Pustaka

Lampung, Ada yang Luar Biasa

Oleh Muhammad Alfariezie

SEBAGAI wartawan atau jurnalis baru, tentu banyak kesulitan yang kualami ketika menulis berita. Walau aku bertahun-tahun menulis sastra, yaitu puisi dan prosa, tetap saja, menulis berita merupakan hal baru bagiku. Menulis berita tidak sekadar mengolah data dan fakta menjadi informasi yang dipublikasikan, tetapi cara penyampaian yang ringkas dan tak bertele-tele atau penuh perasaan sebagaimana karangan sastra.

Kesulitan itu kian bertambah ketika wartawan seniorku berbeda pandangan saat mengajariku. Ada seniorku yang bilang bahwa menulis berita hanya perlu empat paragraf dan satu narasumber saja dan ada yang bilang minimal enam paragraf dengan tiga narasumber.

Hal itu benar-benar membuatku pusing tujuh keliling dan merasa bahwa aku orang yang paling bodoh karena kegaduhan pikiran itu. Aku menjadi bingung dalam menulis berita. Sebab, ketika kuikuti senior A, dikritik senior B, lalu sebaliknya.

Kebingungan itu menuntunku untuk berdoa kepada Tuhan. Menurutku waktu itu, Tuhanlah yang mampu membawaku ke jalan yang terang benderang, yakni jalan yang penuh jawaban atas apa yang kupertanyakan, maka usai salat di masjid, aku berdoa supaya Tuhan mau menuntunku agar menemukan sesuatu yang bernilai, yakni ajaran untuk menulis berita yang sesuai, yang diterapkan wartawan utama di koran-koran ternama.

Ketika malam, aku dan redaktur-redaktur serta pemimpin redaksi dan perusahaan sedang menentukan berita yang akan mengisi halaman-halamam koran kami, redakturku mengkritik kembali tulisanku yang leadnya belum 5w+1h. Katanya, “Aih kidah, gimana sih kamu ini, masak nulis berita tanpa keterangan tanggal,” ujarnya.

Beruntung bagiku yang barangkali, doaku telah dikabulkan Tuhan yang Maha Esa. Redakturku tidak sekadar menegur, tetapi dia menyuruhku agar datang ke rumahnya untuk membaca buku belajar menjadi jurnalis.

Aku pun senang tanpa kepalang. Aku menjadi tambah bersemangat.

Hari yang disepekati pun tiba, aku datang ke rumahnya. Aku disuruhnya memilih sendiri buku-bukunya. Tapi, karena kebingungan maka tak kutemukan dan ia pun mengambil alih pemilihan buku. Ia ambil buku berjudul Menulis Asyik: Ocehan Tukang Tulis Ihwal Literasi dan Proses Kreatif dengan Sedikit Tips karya Udo Z Karzi, penulis dan jurnalis asal Lampung yang pernah menjabat redaktur Budaya Lampung Post dan kini menjadi Redaktur Budaya di Lampung News. Buku yang diterbitkan Sai Wawai Publishing, 2014 ini dicetak ulang oleh penerbit yang sama, 2018.

Buku yang Asyik

Buku yang kuterima darinya, sungguh menggugah, sehingga minat membacaku pun muncul. Cover buku berjudul Menulis Asyik  adalah awal ketertarikanku untuk membaca buku karangan jurnalis Lampung yang juga pernah menginjakkan kaki dan bekerja Borneo News, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Bagaimana tidak, dan cover bukunya berpadu dengan tinta hitam judulnya, lalu nuansa sederhana tanpa gambarlah yang membuatku ingin sekali membaca bukunya.

Begitu kubuka tulisan awal, yang sering disebut orang sebagai kata pengantar, aku pun merasakan getaran perasaan hingga pikiranku berkata bahwa buku ini harus kubaca. Kata-kata Udo sangat millenial sekali, berbeda ketika dia berbicara atau menjelaskan tentang menulis karya jurnalistik. Kalimat-kalimat Udo atau gaya tuturnya sangat mudah dibaca dan dipahami, karena tidak banyak menjelaskan teori-teori yang disusun orang lain, melainkan, Udo menulis sesuai pengalaman dari bahan bacaannya dan dari pengalamannya selama menulis sebagai jurnalis.

Dalam judul-judul utamanya pun, Udo tidak banyak menulis tentang teori-teori dari segala macam pemikir terkemuka. Lugas dan luwes ia ceritakan pengalaman dan pemahamannya dan tidak bertele-tele. Selain itu, gaya tutur udo seperti berbicara kepada teman, sehingga saya tidak merasa dibodohi, tetapi sebagaimana menerima nasihat dari teman. Sungguh, aku merasa damai karena pengetahuan yang ia bagikan.

Judul yang paling kusuka ialah Menulis tanpa Beban dan Menulis Ulang.Udo Z Karzi benar-benar seperti seorang teman yang  memberi ide brilian kepadaku dan pengalamannya itu, yang ia bagikan padaku, benar-benar tepat. Saat ini, aku benar-benar pusing harus menulis,  karena banyaknya materi menulis dari senior-seniorku. Tapi, materi itu membingungkan. Namun, setelah membaca judul “Menulis tanpa Beban dan Menulis Ulang” dari bukunya, aku tak lagi bingung untuk menulis.

Aku tak lagi memedulikan harus menulis apa ketika ingin liputan. Sesuai perkataannya, yakni kumpulkan bahan tulisan, barulah mulai menulis lalu sunting kembali naskah yang sudah selesai dan jika dirasa masih belum optimal, tulis ulang. Hehehe… Gitu aja kok repot— Barangkali dalam bukunya, Udo ingin bicara seperti itu, bergaya bak Gus Dur.  Tapi, benarlah apa yang dikatakan Udo. Aku merasakan langsung dampak positif gagasan-gasasannya itu. Aku seperti seorang pengarang yang setiap waktu selalu menulis, eits tapi tetap sesuai dengan bahan-bahan yang saya pakai, dan khusus karya jurnalistik, yakni memperhatikan judul, lead, dan isi hingga penutup. Alhamdulilah, seniorku tidak terlalu mengkritik tulisanku. Walau masih mengkritik, tidak seperti dulu. Dulu mereka bisa menyalahkan tulisanku karena ada sepuluh kesalahan. Tapi sekarang, paling hanya 123 tiga kesalahan saja, yakni lead yang lupa tanggal atau lead yang tak sesuai judul.

Baru Tahu Ada Penulis Luar Biasa

Aku harus jujur, membaca Menulis Asyik-nya Udo sangatlah menggembirakan— membaca karangan ini, aku tidak ingat waktu. Setelah menyelesaikan satu judul, aku seperti mendapat ajakan untuk selalu membaca judul-judul lain hingga selesai. Tulisan-tulisan Udo benar-benar bergaya millenial dan seperti karangan terkini yakni Mark Manson, yang buku terkenalnya adalah, kalau tidak salah, Bersikap Bodo AmatSorry  saya lupa judul aslinya.

Udo Z Karzi benar-benar pengarang Lampung yang  kuanggap luar biasa.  Karangannya dalam Menulis Asyik,  amatlah dekat denganku, yakni seorang pembaca dan seorang yang membutuhkan materi untuk melatih skill tulis-menulis.

Aku mengira di Lampung hanyalah tempat bagi penyair dan karangan-karangan cerpen. Tapi,  setelah membaca buku Udo Z Karzi, pengetahuanku bertambah, di Lampung memiliki pengarang populer, yang dibutuhkan anak-anak millenial.

Karangan-karangan Udo, simple, jelas dan padat. Hmm, aku jagi kepingin membaca buku-bukunya yang lain. Kalimat-kalimat Udo tak hanya membuatku berpikir, tapi tertawa, senyum-senyum mesem, hingga geleng-geleng kepala— sesuai Sub judul “Baru Tahu di Lampung Ada Penulis Luar Biasa”.  [] l  

Muhammad Alfariezie, wartawan Lampung News

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top