Sajak-sajak Randu Sunerta
DONGENG TENTANG KEPEDIHAN
Kita pernah terbelenggu
pada masa kelam
yang dipaksa mati
di sela-sela bangkai perjuangan.
Kau! si bocah yang dulu
hobi menghisap jari,
sepotong es,
dan putik payudara ibu.
Waktu semakin mencekikmu
dunia ialah hukum rimba
berlarilah ke pucuk gunung
sebab di sana tempat kebebasan
untuk menyerukan duka-papa
kepada gerbang langit.
Bayang, 2020
KATAR
Kita tengah duduk sejajar
menerjang gelombang sukma.
Layar yang cabik,
perahu tiris,
dan genangan air.
Kau dan aku, kita!
segera karam di sini
bersama senja
yang menghabisi dirinya
dalam kurun waktu gelap.
Bayang, 2020
AUBADE DI SEBUAH DANGAU LAPUK
Telah mereka kubur dalam-dalam
duka yang membelenggu
dalam kesepian,
di kala malam.
Pangkal Timur!
adalah awal dari segalanya
percikan api,
dongeng-dongeng burung,
dan orang-orang
yang bangkit dari kematian.
Seorang petani
dengan cangkulnya,
menikmati bekal yang ia bawa
di sebuah teratak tua
dengan cengkeramanya
yang ia peroleh
selepas ucapkan selamat tinggal
kepada pintu rumah.
Bayang, 2020
SISAKAN AKU SEDIKIT TEHMU
Sisakan saja sedikit
walau telah kau teguk
hampir seluruh cawan
yang terisi penuh.
Sedikit saja, sayangku
untuk menghilangkan pahit
di mulut ini,
di antara serpihan
yang telah kau ayak.
Sisakan saja,
walau hanya seteguk
aku juga ingin merasakan
manis dari cintamu.
Bayang, 2020
ORANG-ORANG YANG BERLARI MENERJANG MIMPI
Orang-orang di sebuah seliri
menghadirkan bianglala
tanpa sepengetahuan hujan,
mereka ingin berjalan pada gembira
pada waktu yang mereka pahat,
dalam keadaan duduk.
Mereka ingin bercahaya
dalam pekatnya kelam
mengundang kunang-kunang
yang kedinginan dalam sepi
mereka tau!
cahaya telah padam,
lentera telah pecah.
Pun ingin menjelma sebuah kayu
yang tengah terbakar
oleh kobaran api,
padahal hanya akan menjadi abu.
Tetapi tak ada yang akan menjadi angin
menjadi pengembara yang tak bisa diterka
entah apa lagi yang ingin digugurkan
atau siapa lagi yang ingin tumbang.
Mereka tidak ingin menjadi angin!
Bayang, 2020
——————-
Randu Sunerta, lahir di Padang dan berdomisili di Pesisir Selatan. Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas ini bergiat di Rumah Baca Pelopor19.