Tring dan Rahasia Hebatnya

Oleh Fitri Restiana

Srek … Srek … Srek ….

“Hei, itu Tring! Yuk kita hampiri,” ajak Monea.

Tring trenggiling terlihat sibuk di balik semak.

“O, penghuni baru itu. Sepertinya dia hewan yang aneh dan berbahaya. Kamu jangan dekati dia,” bisik Nail mengajak Monea duduk santai di tepi sungai.

“Aneh? Berbahaya?” Monea memicingkan mata mencoba mengamati Tring dari kejauhan.

“Dia tak mau dekat dengan kita. Seolah ada rahasia yang disembunyikan,” lanjut Nail tanpa memedulikan pertanyaan Monea.

“Berbahaya mana dengan gigimu yang besar dan tajam itu?” Monea gemas melihat Nail sibuk menduga-duga teman baru mereka.

“Hei, tapi aku tidak berbahaya,” sahut Nail.

Menurutnya, dia adalah hewan yang ramah. Nail sering mengingatkan teman-temannya bahwa di balik tubuhnya yang besar dan wajah yang mungkin agak menyeramkan, hatinya lembut seumpama bunga dandelion.

“Kamu ingat, aku membiarkan burung-burung hinggap di tubuhku dan memberi mereka makan?”

‘Hmm, itu kan artinya mereka juga membersihkan badanmu,’ ungkap Monea dalam hati.

“Aku juga tak mengganggu bebek dan ikan-ikan yang berenang di sekitarku,” lanjut Nail.

“Karena memang seharusnya begitu. Sungai bukan milikmu walau kamu berendam enam belas jam di situ.” Kali ini Monea memberanikan diri membalas ucapan Nail. Maklumlah, Nail termasuk hewan yang suka ngambek. Apalagi jika ada yang berbeda pemikiran dengannya.

“Satu lagi. Aku tak pernah memamerkan kebaikanku. Bagiku itu biasa saja,” lanjutnya sambil mengibaskan ekor.

“Laah, yang dari tadi kamu omongin apa?” Monea tergelak. Tadinya dia kesal melihat kelakuan Nail, tapi ketika mendengar Nail malah bersikap seolah menyombongkan kebaikannya, Monea merasa geli sendiri.

“Aku kan cuma cerita kebaikanku … eh … cerita apa saja, begitu.” Sambil bersungut Nail bersiap berendam lagi.

“Hei, Nail. Janganlah merajuk begitu. Yuk kita hampiri Tring. Ssst, siapa tahu dia memang berbahaya dan punya rahasia. Kalau benar, kan ada kamu yang bisa mengatasinya. Betul?” Monea mengedipkan matanya jail. Hidung Nail jadi kembang kempis mendapat pujian dari Monea.

“Betul. Ayo!” Nail bersemangat sekali.

Tring masih sibuk mengais-ngais tanah. Hidungnya bergerak-gerak. Lidahnya yang panjang sesekali terjulur ketika ada banyak serangga di hadapannya.

“Hai, Tring! Kamu sedang apa?” sapa Monea.

“Eh, aku baru saja selesai mencari semut.” Tring menjelaskan malu-malu. Badannya yang tertutup sisik tebal sedikit menggulung.

“Ih, untuk apa kamu mencari semut? Nanti kamu digigit, loh!” seru Nail waspada. Matanya fokus tertuju pada sisik di tubuh Tring.

Monea tertawa. “Aku makan pisang, kamu makan rumput dan tumbuhan, Tring makan semut dan serangga lainnya. Dia insektivora.”

“Iyaa. Aku bisa makan dua ratus ribu semut dan rayap dalam sehari. Hihihi. Banyak, kan?” sahut Tring menepuk-nepuk perutnya sambil tersipu. “Kamu … hmm, kamu gagah.” Mata Tring trenggiling menatap Nail kagum. Dia baru sekali ini berhadapan dengan kuda nil.

“Namanya Nail. Dia herbivora.” Monea menjawab riang. Dia tahu, Nail masih menganggap Tring aneh, berbahaya, dan menyimpan rahasia.

Lagi-lagi hidung Nail kembang kempis. Dengan sedikit membusungkan dada, dia bertanya pada Tring. “Sisikmu itu keras, ya? Apa bisa menyakiti hewan lain?”

Baru saja Tring hendak menjawab, tiba-tiba dia mengendus-endus. “Kalian cepat sembunyi!”

Monea mendekati Tring. “Apakah ada sesuatu yang berbahaya?” Monea bertanya pelan. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan. Burung-burung yang biasanya berkicau merdu, tiba-tiba tak terdengar alunannya.

“Kamu naiklah ke pohon. Beri tanda jika ada yang mencurigakan. Penciumanku bagus, tapi tidak dengan penglihatanku.”

Tanpa berpikir panjang Monea menyuruh Nail ke sungai dan memberi kode agar menuruti perintahnya segera. Dia percaya Tring tidak main-main dalam hal ini.

Namun, tidak dengan Nail. Dia pikir mereka sedang mempermainkannya. “Hei, kenapa kalian pergi?”

“Masuklah ke sungai, Nail. Cepat! Aku mengintai ada yang asing di sekitar kita,” sahut Tring.

Monea sudah di atas pohon, bukan untuk meninggalkan Nail tapi untuk melihat keadaan sekitar. O tidak! Ada tiga manusia sedang mengendap-endap dengan senapan dan alat berburu di tangannya!

Kali ini Monea harus bergerak cepat. Dia berteriak mengingatkan Nail dan teman-temannya. Tentu saja, hanya penghuni hutan yang saling mengerti artinya. Ketiga manusia yang jelas tak paham bahasa binatang itu kaget karena tiba-tiba hutan yang tenang berubah menjadi berisik.

Bum! Bum! Bum! Nail berusaha lari menuju sungai.

Tring menatap cemas. Senapan pemburu sudah siap membidik Nail. Apa yang harus dia lakukan? Badannya kecil, bagaimana bisa melawan pemburu dan menyelamatkan Nail?

Dua senapan sudah diarahkan. Tiba-tiba Tring ingat sisiknya. Sebenarnya dia sangat takut. Jangankan melawan pemburu, mendekatinya saja dia tak berani. Namun, Nail sedang berada dalam bahaya. Dia harus melakukan sesuatu. Tring menggulung badannya dan berguling ke arah pemburu.

“Monea, beri aku aba-aba!” teriak Tring pada Monea.

“Siap! Lurus! Guling ke kiri! Tabrak!”

Bruuk!

Dua pemburu jatuh bersamaan. Ya, Tring menyerang mereka dari arah belakang. Kedua pemburu itu terjengkang. Satu pemburu lainnya berlari ingin menangkap Tring.

O, mana bisa! Bukankah ada Monea di atas sana! Tanpa ampun, Monea turun dan menggigit kaki manusia jahat itu, lalu segera naik dan bersembunyi di balik pepohonan. Dia melihat Tring juga sudah aman di dalam tumpukan daun-daun kering.

Suara orang utan yang bersautan, lolongan anjing, dan gajah yang menggeru, membuat panik para pemburu. Dengan tertatih mereka pergi meninggalkan hutan.

Keadaan sudah tenang, Tring dan Monea mendekati Nail yang sedang membenamkan diri.

“Keluarlah, Nail. Kamu hanya bisa bertahan lima menit di dalam air, kan?”

Nail menyembulkan wajah leganya. “Huhuhuhu.”

“Kamu menangis, Nail? Betulan kamu menangis?” Baru kali ini dia melihat kuda nil yang biasa tampak gagah, pemberani, dan yaah … kadang sombong itu terlihat lemah.

“Terima kasih, Monea dan Tring. Berkat keberanian dan sisikmu yang kuat itu, aku selamat.”

“Uh, bukannya sisik Tring berbahaya?” tanya Monea pura-pura serius.

“Berbahaya menurut mereka yang jahat. Bagiku, itu sangat hebat! Maafkan aku, Tring,” ucap Nail. Dia belajar banyak hal, hari ini. []

_______
Fitri Restiana, pengarang, tinggal di Bandar Lampung.