Cerita Bersambung

Negarabatin (68)

Sebelumnya, tahun 1978, bersama Kajjong Usanah ke rumah ini pula. Sudah tentu Uyung paham benar dengan pemilik rumah. Mereka sekeluarga Pakbatin Yusri, Inabatin, Cikwo, dan Cikngah sering pula pulang kampung ke Liwa.

Empat tahun yang lalu sejak Uyung terakhir ke sini. Mamak Hardi yang ketika datang ke rumah di Negarabatin beberapa hari lewat yang tidak disapa Uyung dan oleh karena itu ia dimarahi bak-nya, memang sudah bersekolah di Tanjungkarang serta menumpang tinggal dengan Pakbatin Yusri sekeluarga. Bertambah ramai pula rumah ini karena di sebelahnya yang dulu masih berupa tanah tempat bertanam macam-macam, sekarang sudah menjadi rumah sewaan atau kosan. Ada beberapa kamar di sebelah rumah. Termasuk Minan Nalom kos pula di sebelah.

O, pantasan Uyung tidak menemukan rumah ini. Padahal sudah beberapa kali ia lewat di jalan dan rumah ini dua hari lalu.

Ya, selain nama jalan yang ganti, rumah ini sudah banyak berubah.

Kembali ke Uyung yang sudah dilihat Pakbalak Sakwan dan langsung ia pegang tangan Uyung. Uyung menarik-narik tangannya. Pakbalak Sakwan mengira Uyung mau kabur lagi.

“Nah, mau ke mana?” tanya Pakbalak.

Uyung diam saja. Ia bingung. Yang dari dalam rumah keluar semua. Di antaranya bak– nya Uyung, Jahri ada di sana. Rupanya beberapa hari minak-muari memang sudah berkumpul di rumah ini. Ada yang sengaja benar datang dari Negarabatin. Ada pula yang memang tinggal di Tanjungkarang. Tidak salah, memang sengaja mencari Uyung yang menghilang dari pekon tidak bilang-bilang.

Tidak lama, Om Herman yang mengantar Uyung muncul di pintu.

“Ini Om yang mengangtarkan saya,” kata Uyung mengenalkan Om Herman pada minak-muari yang ada di sana.

“O… syukurlah. Ayo masuk dulu, Pak,” sambut Pakbalak Sakwan.

“Ini Uyung memang dicari-cari dan ditunggu-tunggu. Ini bak-nya. Saya Pakbatin-nya. Ini Pakbalak-nya. Itu Inabatin-nya. Yang sebelah sana, kakak, mamak, dan  minan-nya. Yang lain-lain, sanakta-famili semua,” berkata Pakbatin Yusri.

“Ada juga yang pontang-panting mencari Uyung di mana-mana kalau-kalau bisa menemukan Uyung,” kata yang lain.

“Sudah dimasukkan juga ke RRI berita anak hilang,” yang lain menambahkan.

Hanya Jahri yang tak bisa bicara. Hatinya tidak menentu. Yang jelas, ia tentu gembira anaknya sudah diketemukan.

“Jadi bagaimana cerita Uyung ini?” Pakbatin Yusri bertanya.

Om Herman menceritakan Yasir Irawan alias Uyung sejak suatu sore diterima di rumah Pak Nikman Hasan, minap tiga malam, membantu-bantu pekerjaan rumah, sakit sampai Uyung mengatakan memiliki family di sini dan ia lalu mengantarkannya ke sini.

“Untunglah Uyung sudah ditemukan. Kami Mamak Hardimu mencari-cari di macam-macam tempat. Semua anak-anak dicoba dilihat mukanya. Seperti iya, begitu didekati, ternyata bukan. Ada juga lelaki gelandangan yang tidur berselimut sarung di depan toko. Saya tarik sarungnya oleh karena kata mereka, kamu membawa sarung hijau. Eehh, bukan. Lelaki tua berjenggot tak terurus. Marah-marah pula lekaki itu…,” cerita teman Mamak Hardi yang baru datang karena mendapat kabar Uyung sudah di rumah Pakiskawat.  

Dalam suasana tegang ini, ada pula cerita yang membuat orang tertawa.

***

Yang hilang sudah ditemukan. Yang di pekon sudah menunggu-nunggu. Tidak lama-lama. Keesokan harinya langsung kembali ke Negarabatin. Sebelumnya mampir di rumah Jalan Ahmad Yani diantar Pakbatin Yusri, Uyung, Bak-nya, dan Pakbalak Sakwan pamit dan mengucapkan terima kasih sudah memberikan tumpangan kepada Uyung, mengobati ketika sakit, dan segala bentuk penerimaan ketika Uyung di rumah tersebut.

>> BERSAMBUNG

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top