Kolom

Bukan Penulisnya, Para Pembacanya Manna?

DENGAN RIANG-GEMBIRA, saya selalu sambut undangan menjadi narasumber/pembicara/pelatih menulis — apa pun bentuk tulisannya. Apalagi kalau ada honornya. Hehee….


Senang saja berbagi sedikit pengetahuan atau pengalaman menulis dengan para peserta yang tampak antusias mengikuti setiap sesi pelatihan menulis. Soal ngerti nggak ngerti saya kurang paham. Dari situasi itu tampak minat menulis di negeri ini sangat tinggi.

Apakah yang pernah mengikuti pelatihan menulis yang saya narasumberi lantas menjadi penulis dalam arti menjadi penulis yang kontinyu memublikasikannya ke media atau buku?

Rasanya tidak. Minat menulis tidak berbanding lurus dengan menulis (yang bukan sekadar niat).

Meskipun demikian, saya cukup bergembira ada satu-dua dari puluhan peserta setiap ada acara pelatihan yang kemudian benar-benar menekuni dunia tulis-menulis.

Itu sudah bagus sekali ketimbang tidak ada sama sekali.

Makanya, saya kagum sekali membaca ada gerakan sejuta penulis. Gerakan ini mengingatkan pada gerakan sejuta pohon untuk pelestarian lingkungan.

Yah, namanya juga gerakan. Tujuan bisa tercapai, boleh tidak.

Saya cuma bertanya-tanya itu gerakan kalau sudah tercapai — katakanlah, ada satu juta penulis (buku) tercipta — apa selanjutnya. Apakah mereka-mereka ini yang terpaksa harus membaca dan membeli buku mereka sendiri.

Sebab, saya tak mengkhawatirkan jumlah penulis di negeri ini. Yang menyedihkan adalah pembaca dan pembeli buku (bacaan) itu yang minim. Tabik.  []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top