Pustaka

Melawan Penjajah dengan Puisi

Oleh Indarka PP

DATA BUKU
Judul: Jejak Kupu-Kupu. Penulis: Mahmud Darwisy. Penerjemah: Mirza Syauqi Futaqi. Penerbit: Basabasi, Yogyakarta. Cetakan: Pertama, Juni 2020. Tebal:     160 hlm, 14 x 20 cm. ISBN: 978-623-7290-81-0.

SASTRA selain bermakna karya seni, acap digunakan sebagai alat perlawanan. Kita tentu mengenal W.S. Rendra, seorang penyair dengan karya bernuansa perlawanan. Sebagai nasionalis, bersama puisi-puisinya, dengan gagah Rendra bersuara bagi kemerdekakan Indonesia kala itu.

Seperti dalam nukilan puisi “Gugur”: Ia merangkak/di atas bumi yang dicintainya/Tiada kuasa lagi menegak/Telah ia lepaskan dengan gemilang/pelor terakhir dari bedilnya/Ke dada musuh yang merebut kotanya//Ia merangkak/di atas bumi yang dicintainya/Ia sudah tua/luka-luka di badannya//Bagai harimau tua/susah payah maut menjeratnya/Matanya bagai saga/menatap musuh pergi dari kotanya….// Kita patut menduga, puisi “Gugur” adalah penyatuan antara jiwa rakyat dan negaranya yang sedang nestapa atas penjajahan.

Sejurus Rendra dengan politik sastranya, dari negaraTimur Tengah, Mahmud Darwisy lahir dengan nasib yang hampir serupa. Memori Darwisy merekam segala kegetiran perlakuan Israel atas negaranya, Palestina.

Berdasar pergolakan empiris itu, secara emosional Darwisy menyusun puisi sebagai langkah yang dipilihnya untuk menyuarakan kemerdekaan.Puisi yang ditulis kurun waktu 2006 hingga 2007 itu, kini terhimpun dalam buku JejakKupu-Kupu. Setelah membaca, kita dapat menarik benang merah dari puisi-puisi Darwisy yang tak lain berkutat pada eksistensi identitas, keadilan, rasa sakit, tanah air, kemanusiaan, dan kematian.

Sebagian puisi dalam buku ini didekonstruksi Darwisy dari tatanan yang selazimnya kita mahfumi. Seperti nukilan puisi “Rutinitas”: Atmosfer bertekan rendah. Angin barat laut, hujan deras.Ombak bergulung abu-abu. Pohon cemara tinggi. Hari ini awan musim gugur menggugur tiga puluh martir di utara Gaza, di antaranya dua wanita yang ikut serta dalam demonstrasi menuntut aspires mereka… Jika narasinya lebih panjang, barangkali puisiini lebih dekat dikenali sebagai prosa.

Pula pada puisi “KotakKosong”: Jika perdamaian adalah jeda antara duaperang, maka orang mati memiliki hak untuk memilih: kami akan memilih jenderal. Jika perang adalah kecelakaan di jalan raya, maka mereka yang masih hidup memiliki kewajiban memilih: kami akan memilih keledai. Namun, orang yang hidup itu tak pergi ke kotak suara, bukan karena salju lebat turun tetapi karena kelumpuhan mendadak menimpa penduduk kota, dan ketika mereka membuka jendela mereka, mereka melihat laba-laba memintal jarring mereka di salju dan menjadi buta…

Kita pun mustahil berpendapat jika puisi Darwsiy mengandung pretensi. Justru karena puisi ini tercipta atas ilham konflik yang dialami Darwisysendiri, menjadi sangat masuk akal untuk mengamini kepahitan-kepahitan itu. Sekalipun berbentuk karya sastra yang sarat akan kefiksian.

Sebagai nasionalis sejati, cita-cita Darwisy sebenarnya hanya satu: merdeka dari penindasan. Nampaknya hal tersebut terselip pada puisi “JejakKupu-Kupu”://Jejak kupu-kupu tak tampak/ jejak kupu-kupu masih ada// Ia adalah daya tarik suatu hal yang misterius/ yang mengangkat makna, dan pergi/ ketika jalannya menjadi jelas// Ia adalah cahaya abadi dalam kehidupan sehari-hari/ kerinduan akan hal-hal yang lebih mulia/ Cahaya yang elok// Iaadalahtitik yang memberiisyarat di dalamcahaya/ ketikakitadibimbingmenuju kata-kata/ oleh batin kita// Ia seperti sebuah lagu yang mencoba/ mengatakan sesuatu, dan merasa puas/ denganmeminjambayang-bayangdantidakberkataapa-apa/ jejakkupu-kuputaktampak/ jejak kupu-kupu masih ada//.

Sebagaimana Rendra yang berjuang bagi Indonesia, Darwisy hadir bak pahlawan bagi Palestina. Darwisymeneguhkan diri sebagai pribumi dan mengecam keras tindakan brutal Israel. Puisi Darwisy barangkali menemani para pejuang yang tengah bergerilya mencari apa yang sering kita sebut “merdeka dan berdaulat.” []

———–
Indarka PP, pembaca buku, alumnus Fakultas Syariah IAIN Surakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top