Human

Bermalam Kok Kerasan dan Suka Nolong Kawan-Kawan

: Hadiah Ulang Tahun ke-44 SMK Teknokra

SEJUJURNYA, saya menulis karena bokek. Pada awalnya sih iya, saya sudah senang banget cerita anak saya dimuat di EsKa Kecil, Suara Karya sekita tahun 1985 waktu masih SMP di Liwa. Saya pun tahu beberapa  minggu kemudian ditunjukkan teman.

Katanya, ada honor untuk tulisan yang dimuat. Tapi, tidak ada wesel yang datang ke alamat saya terkait pemuatan cerita anak saya itu. Tapi tak apa, dimuat saja cerita anak saya itu sudah bagus. Biar saya tambah semangat.

Tapi, ngirim tulisan lagi ke media lain tidak dimuat! Waduhh…

Barulah ketika di Bandar Lampung, diam-diam — dengan menggunakan gonta-ganti nama samaran biar gak ketahuan J —  mengirim puisi, cerpen, dan artikel popular seputar remaja dan persahabatan ke koran-koran Ibu Kota (Jakarta) dan majalah Sahabat Pena. Majalah Sahabat Pena ini sudah kami langgani sejak masih di pekon (kampung), di sini saya menemukan ulasan cerpen yang ditulis sastrawan Alinafiah Lubis (Namanya mirip dengan rekan wartawan Lampung Post [alm] Alinafiah Harahap).

Banyak  mengirim, banyak juga yang ditolak. Biasa saja! Ya, kirim lagi. Syukurlah, ada satu-dua yang nyangkut  dan dimuat Suara Karya, Minggu Merdeka, Simponi, Majalah Sahabat Pena, dll. Saya kepengin dimuat Majalah Hai, yang dipimpin sastrawan terkemuka, Arswendo Atmowiloto. Alhamdulillah, cerpen yang saya kirim, setahun kemudian kembali ke alamat kos disertai surat berisi terima kasih telah mengirim dan tetap semangat. Untuk Kompas, koran ini terlalu serius bagi saya. Tapi, tak urung, saya kirimi juga setelah kuliah. Ya, jelas saja tak dimuat. Emang siapa saya waktu. Hehee…

***

Ini prolog saja, cerita sebelum saya masuk Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra Unila tahun 1991.

Begitulah, jauh sebelum saya kuliah, saya kepingin-nya aktif di pers mahasiswa Teknokra. Bagaimana pun caranya, saya bisa jadi anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tertua di Kampus Hijau ini.

Sempat berkecil hati karena salah satu syarat mendaftar Teknokra kala itu, menyebutkan Indeks Prestasi (IP) minimal 2,5. Nah, saya Nasakom (nilai satu koma). IP semester 1 saya tak sampai 2. Nekat saja saya daftar Teknokra. Saya sertakan setumpuk kliping  tulisan saya di koran-koran. Alhamdulillah, mungkin karena itu, saya diterima menjadi magang anggota Teknokra.

Benar, saya tak salah pilih beraktivitas. Saya pikir, organisasi mahasiswa yang paling keren kala itu ya Teknokra. Dengan pelanggan seluruh mahasiswa Universitas Lampung yang ditarik uang langganannya bersamaan dengan pembayaran SPP, keuangan Teknokra itu sangat mapan.

Selain bisa mebiayai penerbitan koran dan berbagai kegiatan UKM lainnya, ia juga bisa memberi insentf – yang sering kita sebut gaji, hehee – bagi pengurusnya dan honorarium bagi tulisan yang dimuat.

Eh iya, sebelum resmi magang di Teknokra, saya sudah menerima surat permintaan tulisan yang ditandatangani Redaktur Opininya, Budisantoso Budiman  (sekarang wartawan LKBN Antara). Jadilah tulisan, “Politik Kampus, Itu Tabu?” yang dimuat Teknokra, Edisi Awal Desember 1990.  Setelah itu beberapa puisi. Asyik, honor artikel Rp7.500 dan honor puisi Rp5.000 sangat lumayan bagi anak kos kayak saya.

“Kerja” di Teknokra ini memang “kerja gila”. Laiknya pers pada umumnya, Teknokra menjalankan jurnalisme sebenar-benarnya. Setelah In House Training, aktivitas kami sebagai wartawan kampus  berjalan ideal, mulai dari perencanaan (proyeksi), hunting (mencari berita), mengolah tulisan (mengedit), me-lay-out (sempat pakai rugos, baru kemudian sudah print out computer),  mengantar ke percetakan (pernah di Ganesha Baru dan Percetakan Lampung Post) hingga mendistribusikannya.

Selain redaksi, ada bagian keuangan, iklan, sirkulasi, perlengkapan, dan litbang (penelitian dan pengembangan). Dengan begitu, meskipun hanya organisasi mahasiswa dan bukan perusahaan pers, Teknokra sejatinya sudah menjalankan sebuah bisnis pers. Yang jelas, idealisme pers mahasiswa seperti Teknokra lebih terjaga karena aktivisnya tidak terlalu memikirkan bagaimana mencari laba perusahaan.

Makan siang bisa gratis bagi aktivis Teknokra dulu.  Datang saja ke  secretariat pada waktunya. “Tapi, tempe saja ya. Enggak boleh pakai telor,” kata bendahara. Apa pun lauknya, bagi mahasiswa kos, alhamdullah banget itu.

Hmm, Bendahara Teknokra kesayangan sayah meskipun ia pacar orang lain, hehee… namanya Laila Yusro. Dia ini yang paling sering mintai dana liputan, dana begadang, dll. Untuk pribadi, saya paling sering kasbon (utangi) dengannya. Bayarnya nanti langsung dipotong  setelah insentif untuk pengurus cair.  Inilah enaknya jadi aktivis pers mahasiswa. Hiks.. .

Bagi yang begadang (tak ada istilah lembur untuk wartawan), ada lagi akamodasinya untuk makan  malam, dan lain-lain. Makanya, saya dan teman-teman lebih sering ikut begadang di sektetariat. Tidak deadline pun, ada saja yang tidur di sekretariat.  Maka, BKK — yang kependekan dari Badan Koordinasi Kemahasiswaan – diplesetkan menjadi Bermalam Kok Kerasan.

Ya, gimana gak betah. Sarana-prasarana yang dimiliki Teknokra sangat memadai bagi aktivsis untuk mendapatkan banyak keterampilan dan keahlian. Sekretariat dua ruang di lantai II Gedung NKK/BKK (sekarang: Graha Kemahasiswaan) Universitas Lampung. Teknokra punya sepeda kemudian diganti motor yang suka diperebutkan pengurusnya, punya televisi, punya beberapa mesin tik, komputer, buku-buku, berlangganan koran-koran dan majalah, dan sebagainya yang tidak dimiliki  oleh unit kegatan mahasiswa lain, kala itu.

Tidak seperti mahasiswa kebanyakan yang sangat takut ketinggalan peelajaran, anak-anak Teknokra malah punya prinsip yang dibalik: “Kuliah jangan sampai mengganggu aktivitas”. Keasyikan mengejar narasumber dan melakukan  kegiatan lain, wartawan kampus rata-rata kuliah  kelamaan. Ada yang hampir d.o. bahkan… ada tidak menyelesaikan kuliahnya di Unila.Tapi, tidak terlalu masalah. Sebab, rata-rata alumni Teknokra sudah bekerja sebelum selesai kuliah.

Sebagai penulis sebelum bergabung dengan Teknokra, saya memiiki kecendendungan menulis artikel, opini, resensi, atau tulisan panjang. Senang sekali manakali menjadi redaktur saya diminta menjadi penanggung jawab halaman Opini,Budaya, termasuk resensi (buku, laporan penelitian, film, musik, teater, dll).

Senang karena sebagai Redaktur Opini dan Sastra, saya menjadi tahu siapa saja penulis kuat sastrawan terkemuka di kampus Unila dan ada juga dari luar kampus. Dan yang penting, saya bisa NKK, nolong kawan-kawan, … terutama yang lagi bokek. Honor tulisan (puisi, cerpen, artikel/esai, dan resensi) antara Rp5.000 sampai Rp10.000 lumayan gede juga buat beli buku atau traktir pacar di kantin kok.

Jadi, cocok memang kalau Gedung NKK/BKK yang menjadi sekretariat Teknokra kepanjangannya dipelesetkan menjadi Nolong Kawan-Kawan/Bermalam Kok Kerasan.

Bisa jadi karena Teknokra, untuk selanjutnya ketika bekerja di pers — kecuali Majalah Sinar, Jakarta — mulai dari Sumatera Post, Lampung Post, Borneo News, Fajar Sumatera hingga terakhir Lampung News sejak 1995.hingga kini lebih sering dipercaya menjadi jabrik (penanggung jawab rubrik) Opini dan Budaya. Sajauh tulisannya layak, saya tetap sedia nolong kawan-kawan (NKK) dengan memuat tulisan mereka di halaman Opini dan Sastra.

Meskipun agak telat, selamat ulang tahun ke-44 Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra (1 Maret 1977-2021). Tabik! []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top