Negarabatin (57)

Satu lagi film yang disukai Uyung dkk, ChiPs yang tayang seusai siaran Dunia dalam Berita Sabtu malam atau malam minggu sekitar pukul sembilan setengah. CHiPs adalah film seri televisi dari Amerika. Film kriminal ini dibuat Rick Rosner. Pemerannya Erick Estrada yang menjadi Officer Francis Llewellyn “Ponch” Poncherello dan Larry Wilcox yang menjadi Officer Jon Baker. Mereka berdua menjadi petugas patrol di Divisi Pusat Los Angeles dari California Highway Patrol (CHP).

Seru melihat Erick Estrada dan Larry Wilcox – Uyung dan teman-temannya lebih mengenal nama asli keduanya ketimbang peran di filmnya – mengejar penjahat dengan motor mereka. Apalagi mengejar penjahatnya diiringi music khas film ChiPs. Sehebat-hebatnya penjahat mengebut entah mengendarai mobil atau motor tidak akan sehebat jagoan balap dua ini. Sekali dua kali lepas, mesti ketangkap juga ketiga kalinya dikejar Erick Estrada dan Larry Wilcox.

Film ini tayang tengah malam karena banyak pemeran gadis-gadis yang mengelilingi Erick Estrada dan Larry Wilcox. Namun, yang ditayangkan di TVRI sudah banyak terkena gunting sensor. Jadi aman ditonton anak-anak.

Erick Estrada dan Larry Wilcox, dua jagoan yang kompak. Ketika Erick tidak main karena kecelakaan, ChiPs kurang asyik. Untung Erick main lagi. Ketika Larry Wilcox berhenti membintangi ChiPs karena ia pulang kampung hendak meneruskan perkebunan orang tuanya di Wyoming, Negara Bagian Amerika Serikat, tidak nikmat lagi menonton film ini. Setelah itu Uyung dan teman-temannya tidak bersemangat lagi menonton ChiPs.

Jika menonton Flash Gordon di tempat Pak PU, ayah Astina; nonton ChiPs, Uyung dan teman-teman menyaksikannya di rumah Pak Camat. Sebenarnya mana berani mereka menonton di kediaman Pak Camat jika tidak ada anaknya yang bernama Nur. Nur pindahan dari Tanjungkarang mengikuti bapaknya yang menjadi Camat di Negarabatin, satu kelas dengan Uyung.

Alasan datang ke rumah Nur yaitu belajar bersama. Tapi, pura-pura saja yang belajar bersama. Sebab, yang sebenarnya hanya ingin menonton TV. Lama-lama ketahuan juga mau menonton ChiPs. Hahai…

Nah, Nur ini menjadi saingan Kifli dan Maman yang baru menjadu rangking kelas. Sekali waktu, Kifli pulang dan mengadu kepada ayah dan ibunya baru saja bagi rapor. Sebab, ia kalah dengan Nur rankingnya.

“Masa, anak baru kok nilainya lebih tinggi dari saya,” ujarnya.

Ayah-ibunya dan yang lain tertawa saja  melihat Kifli ngamuk-ngamuk. Tambah ngamuk Kifli, tambah terbahak mereka. Malah dimainkan mereka.

“Ah, Kif. Masa kalah dengan perempuan…,” kata ngah-nya.

Kifli tambah marah. Tapi, mau bagaimana.

Sekali waktu, ketika pelajaran matematika, semua mengeluarkan pe-er. Pak Johan memeriksa jawabannya. Yang betul jalan pengerjaan jawabannya mengikuti yang diajarkan Pak Johan. Yang anehnya, Nur mengerjakan PR dengan cara yang berbeda, tetapi hasilnya sama dengan yang diajarkan Pak Johan.

“Coba, saya lihat,” ujar Pak Johan.

Pak Johan meneliti PR yang dikerjakan Nur.

Tidak lama ia  berkata, “Ya, jawaban Nur benar. Hanya cara berbeda menjawabnya.”

“Siapa hyang mengajarmu, Nur?” tanya Pak Johan.

“Ayah,” jawab Nur.

Siswa-siswa sekelas terdiam dibuat Nur.

“Coba kerjakan jawaban soal yang nomor satu dengan caramu di papan tulis, Nur,” kata Pak Johan lagi.

“Nah, coba lihat caranya, Bandingkan… Hasilnya sama,” ucap Pak Johan.

“Iya ya… gegoh,” seru beberapa anak.

“Aih, kalau begitu… Nur ini Pythagoras,” celetuk Netty.

“Iya, Nur Pitha Giras[1],” Sodri mengubah Pythagoras menjadi Pithagiras.

Tertawa satu kelas. Merah muka Nur. Marah dia.

“Awas kamu, Sod,” ancam Nur.

>> BERSAMBUNG


[1] giras: tabur, bertebaran tak beraturan