#15
MINGGAT NGAMBEK
Uyung cepat-cepat pulang dari sekolah. Hari panas sekali. Lapah dan haus rasanya. Sampai di rumah, tidak mengucap salam, tidak melihat kiri-kanan, langsung saja masuk kamar, dan melemparkan tasnya.
Belum sempat membuka baju, sudah dipanggil ayahnya Jahri, “Yung, sini kamu!”
Uyung keluar. Di ruang tamu, ada Mamak Hardi selain bak, mak, dan adik-adiknya. Mamak Hardi adalah adik bungsu lelaki satu-satunya Zanaha, maknya Uyung dari Way Mengaku. Uyung sebenarnya sudah sangat akrab dengan Mamak Hardi. Sebab, ketika sekolah SMP, terutama saat menghadapi ujian, Mamak Hardi sempat tinggal dengan mereka di Negarabatin. Sekarang Mamak Hardi sudah bersekolah du Tanjungkarang. Saat pulang pekon, Mamak Hardi sering singgah di rumah, memakai motor Jahri, dan mengajak Uyung berjalan mengunjungi saudara-saudara di Way Mengaku, Pekontengah, Sungi, dan Watos.
Sekarang Mamak Hardi sedang datang ke rumah Uyung.
“Kenapa tidak punya sopan-santun begitu. Tidak dilihat apa, ini ada Mamakmu. Masuk rumah tidak mengucap salam. Ada Mamakmu tidak menyapa. Salam dan sapa, Mamakmu,” Jahri mengomeli Uyung.
Uyung mengulurkan tangan, salam dengan Mamak Hardi. Tapi, dia tidak bicara.
“Yung… tidak sopan. Sapa, ‘Kapan datang, Mamak’ atau apa…,” Jahri bicara keras kepada Uyung.
Tidak berkata-kata, Uyung malah mengurung diri di kamar. Lupa makan. Sakit hatinya karena dimarahi. Entahlah Uyung sekarang mudah ngambek.
Didengar Uyung, Mamak Hardi pamitan. Tidak lama, ia dipanggil baknya, “Sini kamu, Yung…”
“Duduk kamju di situ,” ujar Jahri lagi.
“Ya, Bak,” sahut Uyung lemas.
Diam sebentar Jahri. Dia bicara pelan, “Yung… niku sudah besar. Sudah bersekolah dan mengaji, dan di rumah diajarkan tatakrama, dan macam-macam. Belajar menyapa siapa saja yang datang ke rumah atau bertemu di jalan, siapa saja, terlebih lagi family seperti pakbalak, paklunik, mamak, minan, udo, abang, atau siapa saja. Bermacam-macam cara menyapa. Misalnya, ‘Pesaka ratong?’, ‘Adu mesaka kudo?’, ‘Jak udi kudo?’, ‘Ampai sampai, Mamak?’[1], macam-macam. Jika bertemu di jalan, begitu pula, ‘Aga dipa?’, ‘Jak ipa’, ‘Duma kudo?’, ‘Jak duwai kudo?’[2] atau apa. Jika melihat tamong atau siapa siapa yang sedang bekerja di ladang atau di mana, sapa dengan ‘Taru pai, Mong’, ‘Ngupi pai, Mong’[3] atau apa saja sapaan. …”
“Jangan terlalu berat bicara. Ringankan lidah. Tidak boleh angkuh. Atau, sombong. Rezeki tidak lain dari orang lain. Tapi kalau kita diam saja, tidak pernah menyapa, tidak diketahui orang, bagaimana orang member jika tidak kenal. Kenal dulu, berhubungan bai dulu, barulah berbagi. Masa orang mau memberimu begitu saja jika kenal denganmu saja tidak. Tadi yang datang kan Mamakmu benar. Dia kan memang sering ke sini. Kenapa kok seperti tidak kenal saja. Ia tadi sebenarnya mengajakmu jalan. Ia minta ditemani ke kajjong-mu sekeluarga di Sungi dan Watos. Tapi bagaimana jika kamu seperti tidak punya aturan seperti itu. Masuk tidak ngomong-ngomong. Jadi, bagaimana mau mengajak kamu, ….,” Jahri bicara panjang memberi nasihat kepada Uyung.
Entah, banyak sekali perkataan baknya, ujungnya, “Jangan diulang, Yung. Itu gunanya kalian disekolahkan, mengaji… agar ada akhlak yang baik.”
“Didengar tidak bakmu berbicara?” Jahri kesal sekali melihat Uyung seperti tak peduli.
Uyung mengangguk.
“Ya, sudah…,” kata Jahri.
>> BERSAMBUNG
[1] ‘Kapan datang’, ‘Sudah lamakah’, ‘Dari sanakah?’, ‘Baru tibakah, Mamak?’. Kebiasaan basa-basi ini rasanya agak janggal jika diucapkan dalam bahasa Indonesia. Sebab, ini memang khas tradisi Lampung di desa-desa.
[2] ‘Mau ke mana?’, ‘Dari mana?’, ‘Ke ladangkah?’, ‘Dari pergi ke pangkalan mandikah?’
[3] ‘Istirahat dulu, Mong’, ‘Ngopi dulu, Mong’.