Oleh Udo Z Karzi
KEMATIAN benar-benar menjadi rahasia Allah Swt yang tidak pernah kita duga. Sehari setelah menuliskan obituari untuk Ahmad Muslimin alias Ahmad Bara yang dia sebut “salah seorang jenderal lapangan yang kepadanya saya menaruh hormat” yang berpulang pada Kamis, 26 Desember 2024; M Saddam Ssd Cahyo mendapat giliran memperoleh panggilan menghadap Ilahi Rabbi, beberapa jam lalu, Minggu, 29 Desember 2024.
Beberapa menit yang lalu, saya mendapatkan kabar duka dari Arman AZ. “Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Selamat jalan, Mamak Lawok, seniman tradisi lisan Lampung, dari Kabupaten. Pesisir Barat. Terang & lapang jalanmu, Mamak,” tulisnya di FB, Minggu, 29 Desember 2024.
Pria bernama asli Mursi Mursudi ini adalah seniman tradisi pelantun sastra lisan hahiwang dan muayak dari Pesisir Barat, Lampung. Ia pernah mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2020 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Sembilan tahun yang lalu, 27 Desember 2015, ayahanda Zubairi Hakim bin Abdul Hakim berpulang ke Rahmatullah. Lalu, menyusul ayah mertua Hasan bin Zaid wafat pada 10 April 2022.
***
Saya tak ingat pernah bertemu Saddam Cahyo atau tidak. Tapi, sosok ini tak mudah saya lupakan. Alumnus Sosiologi Universitas Lampung (Unila) ini selama mahasiswa pernah aktif di Surat Kabar Mahasiswa Teknokra, BEM FISIP Unila, dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Terakhir, ia bekerja sebagai analis kebijakan ahli pratama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Mudah bagi saya untuk meneluri “jejak literasi”-nya. Sebab, Saddam adalah seorang pembaca dan penulis yang kritis. Ia aktif menulis fiksi dan nonfiksi di berbagai media. Artikel-artikel 2010–2015 dihimpun dalam buku: Biji yang Tumbuh: Bunga Rampai Pemikiran Kritis Mahasiswa.
Saat alumni FISIP Unila merencanakan menerbitkan kumpulan tulisan mengenai pengalaman kuliah, beraktivitas, dan berorganisasi di Kampus Oranye, Saddam termasuk yang sangat antusias menyambutnya. Selain tulisan pribadinya, ia saya minta menulis obituari M Yusuf Rizal, mahasiswa Sosiologi FISIP Unila yang tewas dalam Tragedi UBL Berdarah, 28 September 1999. Selain Ijal, kejadian ini juga merenggut nyawa Saidatul Fitriah, fotografer Surat Kabar Mahasiswa Teknokra, terkena popor senapan tentara. Dalam buku Romantika di Kampus Oranye: Dinamika FISIP Universitas Lampung dari Kisah Alumni (2022), Saddam menyumbang dua tulisan: “Merah itu Warna dalam Pelangi” dan “M Yusuf Rizal dan Tragedi UBL Berdarah 28 September 1999”. Saddam juga bersama saya menjadi kontributor buku Pandemi Pasti Berlalu: Mencatat Covid-19, Tragedi, dan Harapan Setelah Itu (2021).
Akan halnya, Ahmad Bara—yang sahabat dan saudara perjuangan Saddam—yang bernama aslinya Ahmad Muslimin, beberapa kali bertemu dalam beberapa kesempatan. Ia saya kenal sebagai aktivis yang membela pendidikan dan kesehatan bagi kaum miskin atau hak-hak kaum buruh. Sebagai aktivis yang menyukai diskusi dan debat, ia seperti halnya Saddam, sangat kritis.
Sekali-dua kali saya ikut dalam pusaran perbalahan di media sosial dengan Ahmad Bara. Kalau ketemuan langsung sih, saya termasuk tidak punya keinginan mendebatnya. Jelas saya kalah. Ia langsung berhadapan dengan masyarakat dan mengadvokasi warga yang perlu dibela. Sementara saya hanya mengumpulkan remah-remah berita yang diolah dan diterbitkan di media tempat saya bekerja.
Selamat jalan, Saddam dan Ahmad Bara. Kalian benar-benar pejuang rakyat. Semoga Allah Swt memberi kalian tempat terbaik sesuai dengan amal yang dilakukan selama ini.
***
Pertemuan kembali dengan Maman Suryanto, teman kecil seletingan satu sekolah di SDN 1 Negarabatin Liwa (1977-1983) dan SMPN 1 Liwa (1983–1986) di Yogyakarta, Rabu malam, 25 Desember 2024, mengembalikan lagi remah-remah ingatan di kampung halaman dan kehidupan yang kami jalani saat ini.
“Kita ada dua puluh … berapa lulus dari SD dulu?” kata Maman.
“Ada 24 orang,” sahut saya.
“O iya, 24 orang.”
Lalu, kami mulai membuat presensi siapa saja teman kami itu: Aspiyani, Hermansyah alias Polok, Netti, Yestriana, Astina Sari, Husnati, Nurbaiti, Novita Yosi, Jaya Nata Putra, Sodri, Gadis, Irwan, Iskandar, Budi Putra, Edi Sudarso, Riswan, Risna Dewi, Rahayu … dst yang kini tersebar di berbagai daerah di Tanah Air. Apalagi setelah gempa Liwa, 16 Februari 1994.
Di antara teman-teman kami itu, ada yang sudah mendahului kami ke kampung akhirat. Zulkifli Anaz meninggal di tahun Reformasi 1998 dalam sebuah rekreasi ke laut di Jayapura, Papua. Sebelumnya saya sudah kehilangan kontak dengan sesama ‘penggila membaca’ ini sampai tahu dari teman beberapa tahun setelahnya. Kifli yang juara kelas ini adalah teman terbaik dalam soal literasi. Kami sama-sama gila membaca. Kecemburuan pada Kifli yang cerpennya menembus majalah di Ibu Kota ketika dia sama-sama masih berseragam putih abu-abu yang membuat saya juga mulai mengirim tulisan ke berbagai media terbitan Jakarta tahun 1980-an akhir.
Romzi berpulang setelah tak sengaja meneguk air keras saat berbuka puasa di tengah duka setelah gempa menimpa Liwa 1994. Senakal-nakalnya Mamak Ji waktu kecil, ia yang menjadi pembela saya kalau ada yang berani menggganggu. Mamak Ji pula yang mengajari saya memanjat pohon dan berenang, meskipun kedua keahlian ini tak bisa saya kuasai. Saya memang murid eehh… teman yang bodoh dalam hal itu.
Lalu, Afrizal Anas meninggal di Lubuklinggau, Sumatra Selatan, 16 Oktober 2024 lalu.
Mendengar Ijal sakit, saya segera menanyakan kabarnya.
Ijal menjawab, “Nyakku tanno di lamban gawoh, Joel. Lagi basa ni pemulihan. Niku daleh daleh keluarga repa, munyaian kudo? (Saya sekarang di rumah saja, Joel. Sedang pemulihan. Kamu dan keluarga bagaimana? Sehat-sehat saja, kan?)”
“Yu, kalau megeluk munyai. Alhamdulillah sekam di Tanjungkarang munyaian. (Ya, semoga cepat sembuh. Alhamdulillah kami di Tanjungkarang dalam keadaan sehat.)”
Ya, sangat berharap Ijal segera sembuh. Ia bilang, mau ke Lampung dan biasanya kalau ke Lampung, ia minta bertemu dengan saya. Di antara teman-teman lain, yang paling sering bertemu sampai ia pindah ke Lubuklinggau adalah Ijal. Ijal ini baik sekali. Salah satu orang Minang yang tidak pelit adalah Ijal. Hampir tiap dua minggu sekali , Ijal datang dari Metro ke kosan, menjadi donatur nonton film kungfu dan Warkop DKI di bioskop-bioskop di Bandar Lampung, bayar ongkos dan makan-minum selama bersama saya.
Saat menulis novel Negarabatin (2016), Ijal juga yang banyak menanggapi postingan kliping cerita bersambung di Fajar Sumatera. “Joel, ceritakan juga kita kecerma (pesta ikan), maling ikan di pasar, main kebut-kebutan motor…,” komentar Ijal yang anaknya Bengkel Anas di Liwa tahun 1980-an.
Saat bukunya terbit, ia langsung memesan dan minta dikirimi novelnya.
Makanya, sembari berharap ia segera sembuh, saya kirim pesan WA, “Assalamualaikum. Jal, kukirimko novel inji kintu aga ngebaca-baca yu. Kilu alamatmu. (Assalamualaiku. Jal, kukirimko novel inji kintu aga ngebaca-baca ya. Minta alamatmu.)”
Saya sertakan gambar novel Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis yang baru terbit.
Ijal membalas dengan memberikan alamatnya. Lalu, mengirimkan fotonya tengah terbaring dengan mata terpejam dan selang infus yang terpasang di lengannya. “Mohon doanya sekarang lagi dirawat,” tulis pesan WA yang mungkin bukan Ijal yang menuliskannya.
“Yu, Jal. Ya Allah, keni kantekku inji kesehatan. Kekalau geluk munyai yu Jal. Amin. (Ya, Jal. Ya Allah, berilah sahabatku ini kesehatan. Semoga cepat sembuh ya Jal. Amin.),” tulis saya
Saya tepekur. Novel tak jadi saya kirim. Dan, innalillahi wainna ilaihi rajiun. Melalui postingan Mery Anas, adik ijal di FB, 16 Oktober 2024, saya kemudian tahu, teman saya–juga teman kecil lain seperti Kifli, Romzi, Sodri, Jaya, dan Aspiani–bermain perang-perangan dengan senapan buatan dari tangkai daun pisang, pistol dari bambu kecil dengan peluru sememui (saya tidak tahu nama tumbuhan ini dalam bahasa Indonesia) atau bermain mobil-mobilan dari batang talas ini; saya ketahui telah mendahului kami.
Terbayang kini, betapa serunya dunia kanak-kanak dengan teman-teman kecil yang jauh dari pikiran-pikiran kotor dan jahat untuk menciderai orang lain. Perang kami cuma perang-perangan, tembak-menembak kami hanya tembak-tembakan. Kalau pun berkelahi, kami segera berbaikan. Tak ada dendam di antara kami.
Namun, perjalanan kehidupan memang harus berakhir pada kematian. Beberapa di antara kami yang kelahiran sekitar 1970, telah pergi meninggalkan dunia fana. Dengan usia di atas setengah abad, kami pun kini hanya menunggu giliran…
Alfatihah dan doa terbaik untuk semua kawan yang telah tiada. Amin. []