Sosok

Iqbal Hilal: Jangan Ada Lagi Kepentingan Politik dalam Pendidikan

UPAYA merintis Program Studi Bahasa Lampung sudah dilakukan sejak tahun 1980-an. Beberapa akademisi di bidang pendidikan bahasa indonesia Universitas Lampung menilai sekolah-sekolah memerlukan guru yang berkompetensi untuk mengajar kebudayaan Lampung.

Sebelumnya, Universitas Lampung (Unila) membuka Program Studi Diploma Bahasa Lampung. Akibatnya, sekolah-sekolah kekurangan tenaga pengajar. Guru yang ada hanya lulusan diploma. Sedangkan materi pengajarannya ada yang belum mereka dapatkan.

Masalahnya, Program Studi S-1 Bahasa Lampung tidak bisa segera terwujud karena berbagai persoalan yang justru bukan dari ranah pendidikan.  Unila, sampai membuat program studi Pascasarjana bahasa Lampung. Salah satu tujuannya untuk mengkritik kinerja pemangku kebijakan yang upayanya sempat kurang serius  menyegerakan pembentukan jurusan bahasa Lampung. Padahal, berbagai aspek penting yang ada di Program Studi bahasa Lampung tidak sekadar melestarikan budaya.

Bagaimana pun, Program Studi ahasa Lampung bisa mendatangkan keuntungan bagi akademisi mau pun praktisi. Untuk mengetahui lebih lanjut,  Muhammad Alfariezie mewawancarai dosen Bahasa dan Sastra Indonesia yang disebut-sebut menjadi kandidat Ketua Program Studi S1 Bahasa Lampung  Iqbal Hilal di Sekretariat Badan Pelaksana Kuliah Kerja Nyata (BP KKN) Unila, Jumat, 5/3/2021.

Berikut petikannya.

Beberapa waktu belakangan, Lampung mendapat kabar gembira tentang Program Studi Bahasa Lampung. Apa yang melatarbelakangi Unila untuk mengajukan program Study Bahasa Lampung?

Yang pasti karena ada dorongan eksternal. Program studi Bahasa Lampung dapat terwujud karena campur tangan pihak luar juga. Tentu saja dari masyarakat, pemerintah dan berbagai praktisi yang peduli terhadap kebudayaan Lampung.

Sejak tahun 80-an,  tuntutan melestarikan kebudayaan lokal sudah ada. Pelajaran Bahasa Lampung sudah menjadi materi pembelajaran di sekolah-sekolah. Tapi, provinsi ini masih kekurangan tenaga pengajar. Guru-guru yang ada hanya lulusan diploma. Secara tak langsung, salah satu penyebab pengajaran kebudayaan daerah kurang efektif adalah karena kekurangan tenaga pendidiknya.

Boleh dikatakan, minimnya pelestarian budaya Lampung wajar karena kekurangan guru?

Tidak juga. Guru itu hanya sebagai pengarah. Kalau tidak ada yang ingin diarahkan, percuma juga bila banyak guru.

Pelestarian budaya tidak mungkin terwujud tanpa minat dari masyarakat. Masyarakat sendirilah yang melestarikan budayanya. Tapi, masyarakat tidak mungkin memulai suatu aktivitas melestarikan budaya jika tak ada pemantiknya. Di sinilah salah satu tujuan Program Studi Bahasa Lampung.

Bagaimana menumbuhkan minat masyarakat Lampung agar mau melestarikan budayanya?

Kita mesti kembali mengenalkan hingga membiasakan peristiwa berbahasa Lampung.  Selain itu, tentu saja memperbanyak kegiatan atau pementasan yang terhubung langsung ke masyarakat. Yang pasti kegiatannya seputar kebudayaan Lampung. Seperti berpantun, bersegata hingga bergitar tunggal. 

Untuk waktu pementasannya mesti bergantian. Tujuannya agar masyarakat tidak bosan, karena tiap minggu atau  perb bulan, selalu ada penampilan yang baru.

Kita umpamakan saja nama pentas atau kegiatan itu adalah Mojok Budaya. Penyelenggaraannya bisa di mana saja. Bisa di kampus, bisa di hotel. Atau kita memanfaatkan kecanggihan teknologi. Selain itu, kita juga bisa bekerja sama dengan pengelola pusat perbelanjaan modern untuk memutar hasil seni berupa pantun atau segata.

Tapi, bagaimana jika ada yang malu untuk melestarikan budaya Lampung atau tidak percaya diri untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Lampung?

Memang kita tidak bisa menyangkal kalau ada beberapa orang yang malu terhadap budayanya. Kenapa? Ini tidak lepas dari lingkungan politik.

Saat ini, ada saja orang yang menjustifikasi kalau suku A itu buruk, suku B itu berkelakuan kurang sopan. Citraan-citraan buruk masyarakat terhadap lingkungan atau adat tertentu itulah yang menyebabkan generasi penerus kita merasa kurang percaya diri mengakui budayanya.

Padahal, orang yang bersuku C membicarakan keburukan suka A dan B sebabnya hanya karena sepele. Bisa saja suku C sakit hati karena kalah dalam perebutan kursi kepala daerah atau bisa jadi ketika orang dari suka A menjadi kepala sekolah sedangkan yang C tidak.

Hal apa yang membuat penyelenggaraan prodi ini begitu lama? Atau. memang karena pembuatan kurikulum pembelajaran membutuhkan durasi waktu yang lama?

Lagi-lagi saya mesti mengatakan, tersendatnya Program Studi S1 Bahasa Lampung sejak tahun 80-an, karena faktor dukungan yang kurang maksimal. Selain itu, pembentukan Program Studi ini hanya dijadikan sebagai permainan politik untuk menekan program-program politik.

Jadi begini, ada beberapa pemangku jabatan yang mau mewujudkan adanya Program Studi Bahasa Lampung. Tapi, ada syaratnya. Syaratnya mesti membangun gedung terlebih dahulu. Kalau tidak ada gedung maka mesti ditunda dulu. Jadilah Program Studi Bahasa Lampung baru terwujud sekarang.

Bukankah Universitas Lampung sudah memiliki Program Pascasarjana untuk Bahasa Lampung?

Nah itulah tamparan bagi pemangku jabatan. S1 belum ada. Tapi, S2 sudah muncul. Bahkan, S2 sudah meluluskan para master.

Kalau boleh tahu, sarana dan prasarana apa yang sampai saat ini belum terwujud untuk menunjang kegiatan belajar dan mengajar Prodi Bahasa Lampung?

Kita belum bisa banyak bicara karena Program Study ini masih sangat baru. Belajar dan mengajarnya saja belum terlaksana. Untuk mengetahui kebutuhan tidak bisa menerka-nerka. Kita akan melihat kebutuhan Program Studi Bahasa Lampung beriringan dengan praktik belajar dan mengajar.

Saat ini apa Program Studi Bahasa Lampung sudah memiliki gedung?

Kalau gedung belajar dan mengajar sudah pasti itu menjadi kebutuhan tiap Program Studi. Namun, kita tidak mau menjadikan gedung sebagai alasan untuk menunda. Apalagi Program Studi Bahasa Lampung berada di naungan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung.

Kita memanfaatkan gedung-gedung yang sudah ada saja. Tapi, ada hal yang mesti saya sampaikan. Meskipun Program Studi ini baru, Rektor sudah menggagas pembangunan dua rumah adat dari Sai Batin dan Pepadun.

Rumah adat itu berfungsi sebagai apa?

Bagaimana anak-anak akan tertarik untuk mempelajari sesuatu kalau tidak ada penanda atau simbol yang akan memancing pertanyaan mereka. Fungsi dari dua rumah adat itu adalah sebagai penanda yang membangkitkan semangat belajar mahasiswa.

Dengar-dengar nanti akan ada Laboraturium untuk Program Studi Bahasa Lampung?

Ya iya pastilah. Bentuk Lab itu nanti lebih seperti Lamban Sesat atau Gedung Serba Guna. Fungsinya untuk berbagai kegiatan yang mengenalkan kebudayan Lampung.

Bentuk kegiatannya adalah pementasan kerakyatan. Waktu efektif untuk mengenalkan budaya Lampung kepada masyarakat, minimal mesti dilakukan tiap satu bulan satu kali.

Tujuan kita melakukan pementasan untuk mengenalkan seluruh kebudayaan Lampung kepada masyarakat. Untuk itu, kegiatannya juga mesti melibatkan seniman-seniman atau praktisi panggung pertunjukkan dari tiap kabupaten dan kota.

Praktisi pementasannya mesti bergiliran. Contoh, bulan ini dari kabupaten pringsewu, maka bulan depan bisa dari Tulang Bawang atau daerah lain.

Gagasan Lamban Sesat itu bertujuan tak lain dan tak bukan adalah untuk meramaikan kehidupan masyarakat modern dengan kebudayaan Lampung. Diharapkan dari situ, kebudayaan kita bisa seperti Bali atau Jawa. Bisa menghasilkan penghasilan bagi berbagai kalangan.

Kenapa hanya menerima 70 siswa? Apa karena pihak Unila belum yakin kalau prodi bahasa dan budaya Lampung diminati calon mahasiswa?

Lha masak tidak terpikir. Ini Program Studi baru lho. Tiba-tiba sudah menerima 70 mahasiswa. Ini kan luar biasa. Gedung saja, Prodi ini belum ada.

Selain menjadi guru, apa yang bisa diharapkan dari lulusan Bahasa Lampung?

Khusus guru Bahasa Lampung saja, provinsi ini memerlukan 17 ribu. Belum lagi yang lain. Sebut saja pemandu wisata, pembawa acara dan seniman atau praktisi seni pertunjukkan.

Saat ini, jika kita bicara peluang dari kebudayaan Lampung maka lihat saja acara pernikahan orang-orang Lampung. Jarang sekali kita melihat ada MC yang membawakan acara menggunakan seni dan budaya Lampung. Bagaimana pun cara menghadapi tamu undangan ada tata cara sesuai adat masing-masing. Tentu, ada cara untuk menerima tamu dari adat Sai Batin atau pepadun.

Belum lagi jika kita bicara di tingkat nasional. Tambah lagi jika kita membicarakan duta-duta dari Lampung yang akan ke luar negeri.

Selain itu, bisa menjadi penulis cerita rekaan dan terjemahan. Banyak naskah-naskah kuno berbahasa dan beraksara Lampung yang mesti diterjemahkan sebagai bahan baca atau pembelajaran.

Kalau tidak salah, prodi ini akan menggaet praktisi kebudayaan Lampung untuk menjadi dosen? Ceritakan dong praktisi yang seperti apa yang dibutuhkan?

Kita akan menyesuaikan kebutuhan. Kalau kebutuhannya perihal ber-pepacor maka kita mendatangkan praktisi yang ada di daerah. Mereka akan menjadi dosen luar biasa di sini. Sistem pengajarannya adalah penanggung jawab mata kuliah mendampingi praktisi atau dosen luar biasa dalam pelaksanaan belajar dan mengajar.

Ada yang perlu diinget. Pendampingan dosen luar biasa oleh penanggung jawab mata kuliah bukanlah untuk menilai kinerjanya. Tapi, semata-mata sebagai pembelajaran bagi penanggung jawab mata kuliah agar di kemudian hari dapat memahami dan menguasai materinya.

Jadi, ketika praktisi itu sudah enggan mengajar atau ada hal lain sehingga ia tidak bisa datang maka penanggung jawab mata kuliah bisa menggantikannya. Bisa dikatakan ini sebagai upaya untuk meneruskan ilmu dari si praktisi atau biasa disebut sebagai penguatan dari dalam.

Sekadar untuk informasi, berapa jumlah minimal kuota mahasiswa untuk membuka program studi baru?

Menyesuaikan kuota kelas. Ada yang satu kelas hanya 20. Tapi, menurut saya, jumlah ideal untuk proses belajar dan mengajar di Program Studi Bahasa adalah 28 – 30 mahasiswa.

Kelompok-kelompok bahasa banyak praktik. Jika lebih dari 30 maka akan sulit untuk mendampingi mahasiswa. Karena begini, dosen mesti mengetahui perkembangan tiap mahasiswa. Kalau lebih dari 30, kemungkinan akan belajar secara klasika.

Kalau klasika, hampir sama berceramah. Sedangkan hari ini, dosen sudah tidak lagi memegang otoritas di kelas. Dosen saat ini, hanya sebagai pengarah mahasiswa untuk mewujudkan pemikirannya. Bayangkan kalau satu dosen harus mendampingi 40 siswa untuk durasi waktu yang singkat.

Apa Anda yakin, kalau masih ada generasi penerus Lampung yang mau mengenal kebudayaannya lebih dalam?

Strategi adalah hal yang paling berpengaruh untuk menumbuhkan minat generasi penerus. Kalau kita bersikekeh mempertahankan barang-barang lama, maka hal ini hanya menjadi impian. Artinya, kita tidak perlu ngotot mempertahankan tradisi lama. Tapi, kita mesti mempertahankan dan memadukan dengan perkembangan zaman juga terhadap kebutuhan saat ini.

Coba kita bicarakan persoalan bahasa. Di Lampung, kita mengenal dua dialek. Hingga saat ini, masih ada saja masyarakat yang meributkan dialek itu. Jadi, budaya Lampung belum menyatu. Masih ada ribut-ribut perihal kebudayaan yang justru dilakukan oleh orang-orangnya sendiri. Tapi, saya yakin, gado-gado dari budaya Lampung akan tampil dan dan mewarnai kebudayaan nusantara.

Tidak perlu kita paksa, tidak perlu kita atur-atur. Seiring waktu, generasi penerus yang mempelajari kebudayaan Lampung di Program Study inilah yang akan meluruskan dan mengenalkan ke Indonesia.

Kesimpulan dari pernyataan saya adalah, untuk level nasional, kita tidak usah lagi ngotot berbicara ini milik pesisir atau ini milik pepadun. Tapi, inilah budaya Lampung.

Setelah masuk ke ranah penelitian, barulah kita mendalami dari mana budaya itu berasal dan siapa saja yang ada di sekitarnya.

Terakhir, stimulan apa yang sangat dibutuhkan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Lampung?

Kalau dukungan masyarakat sudah luar biasa. Pemerintah juga pun sudah. Tinggal lagi bagaimana kita melihat perwujudan nyata dari dukungan itu.

Satu lagi, jangan ada lagi upaya-upaya memanfaatkan sistem pendidikan untuk kepentingan-kepentingan yang justru menghambat proses belajar dan mengajar. Karena penghambatan itu sangat berpengaruh bagi generasi penerus dan kebudayaan kita. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top