Cerita Bersambung

Pertemuan (1)

SATU

Bagaimana dengan sepotong pena kita merebut kekuasaaan! Ahai. Alang besarnya omongan. Itulah hasil nanggung mahasiswa Angkatan 90 FISIP Universitas Lampung (Unila) yang baru belajar politik. Satu di antara definisi politik adalah ilmu dan seni mendapatkan kekuasaan. Nah, kekuasaan, yaitu kemampuan menggerakkan orang lain agar berpikir dan berbuat seperti yang dikehendaki penggeraknya. Tentu saja politik dan merebut kekuasaan menggunakan alat.

Begitulah sebabnya, Aga Ramdo Nihan dan teman-temannya membuat perkataan awur-awuran seperti “Bagaimana caranya dengan sehelai rumput kita melahirkan revolusi”, “Bagaimana jalannya sebutir batu membuat orang ikut semua”, “Bagaimana benar dengan sebuah ranting bisa menggaet cewek cantik”, …

Inilah provokasi kepada mahasiswa baru FISIP. FISIP ini sering diplesetkan mereka menjadi Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pelet. Ada-ada saja. Tapi, masuk akal. Santet dan pelet itu kan sama tujuannya dengan politik: mendapat pengaruh.

Barangkali karena senior-senor sejak Penataran P4, energi mahasiswa FISIP hendak berbicara dan aktif di berbagai macam aktivitas memang berlebih tinimbang fakultas lain. Cuma perasaan mereka saja. Yang lain sebenarnya begitu juga. Tapi, memang ada semacam konvensi, malu jika mahasiswa sospol tidak ngapa-ngapain selain kuliah.

“Masa mahasiswa sospol ngomong di depan orang ramai saja gemetaran. Harus berani berdebat dan berhadapan dengan massa. Laboratorium kita masyarakat dan pemerintah, bukan di leb…,” Begitu nasihat mahasiswa tua yang lebih duluan masuk kuliah.

Betapa gila-gilaannya mahasiswa 1990-an. Meskipun gila, mereka juga penyayang pacar. Romantis tapi revolusioner. Ai kidah, entahlah.

>> BERSAMBUNG

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top