Masuk Stres, Mau Keluar pun Stres

Oleh Helmi Fauzi

SEBENARNYA aku lebih memilih bisa berkuliah di Universitas Sumatera Utara (USU). Universitas negeri di Medan itu, entah mengapa aku pilih. Cuma rasanya keren dan gagah kalau bisa merantau jauh dari Lampung. Aku tahu USU dari buku Himpunan Pengetahuan Umum dan info dari kawanku semasih masih pelajar di SMAN 1 Tanjungkarang (sekarang: SMAN 1 Bandar  Lampung). Namun, ibuku tidak setuju pilihanku. Selain alasan jauh, juga karena faktor beaya. Akhirnya, aku lebih memilih kuliah di Universitas Lampung (Unila).

Pilihan pertama saat mendaftar tes Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPTN) tahun 1990 sebenarnya Fakultas Hukum, bukan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Fakultas kedua yang kupilih itu baru kusadari kemudian masih berstatus Persiapan. Lagi-lagi karena kemampuan otakku, aku hanya diterima di Program Studi (Prodi) Sosiologi. Aku pun pasrah terima di Sosiologi. Gagal deh aku jadi pengacara yang aku anggap lebih gagah dan berwibawa.

Sebenarnya tak asing lagi aku mendengar ilmu sosial murni tersebut. Sebab, selama duduk di Kelas 2 dan 3 SMA, ada mata pelajaran Sosiologi. Rasanya pula nilai-nilai Sosiologiku tidak jelek-jelek amat. Lagi pula, sewaktu kelas 3 SMAN tersebut, aku malah diramalkan lulus di Unila oleh guru bahasa Inggrisku. Ge-er juga waktu itu karena diucapkan di depan puluhan teman sekelasku. Mungkin, kawan-kawanku yang akhirnya ada yang jadi teman kuliah di FISIP Unila juga sudah lupa ucapan guru bahasa Inggris kami tersebut.

Aku bersyukur saja diterima di FISIP Unila. Selain dapat menikmati suasana perkuliahan seperti yang kudengar dari orang-orang yang bisa berkuliah, aku terbebas bekerja pada pamanku di Jakarta. Mungkin sulit aku akan menjadi sarjana jika aku tidak lulus sewaktu ikut tes masuk perguruan tinggi negeri tahun 1990 tersebut.

Sewaktu membaca pengumuman di koran bahwa namaku tertera sebagai calon mahasiswa di universitas negeri pertama di Lampung itu, aku masih tinggal dan bekerja di rumah kontrakan pamanku di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Aku membantu usaha membuat gesper adik kandung ibuku itu. Seandainya aku tak lulus di FISIP Unila mungkin sampai saat kisah ini kutulis. Aku akan menjadi pedagang seperti ayah, kakak, dan adikku yang pernah lama hidup di Jakarta. Kakakku pernah kuliah di IAIN/UIN Raden Intan Lampung, tetapi berhenti pada semester 3. Sedangkan adikku lulus kuliah di Jakarta.

Singkat kisah, aku menjadi mahasiswa. Pada tahun 1990 masih amat jarang di lingkungan kelahiranku, Kelurahan Telukbetung yang kuliah di universitas negeri (Wih, lebay juga!). Seingatku ada 28 mahasiswa Prodi Sosiologi seangkatanku. Beberapa teman seangkatan ternyata sama-sama dari SMAN 1 Tanjungkarang, yakni Saipul, M.Suharyono, Jonial Eagle, Damayanti, Fajar Suparyanto, dan Surya Herlambang. Beberapa teman yang satu jurusan dan beda jurusan berasal dari berbagai SMA di Lampung dan di luar Lampung. Yang kuingat, Fahrur Rizal, Siono, Biolis Widyaningsih, Widya, Liviyanti, Toni Afrizon (almarhum pernah kuliah 2 semester di IAIN/UIN Raden Intan Lampung), Fitri, Selfi, dan lain-lain. Yang dari Prodi Ilmu Pemerintahan antara lain Zulkarnain Zubairi, Iswadi Pratama, Akmal, Yudha Budi Abadi, Wahyudi Heru Iskandar, Suaidi, Roy Rulianto, dan lain-lain.

Beberapa kawan seangkatan Sosiologi berasal dari luar Lampung: Ahmad Zikri dari Pulau Bangka, Liviyanti (Jakarta), Chris Cenoadji (Jakarta), Kurniadi (Jakarta), dan lain-lain. Aku jadi iri dan kagum pada mereka. Selain merantau kuliah di Lampung, tentu kawan-kawan seperjuanganku tersebut bisa ngekos dan bebas pergi dan pulang kuliah. Sedangkan aku sejak SD hingga menjadi mahasiswa tetap lebih di Lampung.

Belajar semasa sekolah menengah atas dengan belajar di Kampus Oranye, yang waktu itu masih terbatas ruang kuliahnya, ternyata amat jauh perbedaannya. Belajar di SMA bisa masuk dan lulus bersamaan, tetapi mencari ilmu di universitas harus belajar lebih mandiri, tidak tergantung pada teman saat mengerjakan tugas dan ujian,  dan tidak bisa santai-santai saja. Sempat stres juga aku. Selain letak kampus yang lebih jauh daripada saat belajar di SMA, aku mengalami kesulitan beradaptasi. Jujur seandainya aku tidak lulus tes UMPTN, mungkin aku tak tahu wilayah Rajabasa dan sekitarnya.

Aktif di Himasos dan Organisasi Kedaerahan

Selama kuliah aku lebih aktif di organisasi kedaerahan dan Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) . Pada suatu malam tak lama saat jadi mahasiswa tahun 1990 di suatu rumah tidak jauh dari rumah orangtuaku di Kelurahan Telukbetung, tanpa kuduga aku dipilih dan ditetapkan sebagai ketua DPC IPPSA (Ikatan Pemuda Pelajar Sulit Air) Telukbetung hingga tahun 1993. Mungkin karena dianggap berpendidikan lebih tinggi dari kebanyakan teman sebayaku, aku dijadikan orang nomor satu di organisasi kepemudan asal nagari (desa) orangtuaku.

Aku menerima begitu saja amanat yang diberikan padaku. Ini organisasi pertama yang aku ketuai. Setidaknya IPPSA kujadikan laboratorium dan media untuk menerapkan semua ilmu yang kudapat selama di kampus FISIP Unila. Semasa jadi pelajar SMAN aku malah tidak aktif sama sekali di organisasi pelajar. Aktivis di IPPSA ini mengantarkan aku hingga posisi Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) IPPSA Lampung yang pengurusnya sebagian besar para mahasiswa dari berbagai kampus di Lampung tahun 1995-1997.

Karena pergaulan semasa mahasiswa di IPPSA, aku lebih aktif di organisasi kedaerahan lainnya ketimbang organisasi internal kampus seperti Senat Mahasiswa Fakuktas (SMF) atau Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) atau organisasi ekstrakampus lain seperti PMII dan HMI yang saat itu menguasai kancah pengkaderan mahasiswa di kampus. Aku lebih memilih aktif di Ikatan Mahasiswa Minangkabau (Imami) Lampung hingga menjadi Sekum Imami Lampung pada 1994-1996. Ketum Imami Lampung waktu itu Rafdizon Mawardi, mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Raden Intan Lampung. Salah satu pendiri Imami Lampung yang pernah kudengar ada nama Uda Maspriel Aries (FISIP Unila 1995). Aktif pula Uda Yusrizal (FISIP 1988) dan Rafles Zaman (FISIP 1997). Di kampus Unila yang aku tahu ada juga organisasi mahasiswa kedaerahan seperti Ikatan Mahasiswa Bangka (ISBA).

Di intrakampus aku lebih aktif di Himasos. Kalau tak salah yang menjadi ketua Hima Sos saat itu adalah Nurhadi Hidup Bahagia. Namun, entah mengapa kakak tingkat angkatan 89 tersebut mengundurkan diri. Lalu, aku mengapa dianggap sebagai Ketua HMJ Sosiologi (1992-1993). Salah satu kegiatan yang kuingat Himasos dan Himapem menggelar Lomba Debat Antar SMA se-Provinsi Lampung. Lomba Debat ini tokohnya yang bikin sukses ini adalah Kurniadi, teman seangkatan PS Ilmu Pemerintahan 90. Kami bersusah payah dan bekerja keras menyukseskan kegiatan yang langka diadakan di tingkat pelajar tersebut.

Aku lupa SMA dari mana yang juara I, II, III dan harapan. Namun yang berkesan bagiku adalah mewakii Himasos untuk kali pertama aku tampil bicara dalam suatu diskusi. Dengan segala keberanian yang kuperoleh dari organisasi yang pernah kupimpin aku menyampaikan pikiranku.  Aduh, aku lupa pula nama acara diskusi dulu itu. Meski begitu, agak terngiang-ngiang apa yang kuucapkan selama berbicara. Rasanya gagah bisa menjadi pembicara yang menjadi bekal berani berbicara seusai kuliah dan bekerja di berbagai program pemberdayaan masyarakat yang aku ikuti.

Menjadi Guru Sejarah di SMK Garuda

Suatu hari saat masih menjadi Sekum Imami Lampung bersama dengan Ketum Imami Rafdizon Mawardi, kami berdiskusi tentang kegiatan organisasi dengan dr. Wirman, Sekum KBSB Lampung saat itu. Saat berbicara itu kami tahu bahwa Pak dr. H.Wirman mengetuai Yayasan SMK Garuda, yang sudah mengelola SMK Garuda di Kalibalok, Sukarame, Bandar Lampung. Rupanya, ada lowongan posisi guru Sejarah Nasional dan Dunia. Tiba-tiba kawanku, Rafdizon Mawardi, spontan mengatakan agar posisi guru sejarah yang masih kosong itu ditawarkan padaku. Tentu saja aku kaget, karena aku bukan mahasiswa Jurusan Sejarah FKIP Unila. Tapi, Pak Dokter Wirman tidak berkeberatan agar aku mengisi posisi guru sejarah yang masih lowong tersebut.

Aku pun memberanikan diri, menyiapkan mental, dan menambah pengetahuan kesejarahanku. Sebagai mahasiswa FISIP masak sih menghadapi siswa-siswa SMK gak berani. Selain tertarik menjadi guru kupikir hitung-hitung nambah pengalaman dan mengurangi beban beaya kuliah oleh orang tua. Tak terasa dua tahun aku menjadi guru. Semua muridku laki-laki. Ada siswa rupanya masih anak tetanggaku di kelurahan aku tinggal selama jadi mahaiswa dan guru.

Ada pengalaman tidak terlupakan hingga kini saat aku jadi guru sejarah tersebut. Suatu hari seorang sales penerbitan LKS Sejarah Nasional dan Dunia menawarkan buku-buku LKS untuk bahan pelajaran sejarah tambahan kepada para siswa SMK. Jujur aku sebenarnya tak mau berurusan dengan buku-buku, apalagi harus dibeli. Akhirnya memang para murid SMK membeli dengan sedikit menekan wajib membeli. Sialnya, meski sudah kuberikan kelonggaran mengangsur pembayaran buku LKS Sejarah, ternyata tidak semua muridku melunasi. Sementara batas waktu pelunasan kepada sales harus segera kutepati. Terpaksalah meski aku berusaha menghindari kewajiban, rupanya si sales sampai telepon ke rumah adik ibuku di Sukarame, Bandar Lampung. Terpaksalah aku meminjam uang pada tanteku itu agar dapat melunasi utang pembelian buku-buku LKS tersebut.

Bukannya dapat untung (eh, guru kok berbisnis he he he), malah aku yang jadi pengutang. Kapok deh. Tak lama kemudian, aku memilih berhenti jadi guru Sejarah di SMK Garuda. Bukannya soal gaji dan utang buku-buku LKS, melainkan aku harus membereskan skripsiku yang tertunda-tunda kuselesaikan. Masak aku Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 1994 di Lampung Barat usai Gempa Liwa, tetapi menyusun dan mempertanggungjawabkan skripsi yang kubuat sampai harus menunggu tiga tahun lamanya. Sementara kawan seangkatan FISIP 90 satu per satu mulai meninggalkan kampus setelah diwisuda.

Stres datang lagi ketika kewajiban membuat skripsi kelamaan. Yang stres bukan aku saja. Paman dan dosen pembimbing akademi (PA) dan pembimbing skripsiku pun terbawa stres. “Kamu yang nyusun skripsi kok malah saya yang ikut stres ya,” komentar Suwarno, dosen PA dan skripsiku yang baik hati dan selalu ramah setiap kali bertemu usai diwisuda.

Akhirnya, dengan semangat dan sisa-sisa perjuangan menuntaskan kewajiban sebagai mahasiswa aku diwisuda Rektor Unila Alhusniduki Hamim, S.E.,M.Sc.  di Gedung Serba Guna (GSG) Unila pada 27 Agustus 1997 dengan IPK 2,92. Bersama-sama denganku diwisuda yang kuingat ada Fahrur Rizal, Akmal, Kurniadi, Sapta Iwan Nulkai, Agustinus Warso, Mohammad Ridwan, Untung Budiono, Nasirwan Ali, Andy Rizal Umbara, dan lainnya. Ijazahku ditandatangani  Dekan FISIP Unila Drs. M. Shofie Akrabi, M.A. dan Rektor Unila Alhusniduki Hamim, S.E.,M.Sc. []

——————
* Ditulis untuk buku Romantika di Kampus Oranye: Dinamika FISIP Univesitas Lampung dari Cerita Alumni (proses terbit).

** Helmi Fauzi,  mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP Unila (1990—1997). Bergiat dalam bidang pemberdayaan masyarakat. Saat ini, Pendamping Rehabilitasi Sosial/Satuan Bakti Pekerja Sosial Kemensos di Kabupaten Lampung Barat.