PUNGGUK MERINDUKAN BULAN
Kawan, biarkan aku bertutur padamu tentang pungguk merindukan bulan
di negeri antah berantah tinggal seekor pungguk yang keluar bila hari telah malam
sepasang mata jalang nyalang menembus pekat
suara sengau menikat serangga mendekat
dan pungguk tertawa: hidup ini nikmat
pada suatu malam bulan tergugu, rembulan menerangi semua makhluk bumi
serangga terbang mengitari alam
marah pungguk memandang rembulan: akan kutonjok kau hingga hanya seonggok debu
sejak malam itu pungguk selalu terbang menuju rembulan
sampai hari ini tak bisa menyentuh
pungguk hanya bisa menyimpan dendam: memakan rembulan!
kota ukir, januari 2021
FATAMORGANA
selaksa asa mengembara
pada tiara warna bianglala
terjerat pesona keindahan raga
menggelora rasa penasaran
menjemput hasrat lekat
amboi, kenikmatan sesaat!
kota ukir, januari 2021
PADA SATU MASA
pada satu masa
aku pernah bermimpi bulan memeluk purnama
pada satu masa
aku gemar menggambar bagaskara menggampar angkasa
pada satu masa
aku telah menulis
sajak gerimis menangis manis
pada satu masa
aku ingin bisa mengulang cinta pertama:
indah, lara: tak jera.
kota ukir, januari 2021
DIRUNDUNG DOSA
menangis jiwa lara
teringat masa bergelimang nista
sekedar menuruti nafsu angkara
memuja dusta, menghamba sorga dunia
memandang diri pada cermin kaca
sekujur raga terbalut jelaga
kuseka dengan tangan noda tak sirna
kubasuh air bunga anyir masih terasa
langkah kaki goyah, tak tentu arah,
alpa rupa
aku manusia hina dina
terjerat bias pesona fatamorgana purnama
dirundung dosa: tak ingin selamanya
kutaubat bersimpuh pada Tuhan Allah Sang Pencipta
kota ukir, januari 2021
——————
Kartika Catur Pelita, Jepara, 11 Januari 1971. Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ). Menulis prosa dan puisi di puluhan media cetak dan lokal. Puisinya termaktub dalam Sepotong Rusuk Untukmu (2011) dan Flows in to The Sink in to The Gutteโ(antologi dwibahasa 126 penyair). Novelnya, Perjaka, Balada Orang-orang Tercinta , Karimunjawa Love Story, Pemangsa dan Kentut Presiden.