Dari Rumah Panggung ke Bangkai Pantun

SERASA mengalami lemparan waktu yang kasar sekaligus getir tatkala menelusuri larik-larik buku puisi Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat. Buku puisi ini tidak sekadar mengajak pembaca menengok masa silam, tetapi memaksa kita bercermin pada satu kenyataan pahit: betapa rapuh dan kaburnya kesadaran kita tentang identitas. Kita hidup di atas ingatan yang bolong, sejarah yang terpotong-potong, dan kebiasaan kolektif untuk melupakan—atau sengaja melupakan.

Dalam perspektif sosiologi ingatan, apa yang dilakukan Ari sejalan dengan gagasan Maurice Halbwachs tentang collective memory: bahwa ingatan bukan sekadar urusan personal, melainkan dibentuk oleh struktur sosial, kekuasaan, dan bahasa. Ketika struktur itu runtuh atau diubah secara paksa, ingatan pun terdistorsi. Puisi-puisi dalam buku ini bekerja justru untuk menyingkap distorsi tersebut.

Sejak puisi pembuka ā€œNusantara, Amnesiaā€, Ari menyodorkan gugatan dengan bahasa yang sederhana namun mengguncang. Pertanyaan-pertanyaan seperti ā€œRumah panggung sudah dijual?ā€ atau ā€œSungai sudah kau dangkalkan?ā€ berfungsi sebagai interogasi kultural. Yang dipersoalkan bukan semata perubahan fisik, melainkan terputusnya relasi manusia dengan ruang hidup dan kosmologinya. Puncak gugatan hadir saat Tuhan pun dipertanyakan dan ā€œdijualā€: Tuhan yang bersemayam di pohon, batu, dan riak sungai—sebuah spiritualitas lokal yang tercerabut oleh modernitas dan logika komodifikasi.

Di titik ini, puisi Ari berkelindan dengan gagasan Pierre Nora tentang lieux de mƩmoire (ruang-ruang ingatan). Rumah panggung, sungai, pantun, dan syair dalam Nusantara, Amnesia adalah ruang ingatan yang kehilangan fungsinya. Ketika ruang itu lenyap, ingatan pun tak lagi punya tempat bernaung.

Taman masa lalu. | RenƩ Boes/Pixabay
Taman masa lalu. | RenƩ Boes/Pixabay

Dimensi kolonial buku ini tampil paling gamblang dalam puisi ā€œNusantara, Amnesiaā€, ketika Ari menyingkap kolonialisme bukan semata sebagai peristiwa penaklukan teritorial, melainkan sebagai proyek epistemik dan spiritual:
Peta Vasco de Gama
mengantar berbagai tamu
membuat kompas,
mengirim Tuhan-Tuhan baru;
demokrasi, Jesus, sekolah, mesiu
yang meletup di genggaman
Vasco da Gama melintas sepi
demi mencari pahala, cengkih, dan pala
(hlm. 5–6)

Larik-larik ini bekerja sebagai pembongkaran mitos ā€œkemajuanā€. Kompas dan peta—simbol rasionalitas Barat—tidak netral; keduanya menjadi alat untuk ā€œmengirim Tuhan-Tuhan baruā€. Demokrasi, agama, pendidikan, hingga mesiu disejajarkan sebagai instrumen kolonial yang datang bersamaan, bukan terpisah. Dengan menyandingkan Jesus dan mesiu dalam satu tarikan napas, Ari menunjukkan bagaimana iman, kekerasan, dan pengetahuan bekerja sebagai satu paket penaklukan. Kolonialisme, dalam tafsir ini, bukan hanya mencuri rempah, tetapi juga mengganti kosmologi dan menyingkirkan Tuhan-Tuhan lokal dari lanskap ingatan Nusantara.

Puisi-puisi Ari kemudian bergerak di antara ingatan personal dan trauma kolektif. Dalam larik ā€œBersamamu kurangkai silsilah dan kususun ingatan tentang kampung terbakarā€, ingatan tampil sebagai puing yang harus digali ulang. Pantun, syair, dan gurindam digambarkan sebagai ā€œbangkaiā€ā€”metafora keras tentang tradisi lisan Nusantara yang ditinggalkan. Amnesia di sini bukan gejala alamiah, melainkan hasil dari proses sejarah yang menenggelamkan ingatan, menggantinya dengan narasi baru yang lebih patuh pada pasar dan kekuasaan.

Trauma politik Indonesia modern hadir dengan bahasa yang hemat dan dingin. Dalam puisi ā€œ1965ā€, Ari tidak berkhotbah; ia hanya menghadirkan suasana sunyi yang mencekam: ā€œitu bukan angin / itu merekaā€. Kesunyian itu justru mempertegas horor sejarah—sebuah horor yang bertahan karena tak pernah sungguh dibicarakan. Sementara fragmen-fragmen Reformasi—boneka yang meleleh, cat putih yang menutup kata ā€œorang pribumiā€ā€”menunjukkan bagaimana kekerasan bekerja bukan hanya melalui senjata, tetapi juga lewat bahasa, simbol, dan penghapusan tanda.

Dalam puisi ā€œSehampar Pulauā€ hingga penutup buku, Ari menegaskan paradoks bangsa kepulauan: kita memuja Nusantara, tetapi sekaligus mengkhianatinya dengan lupa. Larik ā€œberulang kau memujanya / berulang kau mendustanyaā€ menjadi simpulan getir atas seluruh rangkaian puisi. Ingatan dibakar, lalu dilupakan; dan seperti ditegaskan Ari, dari api itu memang tak ada yang kembali.

Sebagai buku puisi, Nusantara, Amnesia menolak kenyamanan. Ia tidak menawarkan rekonsiliasi palsu, melainkan kesadaran kritis. Ari Pahala Hutabarat menjadikan puisi sebagai ruang perlawanan ingatan—tempat sejarah yang terpinggirkan disusun ulang, meski hanya sebagai serpihan. Buku ini penting dibaca bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi sebagai pengingat keras: tanpa keberanian membaca dan mengaca diri, kita akan terus hidup dalam amnesia yang diwariskan dari satu zaman ke zaman berikutnya. []

Buku puisi Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat. | Ist

Data buku
Judul: Nusantara, Amnesia
Penulis: Ari Pahala Hutabarat
Penerbit: Lampung Literature, Bandar Lampung
Cetakan: I, November 2025
Tebal: 74 + x, 13 x 20 Cm
ISBN: 978-623-89292-6-9