Sepasang Kaki Judi
Cerpen Ratna Ning
Perempuan itu menyulutkan lilin yang dipasang dalam baki. Ia mengeja bintang setiap malam, sambil menatap Lilin agar tak padam.
“JANGAN padamkan lilinnya Mak. Adil takut!” Anak itu mengulat. Melihat emaknya yang sedang duduk mencangkung, menjaga lilin.
Sore tadi, Abah Dali sudah pergi. Dengan jaket kulit yang dibelinya di pasar loak, yang sebagian kulit-kulitnya sudah melepuh seperti koreng yang kering. Menjijikkan menurut istrinya. Tapi Bah Dali tidak mau membuangnya. Katanya, Ia tidak nyaman jika tidak memakai jaket kulit itu. Jika dicucipun, Bah Dali selalu rewel untuk cepat mengeringkannya agar sore hari bisa ia kenakan lagi.
Sempat Mak Saroh, Istrinya itu memarahinya atas kecintaan dan ketergantungan Bah Dali pada jaket kulit busuk itu. Tapi Abah balik menggerung, seperti mobil mogok. Tak jarang gara-gara jaket butut itu, pertengkaran besar kerap terjadi.
Bah Dali tak bisa lepas dari kebiasannya mengenakan jaket kulit itu. Seperti juga, abah tak bisa lepas dari kebiasannya berjudi.
Judi yang saudah dianggapnya seperti pekerjaan tetap. Siang ia tidur, malamnya pergi menemui teman-teman yang sudah biasa berkumpul di sarang Judi. Baru pulang menjelang pagi. Selepas subuh setelah Lilin mati.
Sudah seperti babi ngepet saja. Setiap malam Ia pergi, istrinya menyulutkan lilin, menjaganya sampai lilin itu mati. Dan Bah Dali selalu pulang pagi harinya, dengan muka lusuh. Terkadang membawa senyum lalu merogoh saku. Meraup duit-duit lusuh di saku, kadang bercampur recehan seperti hasil ngecrek di bis kota. Sering pula pulang hanya membawa ngantuk.
Istrinya hanya diam saja. Sudah lama, sikap protes atas ketidaksukaannya pada kebiasaan suaminya, dilupakannya. Sejak berkali-kali, perang besar terjadi jika Mak Saroh melarang Bah Dali berjudi.
Semua yang dimilikinya satu persatu raib. Topi laken, gelang bahar di tangannya, jam tangan pemberian adiknya. Terporot habis jadi gadai atau lelang di meja judi. Hanya jaket kulit itu saja yang tak pernah dilepasnya. Lagipun, siapa mau dengan jaket lusuh, dekil dan menjijikkan itu? Jaket yang katanya membawa hoki berjudi?
Satu kali pernah, ia mencuri duit hasil Mak saroh berjualan pecel keliling.
“Aku pinjam, nanti kukembalikan tiga kali lipat dari ini. Kau bisa bayar tagihan listrik yang dua bulan itu. Meminta kembali sambungan pada PLN”
Mak Saroh hanya mengangguk. Semalaman ia tak bisa tidur. Memandangi lilin yang semakin memendek dan nyalanya yang tenang tak tertiup angin malam. Hingga nyala lilin itu hampir mati, Bah Dali pulang dengan gedoran keras di pintu belakang.
“Aku menang saroh….” Bah Dali mengodok saku jaketnya. Sekepal duit lusuh terburai dari tangannya. Ia merogoh saku lagi, recehan recehan logam diburaikan di lantai. Mak Saroh bersila menghitung laba judi Bah Dali. Bibirnya tersenyum, matanya mengeluarkan titik-titik air. Ia bahagia bisa membayar tunggakan listrik dan membayar iuran sekolah Adil dan Dewi. Sementara hati nuraninya meronta.
Sejak kemenangannya hari itu, listrik di rumah kembali menyala. Tagihan dua bulan telah lunas terbayarkan. Bah Dali makin gila berjudi. Mak saroh sudah tidak bisa mencegahnya lagi. Jika hobinya itu dilarang, bah Dali mengamuk seperti kerasukan. Iblis telah merasuki otak bah Dali.
“Apa pun yang suamimu perbuat, kau harus ikhlas Saroh. Kau harus turut. Suami itu nakhoda yang membawamu berlayar. Kau harus turut kemanapun Ia pergi. Bahkan jika aku ke nerakapun, kalau kau istri yang baik, kau harus turut. Tanpa protes. Kau faham?” Doktrin Bah Dali.
Mak Saroh hanya membatun. Tapi ia yang naif seperti tak punya pilihan. Sejak itu, Mak saroh selalu membiarkan kebiasaan Bah dali yang sudah larut menjadi kaki judi.
Sementara listrik di rumahnya makin sering mati. Makin lama mati. Mak Saroh telah mencoba mencari pinjaman ke saudaranya. Ia hanya mendapat sekeresek omelan yang ditentengnya pulang.
“Kau ini bodoh Ceu Saroh. Suami judi kau biarkan saja. Kau kerja menopang hidup hanya dengan berjualan pecel keliling. Laba dari hasil jualan pecel, dimakan dua anakmupun tak cukup. Mana bisa kau sisihkan untuk membayar listrik? Aku tak mau beresiko. Kau minta tolong sekarang, bulan depanpun listrik kau akan kembali digunting. Kemana lagi kau akan cari bantuan. Suruh kang Dali kerja yang bener. Anak istri itu harus diusahakan, dengan usaha yang halal. Biar barokah!”
Perempuan itu pulang dengan berbuntal-buntal rejeki. Berupa omelan dari saudara dan penolakan tetangga. Nikmat apalagi yang akan didustakan? Mak Saroh hanya menyimpan buntalan buntalan kentut itu sendirian. Di otaknya. Di hatinya. Berdesakan dengan buntalan buntalan lain yang sudah tak mampu ia uraikan satu persatu. Sudah tak bisa dirapihkannya pula.
Bah dali itu bukan orang yang malas bekerja. Meskipun Ia hanya seorang buruh. Ia sering diajak bos kayu untuk menebang kayu di hutan. Sebagai tenaga kasar, Bah Dalilah yang menggergaji dan menyeret kayu kayu gelondongan, lalu ia juga yang mengangkut kayu hingga rapi di gudang Bos besar. Pulang dengan satu lembar uang ratusan, yang telah menjadi receh bekas dirinya membeli rokok dan serenceng kopi. Lalu penghasilan itu dibaginya kembali pada Mak Saroh sebagian. Sebagian lagi ia sisakan buat modal berjudi. Mengharap barangkali akan menang main kartu, untuk menambal kebutuhan lain yang berjejal menunggu. Begitu seterusnya. Dan begitu pula, Bah dali selalu membawa kekalahan yang membuatnya kian penasaran.
Mak Saroh tidak bisa berbuat lain, dengan kemiskinan yang semakin beranak pinak akibat ulah Bah Dali. Ia kemudian membuat pilihan yang aneh. Menyangga hobi bah Dali. Toh listrik sudah lama mati. Hasil dagang pecelnya biarlah cukup untuk bekal sekolah dua anaknya dan beras seliter untuk setiap harinya.
Setiap petang, Ia berdiri di daun pintu, mengantar kepergian Bah Dali. Menyalakan lilin, menunggu dua anaknya tertidur lelap di dipan. Menjaga lilin itu agar tak mati. Pagi hari, dengan wajah sembab akibat kurang tidur, Mak Saroh akan menyambut kedatangan Bah Dali dengan harapan suaminya menng judi.
Akibat selalu begadang dengan jubelan pikiran, batuk dan sesak di dadanya, serta nyeri di sekujur tulang punggungnya selalu di derita Mak Saroh. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya memucat dari hari ke hari. Dan listrik, sudah lama mati.
Ia akan merasa senang jika Bah Dali pulang membawa kemenangan. Lalu segenggam duit lembaran dan recehan itu akan Ia gunakan untuk membeli penyakit. Karena ketika duit itu dibawanya pergi ke puskesmas, rasa sakitnya malah kian hari kian mengganas. []