Meminjami Allah

Oleh Gufron Aziz Fuadi

مَنۡ ذَا الَّذِىۡ يُقۡرِضُ اللّٰهَ قَرۡضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗ وَلَهٗۤ اَجۡرٌ كَرِيۡمٌ

[Surat Al-Hadid 11]

“Barang siapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia.”

Ada aktivis buzzerp berujar, katanya Allah Maha Kaya tapi kok nyuruh kita memberikan pinjaman kepada Nya…

Dalam ekonomi syariah kita mengenal istilah qordhul hasan. Memang qordhu itu artinya pinjaman. Tetapi para ulama menafsirkan qordhu dalam ayat ini dengan makna memberi.

Mengapa Allah menggunakan kata pinjaman dalam ayat 11 surat Al Hadid?

Karena dalam pinjaman itu, pasti akan ada pengembalian dari apa yang dipinjamkan. Jadi ada iltizamul jaza’, kata para mufasirin. Dan kita tahu bahwa Allah ‘sebagai Peminjam’ pasti akan mengembalikan pinjaman Nya, dan pengembalian  tersebut pasti dengan berlipat lipat serta pahala yang memuliakan. Janji Allah itu pasti, innaka la tukhliful mi’ad.

Janji Allah tidak seperti janjinya si Fulan yang seperti balon,  banyak macam dan warnanya tapi semuanya kosong.

Berbeda kalau memberi. Tidak seperti hutang, memberi itu tak boleh mengharapkan kembali. Sebagai mana dicontohkan oleh para ibu, …hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia…

Ayat ini juga memberikan pelajaran kepada kita, bahwa apa yang sering terjadi selama ini peminjam dan yang meminjami memiliki kedudukan (minimal secara psikologis) tidak sejajar. Dimana biasanya orang yang meminjam memiliki perasaan iferior dan sebaliknya yang meminjamkan merasa superior. Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak berlaku demikian. Orang yang memberi pinjaman hendaknya tidak merasa superior. Ini Allah contohkan saat Dia ‘meminta’ pinjaman kepada kita. Tidak mungkin kan ketika kita meminjami Allah terus kita merasa superior sementara kita tahu bahwa Allah itu Ghani, Maha Kaya dan bahkan kita dengan segala yang ‘kita miliki’ adalah milik Allah.

Pelajaran yang lain, bahwa ketika kita sedang memberi (sedekah misalnya) sesungguhnya kita bukan sedang berinteraksi dengan orang lain, tetapi sesungguhnya sedang berinteraksi dengan Allah.

Pemahaman dan perasaan bahwa kita sedang berinteraksi dan bertransaksi dengan Allah inilah yang membuat para sahabat dan orang orang sholih berlomba lomba untuk mengeluarkan hartanya.

Dari sini kita bisa memahami saat Umar bin Khatab nenginfakkan separuh hartanya dan Abu Bakar dengan entengnya menginfakkan seluruh hartanya. Karena mereka tahu Allah itu Maha Kaya dan Maha Pemberi.

Ada sebuah hadits qudhsi yang mengisyaratkan hal tersebut.

Dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah Saw Bersabda: “Sesungguhnya Allah  berfirman: “Hai Anak Cucu Adam, Aku sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku”. Lalu berkata (Anak Cucu Adam): “Ya Rab, bagaimana aku menjenguk Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?”

Allah menjawab: “Apakah engkau tidak mengetahui, sesungguhnya ada hamba-Ku Fulan sedang sakit tetapi engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau tahu sesungguhnya ketika engkau menjenguknya Aku pun berada di sisinya”. (Kemudian Allah kembali berfirman)

“Hai anak cucu Adam, Aku kelaparan, tetapi engkau tidak memberi-Ku makan”. Menjawab (Anak cucu Adam): “Ya Rab, bagaimana aku memberi-Mu makan, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?”

Allah menjawab: “Apakah engkau tidak mengetahui sesungguhnya hamba-Ku si Fulan kelaparan tetapi engkau tidak memberinya makan, tidakkah engkau tahu sesungguhnya ketika engkau memberinya makan di sana juga ada Aku”. (lalu Allah berfirman) Hai anak cucu Adam, Aku haus tetapi engkau tidak memberi-Ku minum”.

Menjawab (Anak Cucu Adam): “Ya Rab, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah menjawab: “Engkau (tahu) hamba-Ku meminta minum kepadamu tetapi tidak engkau berikan kepadanya, tidakkah engkau tahu ketika engkau memberinya minum di sana pun ada Aku”. (hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibn Hibban dan al-Baihaqi).

Bagaimana bila kita sedang dalam kesulitan ekonomi?

Bahkan dalam kesulitan ekonomi, infak dijalan Allah menjadi salah satu solusinya.  Ada satu riwayat mengatakan bahwa asbabun nuzul ayat 195 al Baqarah adalah jawaban Allah atas permohonan kaum Anshor untuk istirahat sejenak dari jihad dan dakwah guna memperbaiki kondisi ekonomi yang terbengkalai karena terlalu sibuknya mereka dengan jihad dan dakwah. Sementara kaum muslimin saat itu sudah banyak pengikutnya dan kuat. Sehingga diperkirakan tidak akan mengganggu perkembangan Islam.

Kemudian turunlah wahyu  yang menjawab: “Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (dirimu sendiri) ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Wal anfu minkum, billahit taufiq wal hidayah… []