Sosok

Iqbal Hilal: Gemar Kho Ping Hoo, Suka Belajar Ilmu Kehidupan

Oleh Muhammad Alfariezie

IQBAL Hilal bukanlah seorang yang selalu mengingat-ngingat kisah-kisah kecilnya. Yang dia ingat dari masa kecilnya di daerah Merakbatin, Natar, Lampung, hanyalah perihal permainan masa kecil. Iqbal dan kawan-kawannya bisa dikatakan sebagai anak yang aktif. Saat pulang sekolah, mereka langsung berlari-lari ke arah Way Panas untuk bermain di sawah.

Tidak jarang, mereka  memancing ikan untuk mengisi waktu luang. Tapi, bukan berarti mereka anak yang nakal atau disebut sebagai biangkeladi dari keributan kampung. Justru, ikan hasil memancing mereka selama satu hari, menjadi bahan makanan yang diolah ibu  sebagai menu makan.

Iqbal kecil sangat akrab dengan lingkungan persawahan. Dia dan kawan-kawannya sudah biasa menaiki kerbau di sawah. Selain itu, mereka tidak pernah takut berada di antara ratusan kerbau. Bersenang-senang dengan alam adalah permainannya.

Pengalamannya dalam bergaul pun cukup luas. Dia tidak sekadar bergaul dengan kawan sebaya. Meski tidak intens dan hanya pada moment-moment tertentu, Iqbal pun bermain dengan orang dewasa. Dari sana, dia terbiasa akrab dan mendapat pelajaran tentang menghargai orang yang lebih tua.

Dari segi pendidikan, dosen yang kerap mengajar manajemen pendidikan itu memiliki pandangan sendiri tentang pendidikan. Dulu dia sering didikte oleh guru, disuruh mencatat satu buku hingga ribut di dalam kelas. Selain itu, dia juga memberi penghargaan kepada guru-guru pada zamannya karena sangat perhatian terhadap norma dan etika.

“Dulu itu kita sangat menghormati guru. Ketika kita melihat dari jendela guru sudah berjalan ke arah kelas, pasti kita berhenti ribut-ribut dan bergegas duduk di bangku masing-masing.”

Kendati saat kecil dia suka memancing. Tapi, saat ditanya hobi, justru menjawab hobinya berubah-ubah. Namun, ada yang tidak berubah. Yaitu, membaca Koo Ping Hoo. Iqbal sangat menyukai cerita Koo Ping Hoo karena si penulis pandai mencitrakan tempat, perasaan, dan peristiwa. Ketika membaca karangan yang ditulis justru bukan oleh pengarang dari China, Iqbal merasa berada di dalam negeri yang terkenal dengan Tembok Raksasa.

Selain membaca Koo Ping Hoo, lelaki yang berperawakan tinggi dan kurus itu suka bergaul dengan siapa pun. Bahkan, karena itu, dia enggan duduk di suatu jabatan tertentu. Alasannya, kebijakan akan mempengaruhi pertemanan.

“Teman akan menjadi musuh ketika ada perselisihan karena suatu keputusan. Saya kira, kita semua tahu kalau tidak semua orang mau menerima pemikiran atau keputusan yang kita buat,” katanya di halaman Sekretariat Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unila, Jumat, 5/3/2021.

Pada masa remaja, ada cerita unik dari Iqbal Hilal. Ternyata, dia pernah menunda pendidikan selama satu tahun. Bukan karena tidak naik kelas. Tapi, lebih tepat karena dia tidak lulus seleksi untuk masuk di SMAN 1 Bandar Lampung. Alasannya menunda pendidikan hanya karena hal sepele. Yaitu, karena sempat tidak masuk SMAN 1 Bandarlampung. Dulu, sekolah itu, sesuai dengan prinsipnya yang masuk jam 7 pagi dan pulang jam 10 menjelang siang.

Iqbal yang ingin sekali masuk sekolah favoritnya itu pun tekun belajar. Di bawah sinar lampu petromak, ia banyak membaca. Impiannya pun terwujud dan membuat kaget orang tua. Tidak ada yang tahu dia kembali mendaftar di SMA yang sama dan lulus.

Di dalam keluarga, ternyata dosen bersuku Lampung ini memiliki panggilan akrab dari keponakannya. Dia dipanggil Bam sejak lulus SMA. Sebutan itu dikarenakan ponakannya yang masih kecil belum lancar berbicara. Jadi, akhiran namanya yang berbunyi Bal berganti menjadi Bam.

Baginya, Bam bukanlah sekadar panggilan dari anak-anak yang belum lancar berkata-kata. Tapi, dia punya kepanjangan tersendiri. Kepanjangan dari Bam berdasarkan pemikirannya adalah Bangunlah Aktivitas Malam.

Dapatlah dikatakan kalau kepanjangan dari Bam adalah jargonnya. Jargon ini bukanlah kelakuan iseng atau tanpa arti. Tapi, Iqbal memang sering bangun di malam hari. Meski ada beberapa hal kenapa dia bangun di malam hari, ada satu hal yang unik dari aktivitasnya ketika gelap. Kegiatan uniknya adalah bermain game. Game yang sering ia mainkan, sayang sekali sangat dirahasiakannya.

Bam memiliki karir yang cukup baik. Dia orang yang tekun berproses di bidang pendidikan. Sebelum menjadi dosen di Universitas Lampung, dia pernah menjadi guru. Di antara itu, dia pernah menjadi guru di SMA Swadipa, TSPG Muhammadiyah di Gading Rejo, STM 2 Mei, mengajar sebagai dosen di STKIP Muhammadiyah Pringsewu, sebagai dosen di kampus Wacana Darma dan menjadi dosen luar biasa di universitas Lampung. 

Sebelum menjadi dosen tetap Unila, Iqbal pernah menerima SK pemerintah sebagai pegawai negeri sipil. Ceritanya, ketua jurusan memberi perintah kepadanya untuk mengikuti seleksi dosen di jurusan bahasa dan sastra indonesia. Namun, saat hendak mendaftar, Iqbal melihat pengumuman di suatu kaca. Pengumuman itu berbunyi, “Tidak ada formasi untuk dosen pendidikan bahasa indonesia.”

“Dari situ, kemudian saya mengikuti seleksi menjadi pegawai Diknas. Dan ajaibnya saya diterima. Pergilah saya menemui ketua jurusan. Dia kan yang menyuruh saya mendaftar sebagai dosen bahasa indonesia Unila,” ungkapnya sembari tertawa.

Dia kaget karena ketua jurusan memberi tahu tentang pengumuman yang Iqbal baca waktu itu. Ternyata, pengumuman itu untuk tahun lalu. Karena saat itu Iqbal masih menunggu SK maka dia pun kembali mendaftarkan diri sebagai dosen di Unila. Hasilnya, dia pun diterima. Tapi, nasibnya saat itu sangat mujur. Dalam waktu bersamaan, dia menerima SK dari Diknas dan diterima sebagai dosen Unila.

Nasib baik itu pun berubah menjadi dilema sehingga ia menemui ketua jurusan atau orang yang dihormatinya. Di dalam ruang ketua jurusan, ia mendapat arahan. “Kalau lima tahun ke depan kamu ingin menjadi kepala sekolah, maka kamu ambil saja SK itu. Tapi, kalau kamu ingin menjadi orang yang selalu belajar maka di sini saja,” kata dia Ketua Jurusan waktu itu.

Hingga hari ini pun, Iqbal masih menjadi orang yang selalu belajar. Pembelajarannya sederhana. Yakni, ilmu kehidupan. Dia selalu belajar bagaimana bertemu dengan seseorang dan dia selalu belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan berbagai kalangan. Menurutnya, ilmu hidup selalu menjadi pemikiran manusia sepanjang hayatnya. Ketika berjalan, secara tidak langsung orang akan merenungkan segala sesuatu yang pernah terjadi. Baik pada peristiwa yang lampao maupun yang baru terjadi. []

BIODATA:

Nama: Drs. Iqbal Hilal, M.Pd
Tempat/tanggal lahir: Natar, 21 Januara 1960
Jurusan: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Keahlian: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Pendidikan                :
– SDN 1 Merak Batin Natar
– SMPN 3 Pilial (sekarang SMPN 3 Bandar Lampung)
– SMAN 1 Bandar Lampung
– S1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra  Indonesia FKIP Universitas Lampung
– S2 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pascasarjana Universitas Negeri Malang
Istri: Elfantina
Anak: Rara Diasa D.T., Lana Tantriasa D.T., Saka Patihan D.T., Sangga Rencaka D.T

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top