Pendapat

Menulis ya Menulis Saja

TADINYA, saya mau menulis komentar saja pada “Menulis di Kompas”-nya Juwendra Asdiansyah (tautan: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10222377771786800&id=1642952692 ). Tapi, kemudian saya putuskan untuk menulisnya tersendiri di dinding Facebook.

Benar, Kompas itu bisa jadi barometer bagi tulisan berkualitas. Karena itu, saya pun ketika mahasiswa (1990–1996) juga mencoba mengirim tulisan ke koran ini. Tidak terlalu banyak. Paling hanya belasan kali. Dan, alhamdulillah sama dengan Juwendra, belum pernah dimuat.
Susah benar “nembus” Kompas, saya pikir.

Ada beberapa alasan yang dikemukakan. Dalam surat balasan terdapat banyak pilihan tinggal contreng saja seperti kurang mengandung gagasan baru.

Benar-benar penasaran saya. Kenapa benar Kompas selalu menolak tulisan saya. Bukan apa-apa, sejak aktif di pers mahasiswa Teknokra dan Republica (1990–1996) hingga pers umum seperti Sumatera Post, Lampung Post, Borneo News hingga Fajar Sumatera (1998-2019), saya hampir selalu dipercaya menjadi penanggung jawab rubrik (jabrik) opini dan sastra/budaya. Boleh dibilang, saya karatan menjadi redaktur opini sekaligus redaktur budaya di hampir sepanjang karier jurnalistik saya. Hanya saya main lokal saja di Lampung dan di Pangkalan Bun, Kalteng (Borneo New).

Akan halnya Lampung Post, diakui atau tidak, dulu — sekarang kurang paham — koran ini “Kompasnya Lampung”. Saya berbahagia bisa jadi redaktur opini sekaligus redaktur budaya harian ini untuk waktu yang cukup panjang.

Sebelumnya, redaktur opini Lampost, ada Heri Wardoyo, Fajrun Najah Ahmad, Uten Sutendi, Oyos Saroso HN, Hesma Eryani, Heri Mulyadi, Rahmat Sudirman, dan Budi Hutasuhut. Sedangkan redaktur budaya Lampost pernah dipegang Aan S Labuan, Isbedy Stiawan ZS, Iswadi Pratama, dan Rahmat Sudirman.

Kelamaan sebagai redaktur opini dan budaya di beberapa media ini, insya Allah, saya sedikit-banyak paham kriteria tulisan yang dimuat media massa. Termasuk, saya langsung “ngerti” mana tulisan bagus dan mana tulisan amburadul.

Kalo tulisan Kak Juwenya sih, siapa pula yang tidak tahu kapasitasnya bila ia mulai menulis. Sebagai petugas koran, saya berkewajiban memuatnya. Mutu tulisan iya tetap! Tapi yang paling penting, ada misi kemanusiaan dalam pemuatan tulisan tersebut. Yaitu, NKK (nolong kawan-kawan) yang lagi bokek. Kan, ada honornya.😀🙏

Dengan pengetahuan dan pengalaman sebagai redaktur opini itu, saya berkeyakinan bisa menembus Kompas. Tapi, astaga, rupanya saya memang tidak bakat atau memang bukan hak saya menulis di Kompas. Dua-tiga kali tulisan saya ditolak Kompas dengan dengan alasan yang sama: “Kesulitan memuat karena terbentur dengan tulisan yang lain.”

Surat balasan Kompas yang terakhir benar-benar membuat saya berhenti mengirim ke Kompas. Dalam suratnya Kompas menulis (kira-kira) begini:

Yth. Dr. Udo Z Karzi

Terima kasih kiriman Bapak. Mohon maaf, kami kesulitan memuat tulisan Bapak karena terbentur tulisan yang lain.

Deg! Malu benar saya dibilang Doktor oleh Kompas. Padahal S1 pun saya kuliah kelamaan dan masih untung bisa saya raih dengan susah-payah.

Lama saya mikir. Akhirnya, kalau tidak diminta, saya jarang menulis di media selain tempat saya bekerja.

Sekarang, untung ada Facebook, sehingga saya tak perlu memikirkan tulisan saya bagus atau buruk, dimuat atau tidak. Hihii…

Jadi, menulis ya menulis saja. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top