hmm, bagaimana dengan Anda? []

—————
Jauza Imani, Pemerhati anak dan parenting.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top