Oleh Gufron Aziz Fuadi
DAHULU ada seorang raja yang sangat khawatir dengan kekuasaannya. Lebih lebih kepada seorang pemuda multitalenta yang awalnya akan dikader sebagai sekutunya dengan dididik sebagai ahli sihir.
Maka, mulailah pemuda tadi belajar ke ahli sihir istana. Tapi, perjalanan ke sana harus melewati rumah seorang ulama/pendeta.
Alih-alih belajar sihir kepada ahli sihir istana, pemuda ini justru belajar ngaji dengan rajin kepada ulama/pendeta sampai akhirnya dengan izin Allah pemuda tadi bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan kemampuan lainnya. Namun, dengan kondisi beda keyakinan dimana pemuda menjadi pengikut ulama dengan beriman dan menyembah Allah, tidak sebagaimana harapan raja agar menjadi ahli sihir dan menuhankan dirinya.
Raja marah pastinya dan memerintahkan agar pemuda radikal tersebut segera dibunuh. Tapi, berbagai upaya untuk membunuh pemuda selalu gagal, dari mulai mau dijatuhkan dari tebing yang tinggi sampai dibuang ketengah laut pemuda itu selalu selamat.
Sampai akhirnya pemuda tadi mengatakan kepada raja: โEngkau tidak bisa membunuhku sampai engkau memenuhi syaratku.โ
Raja pun bertanya, โApa syaratnya?โ
Pemuda tersebut berkata, โKumpulkanlah rakyatmu di suatu bukit. Lalu saliblah aku di atas sebuah pelepah. Kemudian ambillah anak panah dari tempat panahku, lalu ucapkanlah, โBismillah robbil ghulam, artinya: dengan menyebut nama Allah Tuhan dari pemuda ini.โ Lalu panahlah aku karena jika engkau melakukan seperti itu, pasti akan membunuhku.โ
Apa yang terjadi selanjutnya adalah si raja mengikuti apa yang dikatakan sang pemuda, sehingga pemuda tersebut mati terkena anak panahnya. Syahid menemui Allah, Tuhannya.
Namun, matinya pemuda beriman ini bukan membuat rakyat takut, tetapi justru malah menjadi berani menampakkan keimanannya..
Maka berbondong bondong mereka mengucapkan: Saya beriman kepada Rabbi Ghulam.
Sampai mereka rela dimasukkan ke dalam parit api yang menyala nyala, demi mempertahankan keimanannya kepada Allah.
Itulah kisah Ashabul Ukhdud, yang diabadikan dalam surat al Buruj.
Pelajarannya: Seringkali iman itu kalau ditekan dan ditindas bukan mengkerut tapi malah membesar bahkan meledak kemana mana. Seperti menepuk air didulang yang nyiprat kemana mana termasuk ke mukanya sendiri.
Iman itu selalu membutuhkan ujian, untuk mengetahui kadar keimanannya, emas atau loyang.
Allah berfirman dalam Surat Al Ankabut, 2:
ุงูุญูุณูุจู ุงููููุงุณู ุงููู ูููุชูุฑููููููุง ุงููู ููููููููููููุง ุงูฐู ููููุง ููููู ู ููุง ููููุชููููููู
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”
Tafsir ringkas Kemenag menyebutkan: Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja pada setiap waktu, tempat dan situasi hanya dengan mengatakan, โKami telah beriman,โ dan mereka tidak diuji dengan hal-hal yang dapat membuktikan hakikat keimanan mereka, yaitu dalam bentuk cobaan-cobaan dan tugas-tugas keagamaan? Tidak, bahkan mereka harus diuji dengan hal-hal seperti itu. Dan apakah mereka menduga demikian, padahal sungguh, Kami bersumpah bahwa Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, yaitu sebelum umat Nabi Muhammad, dengan tugas-tugas keagamaan dan bermacam nikmat dan cobaan, agar tampak perbedaan antara orang-orang yang benar-benar beriman dan berdusta sesuai dengan apa yang diketahuinya berdasarkan ilmu-Nya yang azali. Maka sesungguhnya Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dalam keimanannya dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.
Wallahua’lam bi shawab. []