Pustaka

Sebuah Uraian Sejarah yang Menyenangkan

Oleh Wahid Kurniawan

Judul: Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda
Penulis: Ernst H. Gombrich
Penerjemah: Elisabeth Soeprapto-Hastrich
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: Edisi Kedua, September 2020
Tebal: xxii + 368 hlm
ISBN: 978-602-0788-04-3

MEMBACA buku sejarah bagi kebanyakan orang kerap dipandang sebagai sesuatu yang membosankan. Banyaknya peristiwa, nama, dan tanggal, ditambahkan lagi bila narasi yang terjalin cenderung kaku, membuat rasa jengah menghantui pembaca. Maka tak perlu heran, bila kemudian ada anggapan bahwa hanya orang-orang dengan niat yang sungguh-sungguhlah yang mampu menamatkan sebuah buku sejarah. Namun demikian, kiranya kita boleh menentang anggapan itu bila dihadapkan pada buku sejarah yang satu ini, yakni Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda.

Ditulis oleh seorang doktor beralmamater Universitas Wina, Ernst H. Gombrich, buku ini justru tampak lain. Menyasar pembaca muda atau anak-anak, Gombrich menarasikan bukunya dengan porsi yang enak diikuti. Walaupun yang ia bahas membentang dari zaman pra sejarah sampai akhir Perang Dunia Kedua, isi dari buku ini dijalin dengan gaya bercerita khas pendongeng, sehingga pengalaman yang didapatkan oleh pembaca tak seperti tengah membaca buku sejarah yang cenderung berat.

Mengenai isi, buku dibuka dengan membahas secara singkat perihal eksistensi zaman pra sejarah, kemudian berlanjut ke zaman Mesir kuno, lantas ke kerajaan dari Yunani, Romawi, dan lainnya. Memang, porsi yang mendominasi bahasan buku berpusat pada sejarah di benua Eropa. Penulis meneroka dari zaman ke zaman, mulai dari zaman kerajaan, Abad Pertengahan, sampai Abad Pencerahan. Namun, ia pun tetap tak luput dalam membahas eksistensi kebudayaan dan sejarah dari benua lainnya. Di beberapa bab, penulis pun membahas perihal sejarah dan kebudayaan di benua Asia dan Amerika, walaupun porsinya terbilang sedikit.

Hal lainnya, walaupun ditulis dari bias dan awalnya ditunjukkan untuk pembaca Eropa, penulis tidak terjebak dalam upaya glorifikasi yang berlebihan. Penulis justru tampak jujur dalam menuliskan sejarah bangsanya itu. Hal ini misalnya, ia tunjukkan sewaktu mengisahkan sejarah pembantaian orang Indian di Amerika yang dilakukan oleh bangsa Spanyol. Ia menulis, “Di berbagai daerah lain di Amerika sesudahnya, orang Spanyol memusnahkan bangsa Indian, bangsa tua dan berbudaya itu, dengan cara yang sangat biadab. Dalam sejarah umat manusia, babak ini begitu mengerikan dan memalukan bagi kami, orang Eropa, sampai aku enggan untuk membahasnya lebih lanjut soal ini…” (hlm. 233)

Bertahun-tahun setelahnya, ia menyangka bahwa babak itulah yang paling mengerikan yang pernah terjadi. Namun, rupanya sejarah kekejian tak berhenti sampai di situ saja. Sebab di bab yang membahas periode akhir Perang Dunia Kedua, penulis pun tiba pada pembahasan ketika Nazi memburu bangsa Yahudi. Dikatakan olehnya, “Warga Yahudi dan keturunan Yahudi di semua negara Eropa yang diduduki oleh tentara Jerman—jutaan laki-laki, perempuan, dan anak-anak—diusir dari negaranya dan diangkut ke kamp-kamp, biasanya di Eropa Timur, untuk kemudian dibunuh di sana.” (hlm. 363)    

Di bagian ini, ia memang menggarisbawahi bahwa ia tak sepatutnya menjelaskan sejarah kelam terkait kekejian tersebut, mengingat buku ini ditunjukkan kepada anak-anak. Namun, penulis lantas meralat, bahwa anak-anak toh akan berangkat menjadi dewasa, dan memang sudah sepatutnya mereka harus belajar dari sejarah, bahwa terkait tindakan Nazi ini, betapa gampangnya hasutan dan sikap intoleran mengubah orang beradab menjadi biadab.

Atas kejujurannya itulah, ketika kali pertama diterbitkan pada tahun 1936, buku ini pernah dilarang peredarannya, kendati waktu itu alasan pelarangan tersebut bukan karena anti-Yahudi, melainkan karena isi buku dianggap “terlalu pasifis”. Untungnya, pelarangan itu bukan menjadi akhir buku ini, sebab setelah perang Dunia Kedua, penulis mendapat hak cipta kembali atas bukunya. Alhasil, pada tahun 1985, buku ini terbit kembali dengan bab penutup yang membahas dinamika perpolitikkan Eropa dan pergerakan Nazi pada periode Perang Dunia Kedua.

Sekarang, buku penting ini masih bisa dibaca. Sebagai buku yang utamanya ditunjukkan kepada anak-anak, penulis tentu membawa harapan yang besar di dalamnya. Ia ingin, buku ini bisa menjadi rujukkan bagi siapa pun—terlepas dia anak-anak atau bukan—untuk mengetahui babak demi babak dari sejarah dunia. Kendati apa yang tampak di buku ini beberapa hanya berupa pengantar saja, tetapi itu tetap tak mengurangi nilai penting dalam peranannya sebagai bahan pembelajaran yang patut dilirik. Lebih jauh lagi, dengan menekankan pada dua tragedi kemanusian tadi, penulis sesungguhnya ingin kita belajar dari kesalahan itu, bahwa kita harus mengedepankan nilai toleransi dalam kehidupan kita.  Sebab upaya itu perlu dilakukan untuk mencapai masa depan dunia yang lebih baik. []

————————
Wahid Kurniawan, penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top