Oleh Udo Z Karzi
ADA pejabat bicara, publik menepuk jidat. Kali ini giliran Arifah Fauzi yang seperti sedang ikut lomba “siapa paling cepat mengaitkan semua masalah dengan satu solusi favorit”. Kecelakaan kereta—yang mestinya dibedah dari sisi sistem keselamatan, sinyal, manajemen operasi—malah diseret ke urusan reposisi gerbong khusus wanita. Ini bukan sekadar out of context, ini sudah masuk kategori out of jalur rel.
Masalahnya bukan ide melindungi perempuan—itu penting dan sah. Tapi kalau setiap persoalan publik dipaksa masuk ke laci yang sama, jadinya seperti dokter yang semua penyakit didiagnosis sebagai “kurang minum air putih”. Praktis, tapi juga… ya, ngacok.
Pernyataan semacam ini terasa seperti asbun pejabat edisi sekian: cepat keluar, lambat dipikir. Alih-alih menenangkan publik, yang ada justru memancing pertanyaan: ini sedang bicara keselamatan transportasi atau sedang cari panggung kebijakan? Karena kalau kereta tabrakan bisa diselesaikan dengan reposisi gerbong, mungkin kita sekalian saja minta hujan berhenti dengan memindahkan payung ke sisi kiri.
Yang bikin makin menggelitik, logika yang dipakai seperti loncat dari rel ke peron tanpa tangga. Kecelakaan teknis dijawab dengan solusi sosial yang tidak nyambung. Ini bukan cuma oon, tapi juga berpotensi berbahaya: publik jadi salah fokus. Alih-alih menuntut perbaikan sistem keselamatan, orang malah debat soal segregasi gerbong. Energi habis di wacana, masalah inti tetap melenggang.
Lebih dari itu, ada kesan nir-empati yang sulit diabaikan. Dalam situasi kecelakaan—yang melibatkan korban, trauma, dan duka—yang dibutuhkan adalah empati dulu, analisis yang jernih kemudian. Bukan lempar ide yang bahkan tidak menjawab pertanyaan dasar: “Kenapa kecelakaan itu bisa terjadi?” Kalau empati saja ketinggalan di stasiun, bagaimana kebijakan mau sampai tujuan?
Sebenarnya, publik tidak sedang menolak perlindungan perempuan. Yang ditolak adalah cara berpikir yang serbatempel—apa pun masalahnya, solusinya itu lagi, itu lagi. Negara ini butuh pejabat yang bisa membedakan rem darurat dengan klakson. Karena kalau semuanya dipencet bersamaan, yang terdengar cuma bising—dan kita tetap melaju tanpa arah.
Singkatnya: kalau mau bicara, pastikan dulu sedang di rel yang benar. Kalau tidak, ya beginilah—banyak yang omong, banyak yang salah. []