Sajak

Sajak-sajak Muhammad Alfariezie

PUJI

1
Suaramu nuri membuat embun tertidur
Engkau nyanyian membuatku memotong ranting menjulur
Jernih bola matamu mengusir gelombang
Seperti hujan di tanah gersang
Beningmu menyuburkan leladang

Teratai melatiku tumbuh
Stellaku mengisi kota dari pagi hingga subuh
Putiknya lentik
Serupa kolam kedatangan rerintik

Tapi di tengah lelampu jika tanpamu
Pasti kuhanya termangu, kekasihku
Jika aku sendiri
Hidup ini umpama selalu memakan teri
Selain itu, sayangku, pelukmu ke tubuhku
Adalah kehangatanku

2
Tak perduli kemarau atau penghujan
Hari datang dan pergi
Begitu pun pangeran
Harus selalu merawat negeri

Tapi umpama aku dewa
Takan sepi tanpa kekasih
Sayang aku pewaris tahta
Bila sendiri pastilah sedih

Cintaku
Pemaluku
Awan di langit adalah putihmu
Awan di langit ialah wajahmu
Awan di langit keindahanmu
Suci dan jernih ialah kamu
Pagi, siang dan malam pasti doaku untukmu
Kaki, jari, hingga tubuhku pasti bergerak sesuai inginmu

2020

SUARA BATIN KITA

Bila mendengar bisik bunga-bunga
Tahulah bahwa ingin mekar tanpa luka menganga
Seperti kulit mulus pevita

Begitu pun suara batin kita
Berbisik-bisik ingin menikmati alam kuta
Melihat ombak dan keindahan pagi serta senja

Bahagia, adalah kata-kata puitis penyair
Seperti daun-daun yang mendesir
Sejuk dan kadang menyihir

2021

SEMOGA BERJUMPA DI SURGA

Pernah terdengar
            Ada yang merindu di sungai itu
Nyanyinya merdu. Namun
Wajahnya dini hari

Pernah terdengar
            Yang merindu itu seorang putri
Sayang,
Hanya selendang putihnya terapung
Saat ini,
Sekadar wajah cantik di dalam lukisan

Konon, dia tenggelam
Bersama jernihnya cinta
            Di manakah yang berkinanti itu berada?
Semoga saja
            Kami berjumpa di surga

Kemiling, Bandarlampung 22 Desember 2020

BERMIL-MIL KAMI MENCARI PELANGI

Hujan yang menyegarkan tanaman
Ribuan orang berkumpul
Bernyanyi di tanah lapang
Keinginannya hanya satu, yaitu
Segera turun, duhai
Penyempurna bunga-bunga
            Anak-anak rindu taman nan rimbun
            Bapak dan ibu
Ingin sekali sumur yang basah, wahai
Penyubur ladang-ladang
Bermil-mil kami mencari pelangi
Tapi, hingga puncak paling tinggi
Hanya mendung
Dan begitu jelas

Kemiling, Bandarlampung 22 Desember 2020

BAGAIMANA MENANAM CANTIK ITU

Bunga jingga di sisi jalan
Bagai senja pembuat senang,
            meski diri tak berteman

Entah siapa
Bagaimana menanam cantik itu
Yang jelas
Laksana danau diri ini
Sungguh
Memandang jingga di dalam taman
Sayang, tak boleh dibawa pulang
Andai…
Pasti menghias pagi dan malam
Seperti mentari
Yang terangnya untuk bulan

Kemiling, Bandarlampung 22 Desember 2020

RINDANG

Jika lagu dan adzan masih berkumandang 
Bila ilalang masih bisa ditebang
Lalu bayam, ikan dan nasi mudah kita makan 
Kenapa musti menuduhnya tiran?

Biar saja tentaranya berbaris di jalan-jalan
Biar saja polisinya bagai macan
Selagi rumah kebun tumbuh bunga dan mangga
Lebih asyik berolahraga dengan keluarga

Lagi pula gunung hijau menjulang 
Di sana belukar tapi rindang
Ada kijang dan harimau
Air mengalir hingga ke surau

2020

—————-
Muhammad Alfariezie, lahir di Bandar Lampung, 19 November 1994, Lulusan FTIK  Universitas Teknokrat Indonesia. Saat ini aktif di UKM Teater Sastra Teras. Selain itu ia juga ikut berproses di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top