Sajak-sajak Febrie Hastiyanto
AKU BERJANJI TAK AKAN SINGGAH DI KOTAMU LAGI
Menekuri jalan menuju kotamu
rambu itu. Dan marka yang setia
Kilometer-kilometer yang lalu
Menjelma titik-titik
rindu.
Kotamu kini bergegas
Tak diberinya kesempatan padaku
untuk melamunkan dirimu
di tepi senja ini.
Hingga malam turun pelan-pelan
Dan lampu jalan hingga mengembun
Bus-bus Sumber Rahayu yang menjarang
Dan kleneng Sate Madura yang lengang
GOSIP PELATARAN WARTEG
Dalam petak 21 meter persegi nasib bangsa didiskusikan.
Kuota pembelajaran jarak jauh.
Harga beras dan gula pasir.
Peraturan Tilang yang baru. Rencana pindah ibukota.
Si Nok pelayan warteg menggarami
12 jenis sayur dan 4 macam lauk pauk.
Di dapur bercat biru tidur disusun dendeng.
Membuat celah diantara karung beras,
empat karpet telur ayam negeri,
tempe diperam dan senyum daun bawang.
Rindu kampung halaman ditindas pelan-pelan.
Anak kedua titip pada mertua.
Anak pertama sudah lulus SMP
minggu depan
Si Nok pelayan warteg menuang
teh melati dalam gelas.
Mengaduk gosip baru dengan keprihatinan, modal utangan,
dan tenaga yang tak dihitung investasi.
Doa yang dipanjatkan pada
malam-malam gemerlap metropolitan.
SENYUM HIJAB MERAH JAMBU
: istri
Di kota ini kita membagi kenangan
Pada gemericik air kran di wastafel
Pandang kaca jendela apartemen yang lapang
Lampu-lampu ibukota yang temaram
Seharusnya engkau ada di sini
Mengusap punggung lenganku
dan bola mata paling manis
senyum hijab merah jambu
Aku cari dirimu
dalam terjaga malam
yang lengang
Namun basah shampo mandi soremu
tak ada
runtuh hati ini
dalam air mata yang tak sempat
menetes
Untukmu di sana
melewati malam yang sedia
Izinkan aku untuk
rindu
——————-
Febrie Hastiyanto. Menulis puisi, cerpen, esai yang dipublikasikan media nasional dan lokal. Puisinya “Sajak Seorang Pejoang yang Dikhianati Senapannya” menjadi finalis Krakatau Award 2009. Bukunya Kota dalam Ranselku (2011). Bergiat dalam kelompok Studi IdeA. Kini tinggal di Slawi Tegal.