Negarabatin (46)

Setelah Magrib, sudah mulai gelap. Pakngah Hairu sudah menyalakan lampung minyak. Sudah memasak nasi dan sayur.

“Saya mau Supermi, Pakngah,” ujar Uyung kala melihat makanan enak tetapi langka seperti itu.

“Dimasak dulu kalau begitu.”

“Ya, Pakngah.”

Supermi sudah matang. Makan bersama. Tapi hati Uyung seperti tidak menentu. Ia terbelangut saja. Entah…

“Mengapa?”

Diam saja Uyung.

Tapi tak lama, Uyung berkata, “Sakit kepala, Pakngah…”

“Coba…,” kata Pakngah sembari memegang kening Uyung.

Tidak panas kepala Uyung karena berbohong saja mengucapkan sakit kepala. Hanya hatinya yang kurang enak.

“Minum obat ya. Pakngah membawa dari pekon,” bujuk Pakngah.

“Enggak,” Uyung menggelengkan kepala.

“Jadi…” Pakngah bingung juga dengan keponakannya ini.

“Saya tidur, Pakngah,” ujar Uyung lagi.

“Ya… iya, tidur saja… istirahat. Masuk bilik.”

Tidurlah Uyung. Namun, didengar Pakngah Uyung malah menghisak menangis.

“Kenapa, Yung?”

“Sakit kepala,” Uyung berbohong lagi.

Uyung masih menangis. Bukannya berhenti tambah lama bertambah keras tangisnya.

“Kenapa? Kangen dengan mak-bak dan adek-adek ya?” Pakngah bertanya lagi.

Uyung diam saja. Tidak bisa dikatakannya apa yang perasaan hatinya. Tidak menentu saja. Pakngah berusaha membujuk Uyung. Lama Uyung terisak saja. Mungkin karena capek menangis, Uyung tertidur sendiri.

Bangun pagi, dari makan, Uyung diantar Pakngah Hairu ke pondok Pakbalak Sakwan. Uyung langsung bermain dengan Bahrein. Ia melihat Pakbalak dan Pakngah ngobrol. Entah, apa yang dibincang mereka  berdua. Tapi, Uyung tak peduli. Sebenarnya, Uyung malu jika Pakngah bercerita bahwa semalam ia menangis di tempat Pakngah.

Sepertinya tidak apa-apa, Pakbalak juga tidak bertanya-tanya kepada Uyung. Uyung tidak pula bercerita pada Pakbalak.

Hanya malamnya, didengar Uyung, Pakbalak bicara kepada Inabalak, “Besok saya mau turun.”

“Kenapa?”

Tidak didengar Uyung lagi apa jawaban Pakbalak.

Tiba-tiba paginya, Pakbalak bilang, “Ayo, Yung. Kita pulang ke pekon.”

“Ya, Lak,” sahut Uyung.

“Bawa ini,” ujar Pakbalak menunjukkan karung kecil berisi kopi.

Uyung mengira semua hendak pulang. Ternyata hanya Pakbalak dan dia saja. Bertemu juga dengan rombongan yang hendak ke pekon.

Beban Uyung tidak terlalu berat. Tapi perasaan Uyung berat sekali di pundaknya. Beberapa kali Uyung minta berhenti terlebih dahulu.

“Kenapa? Keberatan ya? Sini dikurangi bawaanmu, Yung.” Pakbalak membuka karung Uyung, dipindahkannya sebagian kopi bawaan Uyung ke bebalang-nya.

“Begini ya, tidak berat lagi?” tanya Pakbalak.

“Ya, Lak.”

Jalan yang dilewati pulang sama dengan jalan hendak menuju pematang. Berliku-liku, berbelok-belok, bersimpang-simpang walau sekarang lebih banyak menurun. Tapi, ketika pulang, perasaan Uyung lebih dekat jaraknya dan lebih singkat waktu tempuh tinimbang ketika berangkat naik. Barangkali oleh karena keinginan hatinya pulangb bertemu mak, bak, adik-adik, dan tamong-kajjong-nya.

>> BERSAMBUNG