Esai

[Arsip] Menulis Opini Menurut Bambang Eka Wijaya

“Kenapa tulisan opini yang menjadi rangka baja pada beton pilar ke empat negara demokrasi? Karena tulisan opini sebagai intelectual exercise, selalu menghadirkan kuncup-kuncup baru dalam setiap bidang kepakaran lewat sajian argumen baru, pemaknaan baru, hingga simpul baru yang kehadirannya merupakan syarat mutlak bagi pemuatan artikel opini!”  (Bambang Eka Wijaya, 2015)

TAK pelak lagi, salah satu mahaguru dalam menulis adalah Bambang Eka Wijaya, yang punya kolom tetap setiap hari di Lampung Post: Buras. Berikut adalah “rahasia menulis” dari peraih penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai penulis kolom paling produktif tanpa jeda dari 20 Mei 1998 hingga kini.  


Pengertian dan Pentingnya Opini
Oleh Bambang Eka Wijaya
Kolumnis, Wartawan Senior

OPINI dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ‘pendapat’, ‘pikiran’, dan ‘pendirian’.

Dalam pers atau jurnalisme, opini ada dalam berita, editorial, dan tulisan kolom opini dari para penulis. Dalam berita, opini hadir dalam bentuk pendapat, pikiran atau pemikiran, dan pendirian atau pernyataan sikap dari nara sumber. Keberadaan opini nara sumber dalam berita itu bentuknya menjadi fakta! Dalam berita, tak boleh dan diharamkan masuk opini wartawan atau redaktur medianya! Mencampurkan opini wartawan atau redakturnya ke dalam berita merupakan tindakan melanggar kode etik jurnalistik!

Editorial atau Tajuk Rencana adalah opini resmi dari penerbit bersangkutan. Tajuk lazim disebut sebagai mahkota sebuah media. Sebagai mahkota itu, Tajuk diistimewakan penulisannya dengan bahasa dan pemikiran yang terbaik, tidak diisi dengan istilah atau idiom buruk yang kurang santun. Tajuk seperti mahkota yang memakai permata-berlian terbaik!

Lalu tulisan kolom atau opini, yang di koran mainstream lazim diberi tempat istimewa di halaman atau rubrik Opini. Tempat pemuatannya disebut istimewa, karena halaman tersebut dijaga tidak boleh dimuati iklan! Tulisan dari para penulis itu diberi tempat amat terhormat, steril atau bersih dari bau komersial!


PILAR KE EMPAT DEMOKRASI

Segala bentuk opini yang ada dalam pers itu, secara terpadu kesatuannya menjadi Opini Publik atau Pendapat Umum! Paduan Pendapat Umum inilah yang menjadi kekuatan membentuk bahkan menggiring pandangan warga masyarakat dengan pengertian dan arah pemahaman tertentu. Kekuatan itu menjadikan Pers, motor penggerak Pendapat Umum, sebagai Pilar Keempat Negara Demokrasi setelah Eksekutif, Legialatif, dan Yudikatif.

Sebagai Pilar Keempat Negara Demokrasi itu, fungsi pers selain menjadi penyalur informasi, hiburan dan kultural edukatif (mendorong proses pembelajaran masyarakat), adalah menjalankan kontrol dan kritik terhadap ketiga pilar negara demokrasi–eksekutif, legislatif, dan yudikatif! Kontrol (pengawasan) dan kritik pers terhadap pilar-pilar lain demokrasi itu dilakukan melalui opini yang ada dalam semua dimensinya dalam pers–berita, tajuk, dan kolom opini! Demikian pentingnya opini dalam kehidupan demokrasi!

Tapi apa dasar pers, dengan pendapat umum yang dikelolanya, diberi hak kontrol dan kritik terhadap eksekutif dan legislatif yang dipilih langsung oleh raakyat, serta yudikatif yang diseleksi oleh ejsekutif dan legislatif itu?

Jawaban atas pertanyaan itu ada dalam sejarah, ketika tahun 1791 Thomas Jefferson dan kawan-kawan dan Kongres melakukan Amandemen Pertama terhadap Konstitusi Amerika Serikat dengan menambahkan kebebasan berpendapat dan berserikat (seperti dalam Pasal 28 UUD 1945 kita) ke dalam konstitusinya!

Dasar pers dengan pendapat umumnya diberi hak untuk mengontrol pilar lain yang dipilih langsung oleh rakyat itu, karena pers hidup dengan setiap hari melakukan pemilihan umum secara langsung oleh rakyat melalui mekanisme pasar (electoral market system), jadi keterwakilan rakyat oleh pers selalu lebih ahtual dari eksekutif dan egislatif yang dipilih empat tahun sekali (di Indonesia lima tahun sekali). Artinya, pendapat umum dalam pers itu selain benar-benar cermin suara rakyat, kehadirannya juga benar-benar dibiayai rakyat baik lewat membeli setiap hari medianya maupun memasang iklan–jika medianya tak didukung pembaca yang cukup, selain tak mampu bertahan hidup juga tak ada pemasang iklan!


PILAR BERANGKA BAJA

Sebagai pilar ke empat negara demokrasi yang tentu harus sama kuat dengan pilar-pilar lainnya, opini publik dalam pers itu menjadi rangkaian struktur beton rangka baja bangunan pilarnya! Dalam hal ini bisa diandaikan, opini yang terangkum sebagai fakta dalam berita jadi sirtunya, tulisan opini sebagai rangka baja, dan Tajuk yang memadukan semua irtu menjadi kekuatan terpadu merupakan semennya!

Kenapa tulisan opini yang menjadi rangka baja pada beton pilar ke empat negara demokrasi? Karena tulisan opini sebagai intelectual exercise, selalu menghadirkan kuncup-kuncup baru dalam setiap bidang kepakaran lewat sajian argumen baru, pemaknaan baru, hingga simpul baru yang kehadirannya merupakan syarat mutlak bagi pemuatan artikel opini!

Lantas, apakah dengan begitu halaman opini tak lantas menjadi media vak atau jurnal ilmiah?

Justru penulisan opini harus dibuat berbeda dari jurnal ilmiah, makalah, atau bahan kuliah! Perbedaan itu selain pada bahasanya yang harus merakyat (populer) dan mudah dipahami, dengan kalimat dan alinea yang tak terlalu panjang-panjang, juga harus mengangkat topik masalah yang sedang aktual (sedang ramai dibicarakan orang). Lalu harus berorientasi dan menyangkut kepentingan publik yang luas–tak terbatas hanya pada suatu komunitas seperti jurnal ilmiah cabang ilmu tertentu!


HINDARI 17 TABU

Sebagai kekuatan yang demikian penting dalam demokrasi, agar tulisan opini bisa dimuat dengan sendirinya memiiliki banyak tabu atau hal-hal yang harus dihindarkan!

Redaktur Opini Kompas, Tati Samhadi misalnya, menurut Pepih Nugraha (Kompasiana, 19-6-2012 l 08:52) memasang saringan dengan 17 tabu;

1. Topik atau tema kurang aktual.

2. Argumen dan pandangan bukan hal baru.

3. Cara penyajian berkepanjangan.

4. Cakupan terlalu mikro atau lokal.

5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung.

6. Konteks kurang jelas.

7. Bahasa terlalu ilmiah.akademis. Kurang populer.

8. Uraian terlalu sumir.

9. Gaya tulisan pidato, makalah/kuliah

10. Sumber kutipan kurang jelas,

11. Terlalu banyak kutipan.

12. Diskusi kurang berimbang.

13. Alur uraian tidak runut.

14. Uraian tidak membuka pencerahan baru.

15. Uraian ditujukan kepada orang.

16. Uraian terlalu datar.

17. Alinea pengetikan panjang-panjang.

Tabu ini dikutip lengkap karena berlaku sebagai standar umum pemuatan artikel opini di media mainstream umumnya. Agar tulisan dimuat, negasikan setiap tabu tersebut. Kalau tabunya menyebut Topik atau tema kurang aktual, maka carilah yang aktual dan seterusnya.


HARUS SERBA ORISINAL

Meski ‘Tabu Kompas’ sudah sedemikian banyak, masih ada lagi hal-hal lain sebagai standar umum yang harus diperhatikan dan tak boleh dilakukan!

Yaitu, tulisan harus asli dan serba orisinal, menyajikan sesuatu yang baru dari penulisnya, dari argumen hingga pemaknaan! Selain itu harus dihindari, tulisan bukan plagiasi, bukan saduran, bukan terjemahan, bukan sekadar kompilasi, juga bukan sekadar rangkuman pendapat buku orang lain. Jika sebuah tulisan terbukti plagiat, sanksinya bisa di-black-list, kalau wartawan kena pelanggaran kode etik jurnalistik.

Kemudian, tulisannya belum pernah dimuat penerbitan lain. Tulisan yang sama pada saat sama jangan dikirim ke penerbit lain. Banyak penerbitan mengutamakan ekslusivitas tulisan opini di medianya. Pelanggarnya diberi sanksi black-list!

Demikian pengertian dan pentingnya opini, semoga menjadi pengetahuan yang berguna. ***

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top