Human

Bayangkan Bila Sejajar!

Oleh Gufron Aziz Fuadi

BEBERAPA waktu yang lalu ada beberapa kawan dari Pesawaran silaturahmi ke rumah. Meskipun dekat, tetapi memang sudah beberapa tahun tidak ngumpul bareng. Mereka dulu para aktivis Risma dan guru ngaji.

Karenanya tema obrolannya pun di antaranya nyerempet masalah dakwah dan perkembangan Islam. Kami biasa memahami dakwah bukan bukan hanya khutbah dan ceramah saja. Tetapi semua aktivitas yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran karena dan kepada Allah adalah dakwah.

Karena aktivitas dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar lah yang menjadikan seseorang mendapatkan predikat sebagai khairu ummah sebagaimana Firman-Nya dalam Ali-Imran: 110,

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”

Jumhur ulama berpendapat bahwa predikat khairu ummah pada ayat tersebut disematkan kepada umat Islam.

Umar bin Khattab berpendapat bahwa ayat tersebut dikhitabkan kepada dua kelompok. 

Pertama, secara khusus disematkan kepada para sahabat. Kedua, kepada umat Islam secara umum, selama mereka mampu melaksanakan tiga hal yang disyaratkan dalam ayat tersebut yaitu amar ma’ruf, nahi munkar, dan beriman kepada Allah Swt.

Hal ini dibuktikan dengan penggunaan kata كُنْتُمْ (kuntum) yang menunjukkan makna lebih dari satu objek, berbeda-beda jika ayat tersebut menggunakan kata  اَنْتُمْ (antum) yang hanya mengandung makna satu objek. Sepertinya pendapat Umar bin Khattab inilah yang menjadi referensi jumhur ulama. (Jami’ul Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, [3]: 389-390)

Akan tetapi dakwah bukanlah sekedar melepas bala’ agar kita tetap menjadi khairu umah, melainkan aktivitas yang terencana, terstruktur dan terukur. Agar tidak terjebak dengan sikap lembek, keras atau keinginan  berlebihan untuk mengislamkan semua orang. Karena kita tidak disuruh untuk itu.

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus : 99)

Tapi juga jangan asal asalan yang tidak terencana atau sekedar ikut arah angin dan mengikuti irama gendang. Karena tugas yang diemban oleh nabi sangat jelas dan tegas yaitu: menyampaikan risalah kepada manusia dan menegakkan agama Allah diatas muka bumi.

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (Al Maidah: 67)

Tugas yang pertama ini meliputi, mengenalkan Allah secara benar sebagai Pencipta, Pemelihara, Pemberi rezeki, Yang berhak disembah dan diibadahi serta cara beribadah kepada Nya, juga larangan untuk mensekutukan Nya dengan (tuhan) yang lain.

Itulah akhlak utama, berakhlak kepada Allah.

Yang nabi diutus untuk itu, Bu’istu liutammima makarimal akhlak. Setelah itu memperbaiki akhlak sesama manusia.

Jadi, tugas memperbaiki akhlak pada Allah jangan dihilangkan seakan akan nabi  hanya diperintahkan untuk memperbaiki akhlak kepada sesama manusia saja. Itu pun dengan pemahaman yang sangat toleran terhadap kemaksiatan yang dilakukan oleh orang lain, selama orang lain tersebut bahagia dengan perbuatannya. Jangan melarang kesenangan orang, katanya. Jangan melanggar HAM. LGBT, free sex, dan perilaku  hedonisme lainnya adalah HAM selama mereka suka dan tidak dipaksa.

Sedangkan tugas kedua adalah menegakkan agama (iqomatudin), tugas yang diamanatkan kepada semua rasul mulai dari Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan tentunya Muhammad Saw. Tugas ini sangat berat, tetapi kurang mendapatkan perhatian dari kita.

Saking beratnya, tugas iqomatudin ini hanya sukses dilakukan oleh nabi Muhammad Saw saja.

Tetapi bukan berarti para nabi sebelumnya itu gagal, karena para nabi yang disebut dalam ayat 13 surat Asy Syura tetap digolongkan sebagai ulul azmi, the big five.

Hikmahnya adalah agar kita tetap semangat dan produktif dalam dakwah, sedang hasilnya, urusan Allah.

Allah berfirman dalam Asy Syura ayat 13:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.“

Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan terlaksana dan dirasakan secara sempurna bila agama ini dapat ditegakkan secara benar, bukan sekadar simbol atau pajangan saja. Sebagai mana dulu dicontohkan dan  ditegakkan oleh nabi dan para khalifaturrasyidin, khalifah yang mendapatkan petunjuk. Dimana Islam disegani dan dihormati. Bahkan dunia Islam menjadi rujukan, baik dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan, politik, ekonomi dan militer.

Saat itu, selama 7 abad zaman keemasan, Islam menjadi kiblat peradaban dunia. Dan dunia bisa benar-benar merasakan apa itu rahmatan lil alamin.

Sekarang, saat Islam sering menjadi sebagai tertuduh, dunia masih bisa merasakan rahmatnya Islam, meski tidak sempurna. Coba bayangkan kalau Islam nanti bisa berdiri tegak dan sejajar dengan China, Amerika, Eropa, atau Rusia.

Sekali lagi, coba bayangkanlah?

Kebayang kan?

Begitulah!

Wallahua’lam bi shawab. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top