CINTAKU PULANG KE PULAU
Alamat pulang tak akan pernah hilang
Ia dititahkan laut pada sampan
Sebelum menjadi bercak-bercak jarak
Dan bibirmu yang selalu gagal dalam sajak
Tetapi perpisahan tetaplah perpisahan
Yang setiap jengkal keadaan
Mengingatkan pada pilihan-pilihan
Betapa cerobohnya aku mencintaimu
“Andai seluruh akalku mengerti
Bahwa engkau, lelakiku, begitu puisi,
Biarkan dirimu dan diriku berada
Di atas ketinggian bukit tersakit.”
Katamu, sebagai penghujung dari
Rasa bersalah padahal engkau
Tak punya cinta. Hanya cinta yang
Berhak berkata kalah, atau merasa luka.
Karangduak, 2020
KESAKSIAN PENYAIR
Setangguh-tangguhnya lelaki menanggung cinta
Pada akhirnya akan sekarat di hadapan akad nikah
Dadanya ‘kan dilanda gempa kemudian pasrah
Bahwa kekasihnya telah tiada di hadapan sumpah
Sekukuh-kukuhnya cinta mendidihkan darah
Pada akhirnya qabiltu nikaha lebih perkasa
Lalu dunia dihujani air mata dan bunga kemboja
Tanda akhir zaman benar-benar seram dan nyata
Karangduak, 2020
PADA SELEMBAR CADAR
Aku bersaksi bahwa kepergianmu
Akan dinyanyikan setiap zaman
Diwartakan dari pulau ke pulau
Ditangisi oleh generasi ke generasi
Sebagai kisah paling absah
Aku bersaksi bahwa kesedihanmu
Adalah wahyu dari waktu ke waktu
Yang disucikan di tempat ibadahnya
Kesepian. Dan akan diajarkan dari
Pelabuhan ke pelabuhan
Aku bersaksi bahwa mencintaimu
Adalah kecerobohanku, mengetuk
Sembarangan hati perempuan,
Dan masuk tanpa dipersilakan
Aku bersaksi bahwa kecerobohanku
Akan didoakan sederas hujan
Akan disaksikan hati yang tersakiti
Sebagai jalan cinta seorang sufi
Karangduak,
2020
TERIMA KASIH
Aku berterima kasih pada mata
Yang membuat istirahatku
Tak bisa berlangsung lama-lama
Aku berterima kasih pada tangan
Yang bersedia menanak cinta
Dan menjahit semangat kata-kata
Aku berterima kasih pada cadar
Yang sabar mendidik debar
Agar hati dan imanku kian lebar
Batuputih,
2020
—————
Romzul Falah, lahir di Sumenep, 3 Juni 2000. Alumni Pondok Pesantren Aqidah Usymuni, Terate, Sumenep. Sekarang menjadi mahasiswa FISIP Universitas Wiraraja Madura. Bergiat di Pabengkon Sastra dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Puisi-puisinya dimuat beberapa media dan antologi bersama.