66 Tahun PMII: Suasana Kebatinan, Intelektualitas, dan Terus Bergerak

SHALAWAT ditingkah suara rebana menggema begitu memasuki Kompeks Gedung KNPI Lampung, Bandar Lampung, Kamis malam, 30 April 2026. Suasana itu bukan sekadar seremoni. Ia seperti pintu masuk menuju ruang batin yang lama akrab bagi para kader dan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia—ruang yang menyatukan zikir, pikir, dan gerak dalam satu tarikan napas panjang sejarah.

Di ruangan itu, aktivis PMII PC Bandar Lampung berkumpul memperingati usia ke-66 organisasi yang lahir di Surabaya pada 17 April 1960 dan berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. Ketua cabang Topik Sanjaya, Sekretaris Umum Muhammad Kamal, Ketua Mabincab Syahrudin Putra, hingga Ketua Kopri Halimatussa’diyah hadir dalam satu lingkaran yang sama: lingkaran kaderisasi.

Namun, yang membuat malam itu terasa lebih dalam adalah kehadiran para alumni—mereka yang telah menjelma menjadi polisi, birokrat, politisi, wartawan, pengusaha, hingga aktivis LSM. Nama seperti Fajrun Najah Ahmad, Noverisman Subing, dan Hidir Ibrahim bukan sekadar daftar tamu. Mereka adalah bukti hidup dari satu hal: PMII bukan hanya organisasi, tetapi proses panjang pembentukan manusia.

Di tengah gema rebana dan shalawat, terasa jelas suasana kebatinan pergerakan mahasiswa Islam. Ada yang tak terucap, tapi terasa: kenangan. Mungkin tentang diskusi panjang di sekretariat, tentang perdebatan ideologi di masa-masa sulit, bahkan tentang keberanian bersikap di era Orde Baru. PMII bukan sekadar ruang belajar, tetapi ruang menempa diri—kadang keras, kadang getir, tetapi selalu bermakna.

Syahrudin Putra menegaskan bahwa PMII selama ini telah berhasil mendorong lahirnya sumber daya manusia berkualitas. Pernyataan itu bukan klaim kosong. Jika melihat jejak alumni yang tersebar di berbagai sektor—eksekutif, legislatif, yudikatif, hingga dunia swasta—jelas bahwa kaderisasi bukan hanya jargon, melainkan kerja nyata yang berkelanjutan.

Sementara itu, Fajrun Najah Ahmad mengingatkan kembali pada trilogi yang menjadi napas organisasi: Dzikir, Fikir, Amal Sholeh. Tiga kata ini tampak sederhana, tetapi di dalamnya terkandung filosofi besar. Dzikir menjaga akar spiritual, fikir mengasah intelektualitas, dan amal sholeh memastikan semua itu tidak berhenti di kepala, tetapi menjelma dalam tindakan.

Dalam konteks kekinian, pesan Hidir Ibrahim terasa relevan. Ia menekankan pentingnya intelektualitas dan keislaman dalam membaca kondisi bangsa, tetapi juga memberi peringatan: jangan “asbun”—asal bunyi. Kritik harus berbasis pengetahuan, sikap harus lahir dari pemahaman. Ini penting, terutama di tengah budaya “scholl” (sekadar ikut arus) yang kerap menjangkiti ruang publik hari ini.

Di titik inilah PMII diuji: mampukah ia tetap menjadi ruang intelektual yang jernih di tengah kebisingan opini? Mampukah ia melahirkan kader yang tidak hanya vokal, tetapi juga bernas?

Jawaban atas pertanyaan itu sebenarnya sudah ditanam sejak awal berdirinya. PMII lahir sebagai organisasi kader dengan tujuan membentuk pribadi muslim Indonesia yang bertakwa, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab terhadap cita-cita kemerdekaan. Landasannya adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah—sebuah pendekatan yang moderat, toleran, dan seimbang.

Dalam kerangka itu, PMII tidak hanya mencetak aktivis, tetapi juga intelektual. Citra dirinya sebagai Ulul Albab—manusia yang menggabungkan kedalaman spiritual dan ketajaman pikir—menjadi arah yang jelas. Maka, kaderisasi bukan sekadar pelatihan organisasi, melainkan proses pembentukan kesadaran.

Sejarah mencatat, salah satu figur penting dalam perjalanan awal PMII adalah Mahbub Djunaidi. Ia bukan hanya Ketua Umum pertama, tetapi juga sastrawan dan wartawan yang pernah memimpin Persatuan Wartawan Indonesia. Dari dirinya, kita belajar bahwa kader PMII tidak harus berada dalam satu jalur sempit. Ia bisa menjadi penulis, pemikir, sekaligus pelaku perubahan.

Mahbub menunjukkan bahwa intelektualitas tidak berhenti pada teori, tetapi harus hidup dalam karya. Novel Dari Hari ke Hari, kolom-kolom jurnalistiknya, hingga humor khasnya menjadi bukti bahwa berpikir kritis bisa berjalan seiring dengan kreativitas.

Kembali ke malam itu, puncak peringatan ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Topik Sanjaya. Tumpeng itu kemudian diberikan kepada para senior—sebuah simbol sederhana, tetapi sarat makna. Ada kesinambungan di sana: dari generasi lama ke generasi baru, dari pengalaman ke harapan.

Zikir dan doa mengalir, mengiringi harapan agar PMII terus menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa. Di tengah perubahan zaman yang cepat, tantangan yang semakin kompleks, dan ruang publik yang semakin riuh, PMII dituntut untuk tidak kehilangan arah.

Penguatan kader, pembangunan intelektualitas, dan perluasan jaringan—seperti yang disampaikan Topik Sanjaya—menjadi langkah strategis. Namun lebih dari itu, yang dibutuhkan adalah menjaga ruh pergerakan: keseimbangan antara spiritualitas dan rasionalitas, antara tradisi dan pembaruan.

Enam puluh enam tahun bukan usia yang muda. Ia adalah usia yang matang, penuh pengalaman, sekaligus sarat tanggung jawab. PMII telah melewati berbagai fase sejarah bangsa—dari masa awal kemerdekaan, Orde Baru, hingga era reformasi dan digital hari ini.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah PMII mampu bertahan, tetapi apakah ia mampu terus relevan.

Jawabannya mungkin kembali pada trilogi itu: Dzikir, Fikir, Amal Sholeh. Selama tiga hal itu tetap hidup dalam diri kader-kadernya, PMII tidak hanya akan bertahan, tetapi juga terus bergerak—mengawal, mengoreksi, dan mewarnai perjalanan Indonesia.

Dan, malam di Gedung KNPI Lampung itu, dengan segala kesederhanaannya, menjadi pengingat bahwa pergerakan sejati selalu berawal dari ruang batin—sunyi yang melahirkan kesadaran, kesadaran yang menuntun langkah, dan langkah yang akhirnya mengubah sejarah. []