Islam Agama yang Mudah

Oleh Gufron Aziz Fuadi

SEKITAR tahun 2008-an, saat maraknya Anggodo dan Anggoro Widjojo dalam perkara ‘makelar kasus’ cicak dan buaya ada anekdot dimana ada seseorang yang datang ke masjid dan bertanya kepada seorang (marbot) yang ada di sana tentang bagaimana caranya masuk Islam.

Kemudian marbot tersebut menyebutkan bahwa untuk menjadi muslim itu ada lima perkara…

Tiba tiba orang yang bertanya tadi langsung pergi sambil ngedumel dalam hati, jangankan lima perkara, Anggodo Anggoro saja yang cuma dua perkara sudah membuat ribut cicak dan buaya…

Padahal, ulama di Jawa sudah lama berimprovisasi agar orang mudah masuk dengan mengadakan acara Sekatenan. Sebuah acara untuk memperingati Maulud Nabi sekaligus islamisasi pensyahadatan orang orang yang masuk Islam. Dan, dari istilah syahadatain inilah muncul nama Sekatenan yang lebih pas dengan lidah masyarakat Jawa pada waktu itu.

Sebagaimana Hasan menjadi Kasan, Husein menjadi Kusen atau Ramadlan mejadi Ramelan, dan lain-lain.

Sungguh Islam itu mudah.

Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah (bawaan) manusia. Agama yang mudah dan tidak memberatkan. Agama yang sesuai dengan akal sehat dan jiwa manusia. Agama yang berjalan beriringan dengan perkembangan dan kemajuan zaman.

Di antara prinsip mendasar agama Islam adalah ‘adamul haraj (meniadakan kesulitan).

Oleh karena itu, Islam meringankan hukum-hukum untuk memudahkan manusia dalam mempraktekkan amal ibadah dalam kehidupan keseharian. Allah swt. berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Ketika banyak orang berprinsip kalau bisa dibuat susah mengapa harus dipermudah, lima belas abad yang lalu Nabi saw. bersabda: “Permudahlah dan jangan mempersulit. Berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari).

Bahkan, Rasulullah juga memberikan peringatan kepada para pemimpin yang menyusahkan hidup rakyatnya.

Salah satu doa yang sering beliau panjatkan adalah “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia; dan siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim dan Ahmad).

Doa Rasulullah di atas menyiratkan dua model pejabat yang akan selalu ada dalam kehidupan ini. Yaitu pejabat yang menyusahkan rakyatnya dan pejabat yang memudahkan mereka.

Pejabat yang memudahkan rakyatnya akan mendapatkan doa kemudahan dari beliau. Sebaliknya, pejabat yang menyusahkan rakyatnya akan mendapatkan doa supaya ia disusahkan. Kemudahan dan kesusahan yang dimaksud dalam hadis tadi bersifat umum, mencakup dunia-akhirat.

As-Shan’ani berkata, “Kesusahan dalam hadis, mencakup kesusahan duniawi dan ukhrawi.”

Di antara bentuk kesusahan yang akan diterima oleh pejabat disebutkan dalam hadis lain. Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang diamanahi mengurusi umatku lalu menyusahkan mereka, maka baginya Bahlatullahi. Para sahabat bertanya, apakah itu Bahlatullahi? Rasulullah menjawab, ‘Laknat Allah’ (HR Abu Awanah dalam kitab sahihnya).

Orang yang dilaknat oleh Allah akan tersingkir dari pusaran rahmat dan kasih sayang-Nya. Padahal, jabatan adalah amanah yang sangat berat. Tak mungkin tertunaikan kecuali dengan bantuan dan pertolongan Allah. 

Syukur alhamdulillah rakyat Indonesia saat ini sudah terlepas dari kesusahan minyak goreng. Bila pun harganya naik menyusul listrik, bbm dan lainnya itu bukan menunjukkan ada kesusahan tetapi hanya  menunjuk meningkatnya beban hidup eh… standar hidup.

Billahit taufiq wal hidayah. []