Human

Kakbah, Mekah yang Tandus dan Sajarah Sukarno

Oleh Gufron Aziz Fuadi

ALLAH Swt berfirman kepada Nabi Ibrahim setelah membangun Kakbah dalam QS al Hajj: 27:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)

Haji adalah panggilan Allah,  bukan panggilan Ibrahim. Nabi Ibrahim hanyalah penyeru agar manusia melaksanakan haji ke baitullah.

Ibrahim adalah yang meninggikan bangunan Kakbah setelah sebelumnya hancur dan hanya menyisakan sebagian pondasi akibat dari banjir di zaman nabi Nuh.

Hal itu tertulis dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 127: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Ada pendapat lain yang mengatakan kakbah untuk pertama kalinya dibangun  dalam bentuk galian dan

tumpukkan batu batuan oleh nabi Adam. Sehingga kakbah merupakan bangunan tempat ibadah pertama dimuka bumi.

“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (Ali Imran: 96).

Saat Muhammad berusia 35 tahun dan belum menjadi nabi, kakbah mengalami renovasi total akibat banjir yang melanda kota Mekah. Dalam renovasi ini kaum Quraisy tidak membangunnya sesuai dengan bangunan nabi Ibrahim. Diantaranya tidak memasukkan Hijr (Ismail) dalam bangunan kakbah disebabkan kekurangan biaya.

Mengapa?

Dalam sirah Ibnu Hisyam disebutkan adanya kesepakatan Quraisy untuk hanya menggunakan dana halal saja:

“Wahai kaum Quraisy sekalian, janganlah kalian menggunakan biaya untuk membangun Ka’bah, kecuali dari hasil penghasilan yang baik. Jangan sampai di dalamnya ada hasil zina, hasil jual beli riba, dan hasil sebab menzalimi seseorang.”

Itulah sebabnya kaum Quraisy kekurangan biaya tatkala membangun Ka’bah. Akhirnya, mereka tidak mampu membangun Ka’bah secara sempurna. Nabi ﷺ bersabda: “Kalau bukan karena kaummu (wahai Aisyah) baru saja meninggalkan kekufuran, niscaya aku akan meruntuhkan Ka’bah, lalu aku akan membangunnya kembali di atas fondasi Ibrahim Alaihissallam karena sesungguhnya kaum Quraisy kurang sempurna membangun Ka’bahnya.” (HR Bukhari dan Muslim) 

Heh, rupanya meskipun kaum Quraisy masih musyrik, tetapi mereka masih bisa membedakan harta halal dan haram ya…

Sepeninggal Rasulullah Saw  Kakbah mengalami dua kali renovasi. Pertama, oleh Abdullah bin Zubair saat Kakbah roboh dan terbakar akibat penyerangan pasukan Yazid bin Muawiyah dibawah pimpinan Hajaj bin Yusuf ats tsaqafi terhadap Ibnu Zubair yang bertahan di sekitar masjidil Haram. Ibnu Zubair membangun dengan memasukkan Hijr kedalamnya.

Kedua, dibongkar dan dibangun kembali oleh Hajaj bin Yusuf setelah berhasil membunuh Ibnu Zubair dan mengeluarkan Hijr sebagaimana dilakukan kaum Quraisy sebelumnya, hingga sekarang.

Ada riwayat yang mengatakan bahwa Malik bin Anas pernah berkata kepada Harun Ar-Rasyid untuk tidak menjadikan Kakbah sebagai objek permainan. Sebab, Harun Ar-Rasyid saat itu ingin meruntuhkan dan membangun Kakbah seperti yang dilakukan Ibnu Az-Zubair.

“Dengarlah wahai Amirul Mukminin, jangan sampai kamu menjadikan Kakbah ini objek permainan bagi para penguasa sepeninggalanmu. Setiap kali mereka ingin mengubahnya pasti mereka ubah sehingga keagungan dan kewibawaannya hilang dari hati manusia,” jelas Malik bin Anas radhiyallahu anhu.

Itulah sebabnya Kakbah dibiarkan seperti sampai saat ini.  Paling tidak hikmahnya, kita bisa masuk dan shalat di “dalam Kakbah”, yang masih terbuka, Hijr Ismail. Sebab, masuk ke dalam bangunan Kakbah hanya diperuntukkan bagi tamu penting kerajaan, seperti  presiden atau perdana menteri.

Lembah Mekah sebelum dihuni dan dibangun Kakbah oleh keluarga nabi Ibrahim  adalah lembah tandus yang tak berpenghuni. Setelah munculnya sumber mata air Zam-zam dan seruan berhaji berangsur angsur menjadi kota penting dan ramai.

Bahkan di padang tandus itu, saat ini sudah hidup berbagai pohon yang ditanam yang kita cukup akrab dengan jenis pohon tersebut. Tidak hanya di Mekah, tetapi juga kita temui di Arafah, Mina dan sepanjang jalan ke dan jalanan kota Jedah. Penduduk di sana kalau kita tanya pohon apa itu, mereka jawab sajarah Sukarno atau pohon Sukarno.

Karena pohon ini, yakni pohon Mindi atau Mimba, merupakan hadiah dan ide penghijauan Armina dari presiden Republik Indonesia setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1955.

Bahkan, tidak hanya pohon Mindi, Sukarno pulalah yang memberi ide agar lintasan antara bukit Shafa-Marwa diberi atap atau memperluas  masjidil Haram sampai lintasan Shafa Marwa masuk di dalamnya, sehingga jamaah bisa melaksanakan Sa’i dengan nyaman, tidak lagi di atas lintasan yang masih gronjal-granjul dan ramai para pedagang…

Semoga kisah sejarah ini bisa menambah keimanan dan kerinduan kita untuk bersimpuh kepada Allah di depan rumah Nya…

Wallahua’lam bi shawab. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top