Desa, Literasi, dan Ekonomi Kreatif
SEJATINYA literasi membuka dimensi dan peluang yang lebih besar bagi perkembangan, kemajuan, dan peningkatan perekonomian masyarakat. Sebab, senyatanya literasi tidak semata kemampuan membaca dan menulis atau melek huruf. Konteks sekarang, literasi memiliki arti yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar.
Kirsch dan Jungeblut dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Seorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya.
Di era kini, generasi literat mutlak dibutuhkan agar bangsa kita bisa bangkit dari keterpurukan bahkan bersaing dan hidup sejajar dengan bangsa lain. Wagner (2000) jelas-jelas mengatakan tingkat literasi yang rendah berkaitan erat dengan tingginya tingkat drop-out sekolah, kemiskinan, dan pengangguran. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagian dari indikator rendahnya indeks pembangunan manusia.
Menciptakan generasi literat menjadi jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Membaca dan Menulis Kreatif
Dalam aktivitas literasi (membaca dan menulis) hampir selalu melibatkan kreativitas. “Kreatif”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan: (1) memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; (2) bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yg — menghendaki kecerdasan dan imajinasi.
Banyak faedah yang diperoleh dari aktivitas membaca. Setidaknya, ada enam yang bisa disebutkan di sini. Pertama, meningkatkan kecerdasan. Seperti dituliskan Dr. Seuss, membaca sebanyak-banyak dapat memperluas pengetahuan dan mendatangkan banyak pembelajaran hidup seseorang. Selain itu, membiasakan diri membaca dapat meningkatkan kecerdasan.
Kedua, meningkatkan daya ingat dan konsentrasi. Penelitian yang dilakukan American of Neurology menyebutkan membaca buku mampu melatih daya ingat dan konsentrasi seseorang. Dengan membaca buku secara rutin, otak distimuli untuk terbiasa mengolah pikiran dan memori, serta fokus terhadap sesuatu hal selama beberapa waktu.
Wajar jika kebiasaan membaca buku pada giliranya mampu mencegah penyakit Alzheimer, yaitu penyakit pada otak yang menyebabkan penurunan daya ingat dan fungsi kognitif sesorang.
Ketiga, membaca dapat meningkatkan kreativitas dan fleksibilitas. Dalam kehidupan nyata, kita sering merasa seperti harus membuat keputusan. Namun terkadang kita menutup pikiran akan informasi yang sebenarnya dapat membantu kita. Nah, membaca, terutama membaca fiksi, melatih kita untuk memiliki pikiran yang tetap terbuka, dengan begitu kita akan selalu mampu menghadapi ketidakpastian yang terjadi di kehidupan kita.
Keempat, menumbuhkan rasa empati. Membaca buku—terutama fiksi—dapat membantu seseorang untuk memahami apa yang dipikirkan orang lain dari emosi yang disajikan.
Kelima, mengurangi stres. Membaca jadi kegiatan yang berpengaruh signifikan dalam menghilangkan stres. Para peneliti dari University of Sussex mengungkapkan jika level stres dapat berkurang hingga 68 persen hanya dengan meluangkan enam menit membaca. Sebab, segala imajinasi yang muncul ketika membaca buku mampu mengajak para pembacanya untuk melupakan sejenak stres yang sedang dialami.
Keenam, memperpanjang hidup. Berdasarkan penelitian dari Yale University’s School of Public Health, mereka yang meluangkan waktu untuk membaca buku memiliki kesempatan hidup lebih lama. Diperkirakan hanya dengan 3,5 jam membaca buku setiap minggunya, pembaca dapat memperpanjang hidupnya selama 23 bulan. Perlu digarisbawahi, peneliti menemukan bahwa buku yang lebih berpengaruh.
Akan halnya menulis tentu saja ada proses kreatif di sini. Menulis kreatif adalah sebuah kegiatan membuat tulisan yang bermuatan imajinasi dan memanfaatkan kecerdasaan dalam proses penciptaannya. Dari proses menulis kreatif ini, lahir hasil-hasil karya tulis, baik fiksi maupun nonfiksi, yang imajinatif, mengandung hal-hal baru di luar logika, menghibur, menggugah, dan menginspirasi.
Potensi Desa
Setiap desa memiliki potensi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). SDA dan SDM ini hanya akan memberikan manfaat lebih jika ada upaya untuk meningkatkan daya gunanya
Dengan sentuhan kreativitas, SDA bisa lebih berdaya guna dan bernilai ekonomis. Kreativitas tentu tak bisa lahir sendiri. Ia perlu rangsangan atau mungkin rujukan, contoh, bacaan atau apa saja yang bisa memberikan inspirasi. Di sinilah letak pentingnya literasi (kemampuan baca tulis).
Misalnya, sesorang bisa menulis puisi, cerpen, novel, dll karena membaca puisi, cerpen, novel, dll. Anak-anak bisa membuat prakaryanya sendiri dengan membaca dan mengikuti petunjuk buku, video (youtube), dll. Lalu, kalau kita membaca profil beberapa petani, pengrajin, pengusaha, dll yang sukses, banyak juga yang terinspirasi dari membaca (literasi).
Ekonomi Kreatif
Tidak salah jika Lampung Barat yang dideklarasikan sebagai Kabupaten Literasi pada 2 Mei 2018 lalu menyodorkan moto “Literasi untuk kesejahteraan”. Sebagaimana disinggung sebelumnya literasi di antaranya mendorong kreativitas warga yang literat.
Kreativitas ini pula yang pada gilirannya melahirkan ide, gagasan, karya, dan produksi yang bersumber pada potensi dan budaya local. Inilah cikal-bakal lahirnya ekonomi kreatif yang bisa mengakumulasi keterampilan, kreativitas, dan modal usaha kreatif warga (desa).
Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Konsep ini biasanya akan didukung dengan keberadaan industri kreatif yang menjadi pengejawantahannya.
Dengan demikian, literasi bisa mendorong warga menjadi kreatif mencari jalan keluar permasalahan atau bahkan menciptakan sesuatu barang/jasa dari potensi (desa) yang ada, sehingga lebih berdaya guna dan bernilai ekonomis. Dari sini pula lahirnya ekonomi kreatif.
Salam literasi, salam kreatif. Tabik!
- Disampaikan dalam Lokakarya Lembaga Kemasyarakatan Desa dalam Rangka Bulan Bhakti Gotong-Royong Masyarakat Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2019 di Hotel Yunna, Bandar Lampung, Selasa, 20 Agustus 2019