Terdengar suara lelaki mirip genderuwo. “O, di situ tempatnya,” ujarnya menunjukkan arah tenggara.
“Kamu keponakannya?” tanya lelaki itu lagi.
“Iya, Pakngah. Saya dari tempat Pakbalak Sakwan mau ke tempat Pakngah Hairu,” kata Uyung takut-takut bukannya ditolong malah diculik atau dijadikan peliharaan makhluk ini.
Ia jadi ingat warahan serimol[1] yang suka mengantongi anak-anak dalam sakunya.
Diam. Lelaki tadi seperti hendak masuk ke pondok.
“Pakngah… ngilu tulun…,” masih takut-takut Uyung bicara.
“Minta tolong apa?”
“Tolong antarkan saya ke tempat Pakngah Hairu.”
Khawatir benar Uyung jika lelaki itu tidak mau mengantarkannya. Ia sudah membayangkan hal hal buruk akan menimpanya: diculik, diikat, disekap, dijadikan santapan, atau … oh, sangat mengerikan.
Tapi tidak. Lelaki itu berucap, “O, iya sebentar lagi… saya merebus air dulu.”
Apa? Merebus air? Matilah saya, pekik hatinya. Sebentar lagi ia akan dimasukkan ke kuali direbus hidup-hidup untuk dimakan selagi hangat. Ia ingin lari… Tapi, ia sudah capek dan tidak tahu lagi mau lari ke mana. Ia pasrah kini.
“Sini kamu singgah dulu. Saya perlu ngopi dulu. Sebentar lagi kita ke gubuk Pakngahmu.”
Jangan-jangan ini akal-akalan si serimol saja. Ragu-ragu Uyung masuk ke pondok.
“Ayo, masuk. Duduk dulu. Mau ngupi tidak?”
Uyung geleng kepala.
“O, ini minum dulu. Tenang saja,” ujar orang itu sambil menuangkan air minum dari ceret ke cangkir.
Nafas Uyung masih terhela-hela antara capai, khawatir, dan takut.
Orang itu bicara, “Nama saya Tamrin. Kita masih famili. Tanya dengan Pakngahmu atau Pakbalakmu di mana letak kemuarian[2] kita. Kamu memanggil saya Paklunik[3], bukan Pakngah….”
Entah apa lagi bicara banyak si serimol eehh… Paklunik Tamrin, tidak terlalu diperhatikan Uyung. Ia sekarang menjadi tenang bertemu saudara yang akan membantunya. Masa pula saudara malah mau mencelakakannya.
Tapi, benarkah? Benarkah orang ini bernama Tamrin dan masih famili? Tidaklah ia berbohong untuk mengelabui Uyung?
Seperti melihat keragu-raguan di diri Uyung, ia berkata lagi, “Sebentar, saya habiskan kopi. Sebentar lagi kita jalan ke tempat Pakngah Hairu.
“Benar ya Paklunik?”
“Iya, sebentar lagi!”
Tidur di pondok Pakngah Hairu. Tambah sepi perasaan Uyung. Bagaimana tidak isinya pondok dan kebun kopi luas hanya mereka berdua sekarang. Tengah malam pula. Seperti malam-malam sebelumnya di pematang sejauh-jauh mata memandang ke luar pondok hanya kelam. Ada radio tidak banyak gelombang siaran yang bisa ditangkap, paling hanya RRI Tanjungkarang. Selebihnya aneka bunyi binatang. Jika sedang galau, mau menyepi dan menyendiri, kesunyian semacam ini bagus. Tapi, entah mengapa hati Uyung sama sekali tidak nyaman setelah tersesat tadi siang.
>> BERSAMBUNG
[1] cerita tentang makhluk besar berbulu yang suka menculik anak-anak dan menyimpannya dalam sakunya.
[2] hubungan kekerabatan, persaudaraan
[3] artinya Pak Kecil atau Paklik dalam bahasa Jawa