Oleh Imron Nasri
Judul Buku : Ancaman Nyata Radikalisme Melalui Dunia Maya
Penulis: B.D.O Siagian, MSi (Han)
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2020
Tebal : xx, 206 hlm
DALAM era modern seperti saat ini, media bukan saja berperan untuk memberitakan fakta, tetapi lebih dari itu, media juga dapat difungsikan untuk membentuk ‘fakta’. Inilah yang disebut sebagai konstruksi terhadap realitas, yakni upaya menyajikan konseptualisasi atas sebuah peristiwa/fakta yang telah disesuaikan sebelumnya. Konseptualisasi ini dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari sudut pengambilan gambar (angel), pembuatan narasi, hingga penentuan narasumber. Dengan ini, media ‘berkuasa’ untuk mencekoki masyarakat dengan informasi yang telah sarat sesak dengan ideologi tertentu.
Media seolah berhak untuk menentukan siapa pahlawan siapa lawan; apa yang baik dan apa yang buruk; bahkan tidak jarang, media berperan laiknya peradilan yang menentukan siapa yang bersalah atau suatu kasus hukum, padahal proses hukumnya masih/belum berjalan. Yang disasar oleh media tentu bukan kasus hukumnya, melainkan perhatian dan kepercayaan masyarakat. Sehingga apapun hasil dari peradilan kasus hukum nantinya, tidak akan berpengaruh banyak pada pandangan masyarakat.
Dengan demikian, media bukan hanya memilih peristiwa dan menentukan sumber berita, melainkan mendefinisikan peristiwa dan sumber berita itu sebelum disajikan ke masyarakat. Lewat pemberitaan, media membingkai sebuah peristiwa dengan sudut-sudut tertentu.Peristiwa yang telah terbingkai inilah yang kemudian disebar untuk didengar dan dibaca khalayak. Masyarakat tidak dapat melihat dari bingkainya sendiri. Media massa sebagai filter yang menyaring sebagian pengalaman dan menyoroti pengalaman lainnya, dan sekaligus menjadi kendala yang menghalangi kebenaran.
Media yang dimaksud dalam buku ini adalah media yang dikenal dengan sebutan media baru (new media). Secara teknis, sebutan media baru merujuk pada kemajuan teknologi di abad 20 di mana jaringan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat, sehingga berita dapat diproduksi dan didistribusi dengan sangat cepat. Namun, media baru juga kerap diartikan berdasarkan pada perubahan fungsi dan bentuk media itu sendiri, utamanya pada karakteristiknya yang dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat dan interaktif. Beberapa contoh new media adalah internet, website, komputer multi media, CD-Roms dan DVD.
Nah, melalui media baru inilah menurut beberapa pengamat, termasuk penulis buku ini, kelompok-kelompok teroris atau kelompok-kelompok radikal melakukan aksi propaganda dan aksi fisiknya, termasuk rekrutmen anggota baru. Bahkan,berbagai temuan yang disebar di banyak media menunjukkan bahwa media online tidak hanya digunakan untuk menebar propaganda, melainkan juga pelatihan-pelatihan online terkait taktik dan teknik melakukan serangan teror, termasuk tata cara membuat bom.
Hal yang paling berbahaya dari meluapnya situs-situs radikal di media online adalah meledaknya serangan teros yang dilakukan sedemikian rupa hingga masyarakat tidak dapat segera menyadarinya. Menurutnya, serangan teror yang disebar melalui konten-konten negatif di dunia maya dilakukan dengan cara-cara yang halus, yakni melalui tulisan-tulisan berseri yang mengangkat tema keutamaan melakukan jihad, indahnya mati di medan perang, janji-jani surgawi bagi pelaku terorisme dan seterusnya. Tujuan utamanya adalah memberedel alam bawah sadar masyarakat untuk memunculkan simpati terhadap aksi-aksi terorisme, syukur-syukur jika mereka nantinya justru tertarik untuk bergabung langsung dengan kelompok ini di medan perang.
Demikian juga halnya dengan aksi radikalisasi. Menurut March Sageman, kehadiran internet mengubah total pola dan sistem radikalisasi. Jika dulu proses ini harus melibatkan pertemuan langsung (face to face) dengan unit-unit terdekat seperti keluarga dan teman karib, kini internet berhasil memangkas proses di atas. Kelompok radikal bagitu serius menggarap ini, dengan menyediakan konten-konten radikal yang berisi pengagungan tentang kelmpok dan ideologi mereka. Catatan menarik untuk ini adalah pola narasi yang dibangun.Kelompok radikal cenderung membangun narasi seolah umat Islam sedang benar-benar didzalimi, karenanya Islam (menurut mereka tafsiran mereka) tidak bisa hanya diamalkan dengan beribadah tanpa jihad dengan peperangan. Kelompok radikal juga keranjingan untuk menempatkan ‘Dunia Barat’ dan ‘Dunia Islam’ dalam posisi biner; keduanya selalu bermusuhan. Akhirnya, kelompok radikal berupaya meyakinkan masyarakat bahwa kini telah tiba masanya untuk bangkit dan menggunakan kekerasan dengan melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh ‘Dunia Barat’.
Buku ini membuka tabir radikalisme dengan menunjukkan kriteria dan ciri utama radikalisme dalam konteks Indonesia. Di buku ini, penulis membagi radikalisme ke dalam setidaknya tiga jenis, yaitu; radikalisme kiri, radikalisme kanan, dan radikalisme lainnya. Radikalisme kiri adalah ideologi yang dipengaruhi oleh komunisme dan sejenisnya, sementara radikalisme kanan dipengaruhi oleh ideologi berbalut agama, sedangkan radikalisme lainnya adalah termasuk didalamnya separatisme, atau paham lain yang mengancam keamanan nasional.
Meski begitu, penting untuk dipahami bahwa kriteria radikalisme tidak bisa kita serahkan kepada perseorangan atau kelompok tertentu saja, karena masing-masing memiliki latar belakang pemikiran yang berbeda-beda. Karenanya, kriteria radikalisme harus mengacu pada satu konsep yang netral yang harus dilihat dari persepsi negara, yaitu keamanan nasional Indonesia, sehingga bersifat netral.
Buku ini, sebagaimana dikatakan Sekretaris Jenderal Dewan Katahanan Nasional, Laksdya TNI Ir Achmad Djamaludin, MAP dalam kata pengantarnya pada buku ini, menjelaskan secara akademik tentang apa itu radikalisme dan bagaimana radikalisme tersebut mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Dihadapkan pada masih simpang siurnya pemahaman tentang radikalisme dan kriteria radikalisme di tengah-tengah masyarakat, maka kehadiran buku ini setidaknya akan membuka wawasan dan memberikan pamahaman dan masukan kepada masyarakat, dan juga pemerintah tentang radikalisme serta bagaimana hal ini sudah menjadi ancaman nyata bagi kita. Dengan membaca buku ini diharapkan masyarakat menjadi imun/memiliki daya tahan terhadap penetrasi ideologi radikal atau paham radikal terhadap dirinya atau komunitasnya, yang pada gilirannya akan meningkatkan ketahanan nasional bangsa dan negara. []
Imron Nasri, Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta